
"Jangan takut sayang, aku tidak akan menyakitimu." Deon kembali berkata tanpa mengubah nada suaranya, tangannya masih mengelus lembut wajah cantik Elena yang terlihat semakin ketakutan.
Elena menepis tangan Deon dengan kasar, ia melirik ke arah pintu mobil berniat untuk membukanya, "Saatnya aku kabur, Tuhan... Tolonglah aku." Batin Elena sambil meraih pintu mobil dan berharap pintu mobil itu tidak terkunci.
Sepertinya Tuhan mendengarkan doanya, pintu mobil itu tidak terkunci, Elena melirik ke arah Deon, dan ternyata Deon sedang menatap layar ponselnya, dan ini adalah kesempatan Elena untuk kabur. Dengan penuh semangatnya Elena langsung membuka pintu mobil itu dengan lebar, lalu keluar dengan cepat, membuat Deon menggeram penuh amarah.
"Elenaaaa..... Jangan kabur... " Teriak Deon sambil membuka pintu mobilnya, kemudian ia keluar dan mengejar Elena yang sudah melarikan diri. "Elena...Kamu mau kemana sayang? Ini sudah malam? Kembalilah." Deon kembali berteriak sambil tetap mengejar Elena.
Elena terus berlari, ia tidak perduli jika hari sudah malam, dan jalanan pun terlihat sangat gelap hanya cahaya lampu yang redup yang menerangi jalanan besar itu.
"Bodoh!! Kenapa kalian diam saja hah? Cepat kejar dia, bodoh." Bentak Deon dengan penuh amarah kepada anak buahnya yang baru saja turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Baik, bos." Jawab mereka serempak.
"Kalau sampai kalian tidak bisa membawanya kembali, jangan harap kalian bisa hidup lagi. Mengerti." Tegas Deon sebelum dia kembali berlari dan mengejar Elena.
Para anak buahnya hanya dapat menganggukkan kepalanya, mereka langsung berpencar untuk mengejar Elena dan membawanya kepada bosnya.
"Elena... Kembalilah, di sini sangat berbahaya untukmu, Elen." Deon kembali berteriak, bayangan tubuh Elena masih terlihat oleh kedua bola matanya. Sementara itu, Elena yang mendengar teriakan Deon terus berlari kencang, dalam hati ia terus merapalkan berbagai macam doa, berharap agar Deon tidak lagi mengejarnya, namun sepertinya harapan Elena harus musnah, karena bukan hanya Deon yang sedang mengejarnya, beberapa orang berbadan kekar dengan wajah sangar pun ikut mengejarnya.
"Aaaaw.... " Ringis Elena ketika kakinya tidak sengaja menginjak sesuatu yang terasa begitu menyakitkan. "Dav... Cepat selamatkan aku." Batin Elena sambil terus berlari meskipun telapak kakinya terasa sangat menyakitkan.
"Sayang mau lari kemana lagi hmm?" Deon menarik tangan elena dengan kuat sehingga membuat tubuh Elena langsung terjatuh ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Le,,, lepaskan aku... Aku mohon... " Pinta Elena dengan nafas terengah-engah.
"Jangan bermimpi. Sebaiknya kamu menurut, jangan buat aku marah." Tegas Deon sambil mengangkat tubuh Elena. "Kali ini aku akan memaafkanmu, Elena, tapi jika lain kali kamu melarikan diri lagi, maka jangan salahkan aku, jika aku berbuat sesuatu terhadapmu. Mengerti." Deon kembali berucap, nadanya terdengar begitu dingin dan menakutkan.
"Bos gawat.... Kita sudah di kepung oleh anggota Strongest Demon. Yang lainnya sudah mereka musnahkan hanya kita yang tersisa." Lapor salah satu anak buah Deon dengan tergesa-gesa.
"Sialan!!! Sebaiknya kita segera pergi dari sini." Geram Deon sambil mempercepat langkah kakinya menuju mobil miliknya.
Deon langsung memasukan Elena ke dalam mobilnya, lalu ia pun segera masuk dan mengunci pintu mobilnya, "Pakailah sabuk pengamanmu, sayang." Perintah Deon lembut. Elenat tak menggubrisnya, ia justru meraih pintu mobil, namun masih sayangnya pintu mobil itu sudah di kunci oleh Deon. "Mau kabur hmm? Sepertinya kamu harus di berikan hukuman yang akan membuatmu menyesal." Ucap Deon dengan seringai yang menyeramkan.
"Lihatlah, bagaimana aku akan menghukummu nanti." Sambung Deon membuat Elena ketakutan. Deon kembali menyeringai, seringai yang baru pertama kali di lihat oleh Elena selama ini. Deon yang berada di sampingnya itu benar-benar seperti orang asing. Begitu menakutkan. Deon melajukan kendaraannya dengan sangat cepat, di belakangnya ada empat mobil anak buahnya yang bertugas untuk mengawal dirinya.
__ADS_1
Sementara itu, mobil yang di kendarai oleh Sam, sudah berada di belakang mobil anak buahnya, Dav yang duduk di samping Sam, mulai menerbitkan senyumannya.
Bersambung.