Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Honeymoon


__ADS_3

Elena menelisik setiap sudut villa itu. Interior Villa itu begitu indah dan sangat mewah di tambah lagi letak Villa itu berada di bibir pantai yang membuat Villa itu semakin indah dan nyaman.


Elena tersenyum, ia sangat puas dengan villa itu, Villa yang menurutnya sangat indah dan nyaman.


"Apakah kamu suka Villa ini, sayang?" Tanya Dav sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Sangat suka." Jawab Elena sambil menatap indahnya pantai dari jendela villa itu.


"Baguslah kalau kamu suka." Ucap Dav dengan nada bicara seperti biasanya, halus dan lembut.


"Terima kasih karena kamu sudah membawaku ke tempat yang indah ini. Aku sangat bahagia sekali." Elena berkata sambil mengelus tangan suaminya.


Dav tersenyum, lalu mengecup ceruk leher sang istri mesra. "Semua akan aku lakukan agar kamu bahagia, sayang. Bahkan jika kamu ingin membeli Villa ini, aku pasti akan membelikannya untukmu. Jadi kamu tidak perlu berterima kasih mengerti." Tegas Dav membuat Elena terkekeh dengan pelan. Ah seprtinya ia lupa jika suami bucinnya itu tidak suka mendengar kata terima kasih dari mulut manisnya itu. Karena bagi Dav, semua yang ia lakukan memang sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan sebagai seseorang yang begitu mencintai istrinya. Apapun ia akan lakukan demi membuat istri tercintanya bahagia.


Elena melepaskan lingkaran tangan sang suami, kemudian ia berbalik dan menatap lekat wajah suaminya itu. "Aku mengerti, sayang." Jawabnya sambil mencubit gemas wajah tampan suaminya. "Dan kamu tidak perlu membelikan aku Villa ini, karena aku udah sangat nyaman tinggal di mansion kita. Mengerti." Sambung Elena yang mendapat kecupan hangat dari suami bucinnya itu.


"Baiklah, sayang. Sekarang kamu istirahat dulu ya. Kamu pasti sangat lelah bukan?" Ucap Dav sambil mengelus lembut wajah sang istri.

__ADS_1


"Emm baiklah, kalau begitu aku mau ke kamar mandi dulu badanku rasanya sangat lengket."


"Mau aku bantu bersihkan?" Tanya Dav dengan kedipan matanya yang nakal.


"NO!" Tegas Elena sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Aku hanya becanda sayang. Yasudah kamu mandi dulu sana, jangan sampai aku khilap da memakanmu saat ini juga." Ucap Dav membuat Elena langsung mencubit perut sispactnya itu. "Aaaaw... Aku hanya becanda baby. Tapi... Kalau kamu mau juga tidak masalah, sayang."


"SAYANG!!!" Elena menatap kesal suaminya namun yang di tatap justru menampilkan wajah tanpa dosanya. "Kamu gak lihat ada Jhon di sana hah? Ish ngeselin banget sih. Sudahlah aku mau mandi dulu." Ucap Elena dengan kesal. Tanpa menunggu jawaban suaminya, Elena pin langsung bergegas melangkahkan kedua kakinya menaiki anak tangga.


"Sangat menggemaskan." Batin Dav sambil menatap kepergian istri tercintanya itu.


"Ekhmm... Kau boleh pulang, sekarang." Perintah Dav sambil menatap tidak suka kepada Jhon si laki-laki muda yang memiliki wajah tampan itu.


"Baik, tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Jawab Jhon sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada bos dingin sekaligus bucin itu. Dav hanya berdehem pelan, lalu setelah itu, Jhon pun keluar dari Villa tersebut.


***

__ADS_1


Dav berjalan menghampiri istrinya yang saat ini tengah bergulat dengan benda pipih yang berada di tangannya. Elena yang terlalu fokus dengan benda pipih itu tidak menyadari kehadiran suaminya yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya dengan kedua tangan di lipat di dadanya menatap sang istri dengan kesal.


"Ekhmm... Sayang, ini bulan madu kita. Kenapa kamu malah sibuk dengan ponselmu itu?" Ucap Dav membuat Elena sedikit terkejut.


"Astaga, sayang. Kamu mengejutkanku tahu gak." Gerutu Elena sambil mengalihkan pandangannya dari benda pipih itu. "Maaf aku sedang menanyakan keadaan Sindy kepada uncle Sam, aku.... "


"Sayang! Kamu tidak perlu mengkhawatirkan dia. Dia baik-baik saja. Sam sudah menyuruh seseorang untuk merawatnya. Mengerti." Tegas Dav sambil merebut ponsel istrinya. "Fokuslah dengan bulan madu kita, sayang. Jangan memikirkan apapun lagi. Mengerti." Sambung Dav sambil mencium kening istrinya.


"Baiklah, aku mengerti." Jawab Elena dengan senyuman manis yang mengembang di sudut bibirnya.


Dav mengusap lembut pipi mulus sang istri, kemudian ia mengecup sekilas bibir manis itu, lalu berkata. "Sekarang kita turun dulu, aku sudah menyuruh seseorang untuk menyiapkan makan malam kita di luar. Aku sangat yakin kamu pasti menyukainya, sayang."


"Emm baiklah, kebetulan aku juga sudah lapar." Jawab Elena sambil beranjak dari tempat duduknya berniat untuk melangkahkan kedua kakinya, namun niatnya terhenti ketika sang suami tiba-tiba mengangkat tubuhnya dengan gerakkan yang sangat cepat.


"Sayang! Aku bisa jalan sendiri."


"Aku tahu, tapi aku ingin menggendongmu, jadi kamu tidak boleh menolaknya, mengerti." Tegas Dav sambil melangkahkan kedua kakinya meninggalkan kamar tersebut. Elena hanya dapat menghela nafasnya panjang, ia juga tidak ingin berdebat dengan suami bucinnya itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2