
Dav sudah terbangun dari tidurnya, ia mulai membuka kedua bola matanya secara perlahan, ia menatap sang istri yang masih tertidur dengan lelap dalam pelukannya. Dav tersenyum, kemudian ia mengecup kening sang istri mesra. "Sayang, ayo bangun. Ini sudah petang, loh." Bisiknya membuat tidur nyenyak sang istri terganggu.
"Hmm memangnya sudah jam berapa sekarang?" Tanya sang istri dengan suara khas bangun tidurnya, namun kedua bola matanya masih terpejam dengan sempurna.
"Sudah pukul setengah enam sore, sayang." jawab Dav sambil mengelus wajah sang istri dengan lembut.
"Sebentar lagi, ya. Masih ngantuk."
"Baiklah, sayang. Kamu tidur lagi sebentar. Aku akan pergi ke ruang kerjaku untuk menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda tadi. Ok." Ucap Dav dengan lembut dan juga halus.
Elena mengangguk pelan tanpa berniat untuk Membuka kedua bola matanya, ia juga melepaskan pelukan suaminya, membiarkan sang suami untuk pergi ke ruang kerjanya.
__ADS_1
Sebelum Dav pergi, ia mengecup kembali kening sang istri dengan mesra, "aku pergi dulu ya sayang." Pemitnya sambil mengusap lembut pucuk kepala istrinya. Elena hanya menganggukkan kepalanya pelan, lalu setelah itu Dav pun beranjak dari tempat tidurnya, ia terlebih dahulu pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya supaya lebih fresh dan segar.
Sepuluh menit kemudian, Dav sudah keluar dari dalam kamar mandinya, wajahnya yang basah semakin menambah kadar ketampanannya. Dav melirik sekilas ke arah sang istri, ia tersenyum kecil saat ia melihat istrinya masih tertidur pulas. "Kalau tidak ada kerjaan, aku pasti akan ikut tidur lagi dengannya. Sayangnya aku masih ada kerjaan." Gumamnya sambil menghela nafas beratnya.
Dav perlahan mulai melangkahkan kedua kakinya menuju pintu kamar, lalu ia meraih handle pintu itu dan membukanya secara perlahan. Setelah pintu terbuka, ia pun segera melangkahk keluar, tak lupa ia juga menutup kembali pintu tersebut dengan sangat pelan, karena ia tidak ingin tidur nyenyak sang istri terganggu gara-gara mendengar suara pintu itu.
Dav kembali melangkahkan kedua kakinya menuruni anak tangga, di lantau bawah terlihat ada kepala pelayan yang tengah mengobrol dengan seseorang membuat Dav penasaran.
Dav langsung menghampiri kepala pelayan itu, ia ingin melihat siapa yang sedang mengobrol dengan kepala pelayan itu.
"Siapa yang mengizinkan dia masuk?" Tanya Dav dingin ketika melihat siapa yang sedang mengobrol dengan si kepala pelayan itu.
__ADS_1
"Maafkan sa,,, saya, tuan. Nona Alisha.... "
"Dav! Jangan menakutinya. Aku sendiri yang memaksa masuk ke sini." Sela Alisha sambil menatap lekat wajah tampan mantan kekasihnya itu. "Dav. Aku sangat merindukanmu." Lirihnya berniat untuk mendekati Dav, namun niatnya terhenti ketika ia mendekat suara dingin dari mantan kekasihnya itu.
"Pergilah dari sini, aku tidak ada waktu untuk meladenimu, Alisha."
"Dav.... "
"Jangan memancing emosiku, Alisha. Satu lagi jangan muncul lagi di hadapanku, dan jangan pernah menginjakkan kakimu di tempatku, mengerti."Tegas Dav membuat hati Alisha hancur seketika. "Pak antar dia keluar dari sini." Perintahnya kepada si kepala pelayan. Setelah itu, Dav langsung melangkahkan kedua kakinya menuju ruang kerjanya meninggalkan Alisha yang hanya dapat menatapnya dengan sendu.
"Silahkan, nona."
__ADS_1
"Menjauh dariku. Aku bisa keluar sendiri." Ucap Alisha sambil menatap nyalang si kepala pelayan itu. "Dav! Sebentar lagi kamu akan kembali padaku. Tunggu saja sampai Elena mati semua yang dia miliki akan jatuh ke tanganku." Batin Alisha sambil melangkahkan kedua kakinya keluar dari mansion mantan kekasihnya itu.
Bersambung.