
Dav menurunkan sang istri ketika ia sudah tiba di tempat yang sudah di persiapkan untuk makan malam romantis mereka. Dav berjalan dan menarik kursi untuk sang istri. "Duduklah sayang." Ucap Dav kepada istrinya yang masih termangu di tempatnya menatap indahnya ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya.
Pantai itu begitu indah, di tambah dengan berbagai macam bunga yang tersusun rapi di sepanjang jalan menuju meja makan itu, juga lilin-lilin kecil yang membentuk love yang mengelilingi meja makan tersebut menambah kesan romantis bagi pasangan itu.
"Sayang, apa kamu menyukainya?" Dav kembali melangkahkan kedua kakinya menghampiri Elena, tangannya terulur merapikan anak rambut istrinya yang tertiup angin dan menghalangi wajah cantiknya.
Elena tersenyum, ia menganggukkan kepalanya lalu berkata. "Sangat menyukainya. Ini terlalu indah untuk di katakan." Ucapnya yang mendapat kekehan pelan dari suaminya itu.
"Apa semua ini lebih indah dari wajahku, sayang?" Tanya Dav sambil menangkup wajah cantik sang istri dan membuatnya berhadapan langsung dengannya. "Aku tidak suka kalau kamu berbicara tanpa menatap wajahku hmm." Sambung Dav membuat Elena tersenyum lebar.
"Kamu cemburu sama semua ini?" Tanya Elena sambil mencubit gemas hidung mancung suaminya.
__ADS_1
"Tentu. Kamu hanya boleh mengagumiku, dan tatapan matamu hanya boleh untukku saja. Aku tidak suka kalau kamu lebih mengagumi semua ini daripada wajah tampan suamimu ini. Mengerti." Ucap Dav yang mendapat gelengan kepala dari istri tercintanya itu. Sebegitu bucinnya kah suaminya itu? Bahkan dia cemburu dengan ciptaan Tuhan yang ada di hadapannya sekarang.
"Sayang! Kamu terlalu berlebihan. Kalau kamu cemburu dengan semua ini, jadi untuk apa kamu menyiapkannya?" Elena menatap gemas suaminya, sementara sang suami hanya dapat terkekeh pelan. Yang di ucapkan istrinya memang benar, Dav memang sangat berlebihan, tingkat bucinnya itu sudah melebihi tingginya menara Eiffel yang ada di Paris.
"Sudahlah, sebaiknya kita makan dulu, nanti kita lanjut lagi ngobrolnya." Elena menarik tangan suaminya, kemudian ia duduk begitupun juga dengan Dav. Keduanya duduk saling berhadapan.
Elena kembali di buat kagum dengan hidangan special yang ada di hadapannya. Suaminya itu benar-benar telah mempersiapkan segalanya dengan baik, bahkan makanan favorit Elena pun tersusun dengan begitu indah, sangat sayang jika di makan.
"Ada ap sayang? Apa kamu tidak suka dengan makanannya?" Tanya Dav ketika Elena hanya menatap makanan itu tanpa berniat untuk menyentuhnya.
"Sayang! Aku siapkan semua ini untuk kamu makan, bukan untuk di lihat saja." Dav segera mengambil makanan favorit sang istri yang sengaja di bentuk seperti love itu, kemudian ia memberikannya kepada sang istri. "Makanlah, sayang." Ucapnya lembut di iringi dengan senyuman manis yang tersungging dari sudut bibirnya.
__ADS_1
Elena menghela nafasnya pelan, ah rasanya ia tidak rela memakan makanan yang indah itu, namun ia juga tidak mungkin hanya menatap makanan itu sementara perutnya sudah berbunyi memintanya untuk di isi.
"Sayang! Kenapa kamu melamun hmm? Ayo buka mulutmu, biar aku menyuapimu." Dav kembali bersuara, ia menatap sang istri sambil menyodorkan satu sendok makanan favorit istrinya.
"Aku bisa makan sendiri, sayang. Kamu tidak perlu menyuapiku." Tolak Elena dengan halus.
"Tapi, aku ingin menyuapimu. Jadi tidak ada penolakan. Mengerti." Tegas Dav membuat Elena terpaksa membuka mulutnya dengan lebar.
Dav tersenyum, dengan segera ia pun memasukan makanan itu ke dalam mulut sang istri. "Bagaimana? Apakah rasanya sama, sayang?" Tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Elena.
"Sama persis. Apakah ini di masak oleh orang yang sama? Kenapa rasanya bisa sama dengan yang ku makan dulu?" Elena berbalik nanya sambil menatap wajah suaminya.
__ADS_1
Dav kembali menyunggingkan senyumannya, ia kembali menyendok makanan favorit istrinta lalu berkata. "Tentu saja, sayang. Bukankah sudah ku bilang, apapun yang kamu inginkan aku pasti akan menurutinya, termasuk rasa makanan favoritmu ini." Jawab Dav membuat Elena merasa benar-benar beruntung memiliki suami seperti dirinya.
Bersambung.