
Setelah selesai memakai baju tidurnya, Elena lanngsung merebahkan dirinya di atas ranjang. Ia menatap langit_langit kamar itu. Elena tersenyum kecut, ia masih tak percaya jika dirinya sekarang sudah berganti setatus menjadi seorang istri. Elena tidak pernah berpikir jika dirinya akan menikah dengan orang yang sudah merawatnya dan juga orang yang sudah ia anggap sebagai pamannya sendiri.
Namun, Elena tidak mrmungkiri jika Elena sudah mulai membuka hatinya untuk suaminya itu. Bahkan secara perlahan Elena dapat melupakan Deon dari ingatannya. "Secepat inikah aku terjatuh ke dalam pesonanya? Apakah aku perempuan yang mudah jatuh hati kepada laki_laki lain?"Elena bertanya_tanya sendiri dalam hatinya. Ia merasa bingung, mengapa dirinya mudah sekali jatuh dalam pesona Dav? Apakah karena Dav selalu menggodanya? Ataukah karena dirinya selalu bertemu dengan Dav setiap hari? Ah tidak mungkin.
"Ah menyebalkan. Kenapa aku tidak dapat menghentikan debaran ini? Sangat konyol jika aku jatuh dalam pesonanya karena alasan ketemu setiap hari. Mengapa tidak sedari dulu? Bukankah aku sudah lama tinggal bersamanya? Kenapa dulu aku tidak pernah berdebar seperti ini? Kenapa aku tidak terpesona oleh ketampanannya? Dan kenapa justru aku malah jatuh cinta kepada laki_laki lain? Ah sudahlah. Semakin di pikirkan semakin membuatku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Lebih baik aku tidur sebelum si mesum itu selesai mandinya."Ucap Elena sambil menarik selimut.
Tanpa menunggu lama, mata Elena sudah terrutup rapat, hembusan nafas yang teratur menandakan bahwa dirinya sudah berada di dalam mimpi indahnya.
__ADS_1
***
Setelah selesai dengan ritual mandi air dinginnya, akhirnya Dav keluar dari kamar mandi. Ia berjalan dengan handuk kecil yang melilit di pinggangnya. Rambutnya yang basah menambah nilai ketampanannya. Dav menghela nafasnya pelan, ia menatap Elena yang sudah pulas di atas ranjangnya.
"Ternyata dia sudah tidur." Ucap Dav berdiri di samping ranjang. "Malangnya nasibku, sudah memiliki istri, tapi harus mandi air dingin juga. Sementara istriku dengan tenangnya meninggalkanku tidur. Ah sudahlah, ini juga kesalahanku karena menerima persyaratannya."Dav kembali berucap, ia merasa sedikit menyesal karena sudah menerima persyaratan yang di minta Elena. Sekarang ia harus menderita karena persyaratan sialan itu.
Dav berjalan mengambil piyamanya, ia segera memakainya, kemudian ia kembali berjalan menuju tempat tidurnya. Dav langsunh berbaring di samping istri kecilnya itu, sebelum ia menyusul sang istri ke alam mimpi, ia menyempatkan diri untuk mengecup kening istrinya. "Good night, baby. Semoga mimpi indah."Bisiknya lembut. Kemudian Dav pun memeluk sang istri, lalu memejamkan kedua bola matanya secara perlahan.
__ADS_1
***
Alisha menangis sejadi_jadinya. Ia sungguh tidak menyangka jika laki_laki yang sangat di cintainya itu, sudah resmi menjadi suami perempuan lain. Dan lebih tidak menyangka lagi, perempuan itu adalah Elena.
Sakit, itulah yang di rasakan Alisha saat ini. Ia semakin membenci Elena, karena bagi Alisha Elena adalah perempuan munafik yang sudah merebut kekasihnya. "Dav... Mengapa kamu tega menyakitiku hingga seperti ini? Mengapa kamu menikahi dia yang jelas_jelas tidak mencintaimu, Dav. Seharusnya aku yang kamu nikahi, bukan dia...."Teriak Alisha penuh amarah. "Aku tidak akan membiarkan kalian berdua bahagia, smenetara aku menderita. Tunggu saja, aku pasti akan melenyapkanmu, Elena." Ucapnya penuh dengan rasa dendam.
Alisha berdiri, ia berjalan menuju nakas yang terdapat bingkai photo dirinya dengan Dav. Alisha meraih bingkai photo itu, kemudian ia tersenyum. "Kamu hanya boleh menjadi milikku, Dav. Aku tidak perduli meskipun kamu sekarang sudah menikah, aku akan tetap berusaha untuk mendapatkanmu kembali. Aku bersumpah, Dav. Aku akan membuatmu kembali melihatku."Ucapnya lalu mencium photo Dav. "Elena, karena kamu sudah berani mengambil pria milikku, maka mulai sekarang, kamu adalah musuhku, dan sebagai musuhku, kamu harus lenyap dari muka bumi ini."
__ADS_1
Bersambung.