Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Bos gak punya hati


__ADS_3

Dav kembali lagi ke dalam kamarnya, benda yang ia cari ternyata hanya tinggal satu biji. Elena yang melihat Dav pun langsung menghampirinya. "Berikan aku pembalutnya." Pinta Elena terluhat tidak sabaran.


"Hanya ada satu, sayang." Ucap Dav sambil memberikan pembalut itu kepada istri kecilnya.


"Tersisa satu."Gumam Elena pelan. "Tidak apa_apa. Nanti aku bisa beli lagi." Jawab Elena sambil mengambil pembalut itu.


"Yasudah, biar aku yang belikan." Ucap Dav lalu mengecup kening istrinya lembut.


"Tidak apa_apa, aku bisa beli sendiri, Dav."


"Sayang! Kamu selalu lupa dengan panggilanmu."


"Maaf."

__ADS_1


"Kali ini aku tidak akan perhitungan sama kamu." Ucap Dav sambil menatap istri kecilnya. "Buat perhitungan pun percuma. Yang ada aku hanya akan tersiksa." Batin Dav sedikit kesal menerima kenyataan bahwa istrinya itu sedang kedatangan tamu bulanannya.


"Emm kalau begitu aku pergi dulu." Elena langsung pergi melangkahkan kedua kakinya menuju kamar mandi. Sementara, Dav. Langsung melangkahkan kakinya menuju nakas di mana ia simpan benda pipih nya.


Dav segera meraih benda pipih itu, kemudian ia menghubungi asiatennya Sam. "Belikan aku pembalut." Perintahnya tanpa basa basi membuat Sam langsung membolakan kedua bola matanya sempurna di seberang telpon sana.


"Bos. Apa anda sedang mengigau?" Tanya Sam membuat Dav berdecih kesal.


"Tidak. Istriku sedang kedatangan tamu bulanannya. Stok pembalutnya habis. Jadi aku memintamu untuk membelikannya. Mengerti."


"Ini sudah jam sepuluh malam. Jika aku yang membelikannya. Maka akan memakan waktu yang lama." Sela Dav kesal. "Aku tunggu lima belas menit mulai dari sekarang. Mengerti." Setelah mengatakan hal itu, Dav langsung memutuskan sambungannya secara sepihak, ia kembali menaruh ponselnya di atas nakas. Kemudian ia kembali melangkahkan kakinya keluar. "Sepertinya aku harus segera mendinginkan otakku dan juga menenangkan juniorku sekarang." Batinnya sambil mempercepat langkah kakinya menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar yang dulu di tempati oleh Elena.


***

__ADS_1


Sam menghela nafasnya kasar, ia juga mengusap wajahnya frustasi, sepanjang perjalanan menuju salah satu supermarket yang buka dua puluh empat jam, Sam terus menggerutu karena mendapat perintah yang tidak masuk akal dari bosnya tersebut.


Sam sama sekali tidak mengerti dengan sikap si mafia bucin itu, kenapa bisa dia menyuruhnya untuk membelikan pembalut untuk istri tercintanya? Astaga itu pasti akan sangat memalukan.


Namun jika tidak di laksanakan, maka jangan harap Sam mendapatkan gajinya dengan utuh.


"Nasib jadi asisten begini amat, ya. Punya bos gak punya hati, menyuruhku yang jomblo sejati ini untuk membeli pembalut! Apa yang akan orang_orang pikirkan nanti? Kekasih pun tidak punya. Tapi aku harus membeli benda langka itu." Ucapnya sambil fokus dengan setir kemudinya.


Sam memarkirkan mobilnya ketika ia sudah tiba di salah satu supermarket yang ada di kota itu. Ia langsung turun dari mobilnya, lalu berjalan masuk ke dalam supermarket tersebut. Ia langsung mencari benda langka itu."Aku harus cepat_cepat ambil benda itu sebelum ada yang melihatnya." Batin Sam ketika ia melihat tumpukkan benda yang sudah lima menit ia cari.


Sam perlahan mendekati benda itu, ternyata banyak sekali merknya membuat Sam bingung. "Merk apa yang di gunakan istri si bos? Ah sebaiknya aku ambil semuanya saja." Ucapnya lalu mengambil semua merk pembalut yang ada di hadapannya. Setelah selesai, Sam langsung berjalan menuju kasir, lalu menyerahkan semua merk pembalut itu. "Cepat hitung semuanya." Perintahnya terkesan dingin karena si kasir itu terus saja menatap dirinya.


"Ah, iya. Maaf." Jawab si kasir perempuan itu sedikit gugup. Kemudian si kasir itu pun segera menghitung semuanya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2