
"Tentu saja aku tahu sayang. Apa pun kesukaanmu, semuanya aku tahu." Ucap Dav lalu mengecup keningnya mesra. Dav menatap lekat wajah cantik sang istri yang terlihat natural itu, lalu tangannya terulur dan membelai lembut wajahnya. "Sayang!" Panggil Dav lembut.
"Apa sayang?" Jawab Elena terdengar begitu halua dan lembut.
Dav menghela nafasnya panjang, sejujurnya ia ingin membicarakan sesuatu yang penting kepada istrinya itu, namun ternyata keberaniannya hilang ketika rasa takut jika Elena akan membencinya datang memenuhi isi kepalanya. "Tidak apa-apa sayang, hanya manggil saja." Ucapnya di iringi dengan kekehannya membuat Elena menggelengkan kepalanya pelan.
"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kamu menghela nafas sayang?" Tanya Elena sangat yakin memang ada hal yang ingin di sampaikan oleh suaminya itu.
"Aku hanya merasa lelah sayang," jawab Dav tetap tenang seperti biasanya.
__ADS_1
"Benarkah?" Elena masih tidak percaya, ia menatap dalam kedua bola mata suaminya mencari tahu apakah suaminya itu berkata jujur atau tidak. "Kamu berbohong sayang. Buktinya bola matamu berkedip terus hmm." Ucap Elena tanpa mengalihkan tatapannya dari kedua bola mata suaminya itu.
Dav tersenyum, sepertinya kali ini ia memang harus mengungkapkan jati dirinya kepada sang istri. "Kamu memang benar sayang, ada hal yang sangat penting yang harus aku beritahukan sama kamu, tapi sebelum aku memberitahukanmu, aku harap kamu tidak akan membenciku dan tidak akan pernah meninggalkanku. Janji!"
"Baiklah aku janji, jadi hal apa yang ingin kamu beritahukan sama aku?" Tanya Elena sangat penasaran.
Dav kembali menghela nafasnya panjang, kemudian ia duduk di kursi yang berada di hadapan sang istri, Dav menatap lekat wajah Elena, kedua tangannya menggenggam erat tangan istrinya. "Sebenarnya, aku adalah seorang bos mafia di negara ini. Aku adalah pemimpin geng Strongest Demon, geng mafia yang paling di takuti di negara ini juga hampir di seluruh dunia." Ucap Dav membuat Elena terkejut, ia tidak menyangka jika suaminya itu adalah seorang bos mafia. Namun ntah mengapa Elena tidak merasa takut sama sekali. Mungkin karena dirinya sudah jatuh cinta kepada suaminya itu.
"Apakah kamu tahu berapa banyak nyawa yang sudah di ambil oleh iblis itu?" Dav kembali bertanya kepada istrinya, istrinya hanya menggelengkan kepalanya pelan seperti sebelumnya. "Aku sendiri pun tidak tahu." Kekehnya.
__ADS_1
"Elena apa sekarang kamu mulai takut denganku? Apa kamu mulai membenciku? Apa kamu mulai berpikir untuk meninggalkanku?" Tanya Dav dengan perasaan yang begitu khawatir.
Elena tersenyum, ia mengusap lembut tangan suaminya memberikan kenyamanan dan ketenangan untuk suaminya itu. "Kenapa aku harus membencimu? Kenapa aku harus meninggalkanmu? Kenapa aku harus takut sama kamu?" Elena berbalik nanya dengan lembut.
"Karena aku bukanlah laki-laki yang baik, tanganku sudah berlumuran darah, mungkin sudah ratusan nyawa sudah aku ambil dengan tangan ini." Ucap Dav di iringi dengan hembusan nafas beratnya.
"Sayang! Kamu itu suamiku sekarang, baik buruknya kamu, aku tidak mungkin membencimu apalagi meninggalkanmu. Aku sering mendengar tentang mafia, aku tahu apa saja yang mereka kerjakan, dalam dunia hitam itu, membunuh sudah menjadi hal yang biasa, mereka yang kuatlah yang bertahan." Elena kembali memperlihatkan senyuman manisnya, ia beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia menghampiri sang suami. "Sayang! Manusia hidup di dunia ini tidak ada yang sempurna, aku percaya sama kamu, kamu tidak mungkin membunuh seseorang tanpa sebab bukan? Apalagi dalam dunia hitam, dunia yang penuh dengan kejahatan."
Dav yang mendengar ucapan istrinya pun seketika melebarkan senyumannya, ia sungguh tidak menyangka jika istrinya dapat berkata seperti itu, setiap kalimat yang di lontarkan oleh istrinya benar-benar membuat Dav terharu sekaligus bahagia. Rasa cemas dan juga takut yang selama ini menghantuinya lenyap seketika.
__ADS_1
Bersambung.