
Setelah dua puluh lima menit, akhirnya Elena keluar dari dalam kamar mandinya. Matanya menelisik mencari keberadaan suaminya. "Hmm kemana dia? Apakah dia sudah turun ke bawah?" Elena bertanya sendirian sambil melangkahkan kedua kakinya menuju walk in closet.
Elena membuka pintu lemarinya, kemudian ia mengambil pakaian santai yang biasa ia kenakan sehari-hari. Elena mulai melepaskan handuknya, lalu ia mulai memakai cd dan juga branya dengan santai sampai ia tidak menyadari jika di belakangnya sudah berdiri suaminya yang seperti jelangkung itu.
"Wangi sekali." Bisik Dav sambil menciumi ceruk leher putih sang istri. "Aku sangat menyukainya sayang." Bisiknya kembali sambil memeluk erat tubuh sang istri dari belakang.
Elena berjingkat kaget, ia benar-benar terkejur dengan kehadiran sang suami yang seperti jelangkung itu. "Sayang..... Kamu ngagetin aku tahu gak." Ucap Elena sambil mencubit gemas lengan suaminya. "Lepaskan tanganmu, aku mau pakai baju." Pinta Elena dengan wajah memerah seperti tomat. Tubuhnya terasa panas, sentuhan suaminya itu telah membangkitkan gelenyar aneh dalam dirinya. "Astaga.... sadar Elena sadar. Buang semua pikiran kotormu itu." Teriak Elena dalam hati.
"Tidak usah pake baju sayang, aku suka kamu yang seperti ini hmmm." Ucap Dav tanpa melepaskan pelukannya.
"Sayang.... Jangan seperti ini, aku,,, aku benar-benar tidak nyaman." Lirih Elena sambil berusah untuk menyingkirkan tangan suaminya dari perut ratanya itu.
"Kenapa? aku suka seperti ini." Bisik Dav sambil menciumi leher putih sang istri yang terdapat beberapa bercak merah akibat ulahnya semalam.
__ADS_1
"Tapi aku tidak suka. Jadi lepaskan aku sebelum aku benar-benar marah." Tegas Elena berusaha untuk tetap tenang, walau sebenarnya ia merasa gelisah karena sentuhan yang di lakukan oleh suaminya itu.
Dav melepaskan pelukannya, ia membalikkan tubuh istrinya agar berhadapan langsung dengan dirinya. "Sayang! kenapa kamu galak sekali sama suamimu sendiri?" Ucapnya seperti anak kecil yang di omeli oleh ibunya.
Elena menahan tawanya agar tidak meledak, jujur saja wajah yang di tampilkan oleh suaminya itu benar-benar membuatnya gemas, namun ketika melihat tatapan mata sang suami yang menatap intens area sensitifnya membuar Elena merasa kesal. "Mesuuuum.... Apa yang kamu lihat." Ucapnya sambil menjewer telinga suaminya.
"Aww.. sakit Sayang, bukankah semalam aku sudah melihat semuanya! Jadi tidak masalah bukan jika aku melihatnya lagi." Ucap Dav sambil menggoda istrinya dengan sentuhan-sentuhan nakalnya.
Tubuh Elena semakin tak karuan, hawa panas mulai menjalar ke seluruh tubuhnya, wajah Elena semakin memerah ketika melihat suaminya hanya mengenakan handuk kecil yang menutupi bagian bawahnya saja.
Dav tersenyum senang, ia menangkup wajah sang istri agar kembali berhadapan langsung dengannya. "Ini semua gara-gara kamu, sayang. Kamu sudah membuat juniorku bangun, tapi kamu tidak mau bertanggung jawab. Alhasil aku harus mandi air dingin untuk menenangkannya." Ucap Dav lembut kembali memberikan sentuhan-sentuhan nakalnya di seluruh tubuh istri kesayangannya itu.
"Emmh... Hentikan sayang, jangan seperti ini." Lirih Elena sambil menatap lekat wajah suaminya. "Kamu tahu, itu,,, itu aku masih sakit, jadi,,, jadi aku tidak bisa melakukannya lagi sekarang." Ucapnya gugup. "Apa aku mendesah barusan? oh Tuhaaaan... ini sangat memalukan." Elena berteriak dalam hatinya. Mulutnya menolak sentuhan suaminya, namun tidak dengan tubuhnya yang merespon setiap sentuhan yang di lakukan oleh suaminya itu.
__ADS_1
Dav kembali menyunggingkan senyumannya, ia mengusap lembut pucuk kepala istrinya, lalu mengecup keningnya dengan lembut. "Baiklah, aku tidak akan melepaskanmu saat ini, tapi berikan aku vitamin c dulu."
Elena menghela nafasnya lega, kemudian ia segera mengecup bibir tipia suaminya. "Nah sudahkan." Ucapnya lembut.
"Itu hanya kecupan sayang, aku maunya vitamin c, seperti ini." Dav langsung ******* bibir manis istrinya, tangannya menahan tengkuk leher sang istri guna memperdalam ciumannya. Meskipun awalnya Elena terkejut, namun pada akhirnya Elena menikmati ciuman panas yang di lakukan oleh suaminya itu.
Perlahan Elena mulai membalasnya ******* suaminya, ia membiarkan lidah sang suami bermain di dalam rongga mulutnya. Sementara itu, kedua tangan Elena mulai mengalung di leher sang suami.
Dav melepaskan mulai melepaskan pagutannya, ia menempelkan keningnya dengan kening sang istri, matanya menatap wajah sang istri yang terlihat memerah dengan deru nafas yang tak beraturan akibat ciuman panas barusan. "Terima kasih sayang." Bisik Dav lalu memberikan kecupannya di kening sang istri. Sejujurnya Dav sangat tidak rela melepaskan istrinya begitu saja, tetapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengulang kejadian semalam.
"Emm... Sekarang bisakah membiarkanku memakai pakaianku? Aku sudah kedinginan sayang." Ucap Elena lembut sambil mengelus wajah suaminya.
Dav mengangguk pelan, ia melepaskan tangannya dari pinggang ramping sang istri, lalu ia pun berjalan melangkahkan kakinya menuju lemari khusus untuk pakaian kerjanya.
__ADS_1
Bersambung.