Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Pikiran kotor


__ADS_3

"Bos, kenapa anda bisa berada di jalanan itu? Lalu apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa tadi banyak mayat di sana?" Tanya Sam sangat penasaran.


"Diamlah, Sam. Jangan banyak tanya, sebaiknya kau fokus saja dengan kemudimu."


"Saya hanya penasaran bos. Anda tahu jalan itu... "


"Saaaam! Apa kau ingin kembali lagi ke sana?"


"Tidak, bos." Jawab Sam cepat.


"Makannya diam, jangan bahas masalah jalan setan itu. Mengerti." Ucap Dav sambil menatap tajam asistennya. Jujur saja, Dav masih terbayang akan sosok perempuan menyeramkan itu, apalagi saat Sam mengungkit jalanan angker tadi, membuat bulu kuduk Dav meremang seketika.


Sam tidak lagi mengeluarkan suaranya, sejujurnya ia juga masih terbayang akan sosok perempuan yang menyeramkan tadi itu, Sam tidak dapat membayangkan bagaimana jika si pengecut yang mereka tinggalkan tadi melihat perempuan itu? Apakah dia akan pingsan? Atau mungkin akan kencing di celana.


***


Elena menatap kedatangan suaminya dengan kening berkerut, ia merasa ada yang aneh dengan wajah suaminya itu yang nampak sedikit tegang.


Melihat sang istri yang tengah berdiri menatapnya, Dav segera mengubah expresi di wajahnya, kemudian memeluk sang istri. "Sayang! Aku merindukanmu." Ucapnya sambil mengeratkan pelukannya membuat Elena sedikit sesak.


"Sayang! Kamu kenapa?" Tanya Elena sambil mengusap punggung suaminya.


"Tidak apa-apa sayang. Aku hanya terlalu merindukanmu." Jawab Dav lalu melepaskan pelukannya, kemudian mencium kening istrinya mesra.


"Bohong! Pasti sudah terjadi sesuatu kan?" Selidik Elena sambil menatap dalam kedua bola mata suaminya.


"Tidak sayang. Untuk apa aku berbohong." Jawab Dav sambil mengelus lembut wajah istrinya.

__ADS_1


"Tapi... Aku lihat wajahmu tadi sangat tegang tidak seperti biasanya."


"Kamu mungkin salah lihat, sayang. Sungguh tidak... "


"Nona tadi kami melihat sosok perempuan yang sangat mengerikan di jalanan angker, jalannya sangat mirip dengan setan Sadako.... "


"Saaaaam, apa kau sudah bosan hidup?" Geram Dav karena si Samson itu kembali mengungkit kejadian tadi.


"Maaf, bos..." Sam menundukkan kepalanya, ia lupa jika sang bos sudah memintanya untuk tidak membahas masalah perempuan mengerikan itu.


"Tunggu! Jalanan angker? Setan Sadako? Jalanan angker mana yang... "


"Sayang, jangan dengarkan ucapan si Samson itu, dia hanya berhalusinasi karena keseringan nonton Sadako." Ucap Dav menyela ucapan istrinya. "Kau pulanglah." Perintahnya kepada Sam.


Sam mengangguk pelan, kemudian ia berpamitan kepada Dav dan juga Elena. "Saya pamit dulu, bos, nona."


"Bos... Sepertinya malam ini saya menginap di sini saja."


"Bukankah kau tidak bisa tidur tanpa kasur kesayanganmu itu."


"Malam ini bisa, bos." Jawab Sam cepat.


"Ckk... Terserah kau saja, kau pilih saja mau tidur di kamar mana. Aku akan pergi ke kamar dulu."


"Baik bos."


Dav merangkul pinggang ramping sang istri, ia kembali mendaratkan kecupannya di kening sang istri. "Ayo ke kamar, sayang." Ajaknya lembut.

__ADS_1


"Ayo." Jawab Elena sambil memperlihatkan senyuman manisnya. "Uncle aku ke atas dulu ya." Pamit Elena yang mendapat anggukkan kepala dari Sam.


Dav dan juga Elena langsung bergegas melangkahkan kedua kakinya, pasangan romantis itu sudah membuat jiwa jomblo Sam bangkit dengan sendirinya, Sam jadi berpikir, bagaimana rasanya jika dia memiliki seorang istri? Apakah akan seromantis bosnya itu? Atau justru lebih romantis dari bosnya. Dengan membayangkannya saja membuat Sam senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Sepertinya bayangan perempuan yang mirip dengan Sadako itu sudah menghilang dari ingatannya.


***


"Sayang. Kamu bersihkan dulu badanmu, aku akan pergi menyiapkan pakaian untukmu." Ucap Elena lembut sambil membuka jas yang di kenakan oleh suaminya.


"Sayang, kenapa hanya jasnya saja yang kamu buka? Kenapa tidak sekalian saja kemejaku juga celanaku hmm." Goda Dav sambil menarik pinggang sang istri mengikis jarak di antara keduanya.


"Ka,, kamu bisa buka sendiri di dalam kamar mandi." Jawab Elena gugup. Wajahnya mulai memerah seperti tomat, detak jantungnya berdegup dengan sangat cepat, hembusan nafas hangat suaminya menyapu seluruh wajahnya.


"Bagaimana kalau kita mandi bareng? Sepertinya akan sangat menyenangkan." Bisik Dav dengan sentuhan nakal tangannya.


"Aku sudah mandi, sayang. Sebaiknya kamu segera bersihkan tubuhmu, nanti setelah itu kita turun untuk makan malam."


"Tapi aku mau di mandiin sama kamu, sayang."


"Sayaaaang... Jangan menggodaku lagi, aku akan menyiapkan pakaian untukmu sekarang. Kamu mandilah nanti keburu malam."


"Baiklah, tapi besok pagi kita mandi bareng, ya." Ucap Dav lalu memberikan kecupan mesranya di bibir manis istri kesayangannya. Lalu setelah itu ia pun segera melangkahkan kedua kakinya pergi ke kamar mandi.


Elena menghembuskan nafasnya panjang, wajahnya kembali memerah ketika dirinya membayangkan mandi berdua dengan suaminya itu. Kejadian semalam tiba-tiba datang menerobos masuk ke dalam otak cantiknya, membuat seluruh tubuhnya terasa panas dingin. "Astagaa... Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku jadi berpikiran mesum seperti ini? Sadarlah Elena..." Ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir pikiran kotornya. "Tidak apa-apa, Elena. Tidak ada yang salah dengan pikiranmu, bukankah Dav adalah suamimu sendiri? Jadi tidak masalah bukan jika kamu membayangkannya?" Ucapnya kembali.


"Ah sebaiknya aku segera menyiapkan pakaian Dav, dari pada harus berpikiran mesum terus. Sangat memalukan." Elena berusaha untuk menyingkirkan pikiran kotornya, ia menarik nafasnya dalam, lalu membuangnya secara perlahan, Kemudian ia berjalan menuju walk in closet, untuk mengambil pakaian suaminya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2