Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Istriku sangat menggemaskan


__ADS_3

Perusahaan Gerald Group.


Braaaaak.....


Suara gebrakan meja membuat seisi ruang rapat itu terdiam. Tidak ada yang berani mengeluarkan suaranya, mereka hanya dapat tertunduk dengan pikirannya masing-masing.


"Bagaimana bisa perusahaan Alandra Group membatalkan kerja samanya? Lalu apa ini?" Tuan Gerald melemparkan berkas yang berisikan tentang kerugian yang harus di tanggung oleh perusahaannya. "Apa ini hah? Kenapa perusahaan kita harus ganti rugi sebanyak itu? Jawab!!!"


"Pah, papa tenang dulu, biar aku yang menyelesaikan masalah perusahaan ini pah." Ucap Deril sambil berusaha untuk menenangkan papanya itu.


"Tidak bisa Deril. Papa tidak akan bisa tenang jika masalahnya sudah seperti ini." Tuan Gerald memijit pelipisnya, masalah kali ini benar-benar membuat kepalanya hampir pecah. Tuan Gerald beranjak dari tempat duduknya, berlama-lama di dalam ruangan itu membuatnya semakin naik darah saja, apalagi ketika melihat para karyawannya yang terlihat sangat ketakutan itu, semakin membuat Gerald geram. "Bubarkan rapatnya, kau ikut ke ruanganku." Perintahnya kepada Deril sebelum Gerald melangkahkan kedua kakinya meninggalkan ruang rapat tersebut.


"Kembalilah ke tempat kerja kalian masing-masing. Lakukan pekerjaan kalian dengan baik." Ucap Deril dingin, lalu setelah itu ia pun bergegas membawa kakinya menuju ruangan sang papa.


***


Perusahaan Wiliiam's.


Dav tengah duduk di kursi kebesarannya, senyumannya yang manis, masih saja terukir di wajah tampannya, sepertinya dia benar-benar sangat bahagia hari ini. Dav mulai melepaskan jas yang melekat di tubuhnya, kemudian ia taruh di belakang kursi, lalu setelah itu, ia mulai menggulung kemeja putihnya hingga siku. "Bagaimana perkembangannya Sam? Apakah perusahaan Alandra sudah membatalkan kerja samanya dengan perusahaan Gerald?" Tanya Dav sambil menyanggah dagunya dengan kedua tangannya menatap Sam yang tengah berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Anda tenang saja, bos. Perusahaan Alandra sudah membatalkan kerja samanya dengan perusahaan Gerald, perusahaan Gerald juga sedang mengalami kerugian besar. Sesuai dengan perintah anda, beberapa dari mereka yang bekerja sama dengan perusahaan Gerald, sudah menjalankan rencananya."


"Hmm baguslah. Kita lihat saja sampai mana dia akan bertahan." Ucap Dav dengan seringai yang sangat menakutkan. "Pembalasan baru saja di mulai, Gerald." Batin Dav penuh dengan kebencian. "Lalu bagaimana dengan jadwal-jadwalku? Apakah sudah kau atur semuanya Sam?" Tanyanya tidak sabaran.


"Sudah bos. Semuanya sudah saya atur, minggu besok, anda bisa pergi dengan tenang dan damai." Ucap Sam dengan bangganya.


"Baguslah. Ingat! Selama satu minggu jangan menggangguku dengan istriku. Kalau kau berani menggangguku, siap-siap saja bonusmu akan hilang. Mengerti." Tegas Dav sambil menatap datar asistennya.


"Mengerti bos, ada lagi bos?" Tanya Sam hati-hati.


"Hari sabtu, kita pergi ke markas." Ucap Dav di iringi dengan hembusan nafas beratnya.


"Kau keluarlah."


"Kalau begitu saya permisi dulu bos." Pamit Sam sambil membungkukkan tubuhnya. Dav hanya berdehem pelan, lalu setelah itu Sam pun pergi membawa kedua kakinya keluar dari ruangan bosnya.


Dav kembali menghela nafas beratnya, bayangan wajah cantik sang istri mulai berputar di kepalanya membuat Dav harus kembali menghela nafasnya. "Apakah aku harus mengikat istriku agar dia selalu berada di sampingku?" Ucap Dav di iringi dengan kekehannya.


"Kenapa aku selalu merindukannya? Padahal baru saja tiga jam aku berpisah darinya, tapi rasa rinduku sudah melebihi gunung. Argh sangat menyebalkan." Dav mengusap wajahnya frustasi, ia berusaha menghilangkan bayangan wajah cantik juga tubuh sexy sang istri dari kepalaya, namun sialnya bayangan itu bukannya menghilang, tetapi malah terlihat begitu jelas dan sangat nyata membuat Dav semakin frustasi.

__ADS_1


Dav merogoh benda pipihnya yang berada di dalam saku celananya, kemudian ia menghubungi sang istri dengan tidak sabaran.


"Ada apa sayang?" Tanya Elena dengan suara yang terdengar begitu menggoda di telinga si mafia bucin itu.


"Kangen sama kamu sayang." Ucap Dav dengan suara yang menyimpan sejuta kerinduan. Berlebihan sekali.


Elena tertawa di seberang telpon sana membuat Dav mengerutkan keningnya bingung. "Sayang, kenapa kamu malah tertawa seperti itu? Kamu sangat seneng lihat aku menderita hmmm." Ucap Dav sedikit kesal.


"Ish mana mungkin aku seperti itu, lagian memangnya kamu menderita kenapa sayang? Bukankah seharusnya kamu bahagia hmm."


"Aku menderita karena jauh dari kamu sayang. Rasanya aku bisa gila."


"Jangan gila sayang, nanti kalau kamu gila, aku nikah lagi, loh."


"Sayang! Apa kamu sengaja ingin membuatku marah dan langsung pulang untuk menghukummu?" Ucap Dav kesal.


"Aku hanya becanda sayang. Yasudah sebaiknya kamu selesaikan pekerjaanmu dulu, agar kamu cepat pulang karena aku juga sangat merindukanmu. Emmh kalau begitu aku tutup dulu telponnya ya, selamat bekerja suamiku, jangan mikirin aku terus, fokus dulu sama kerjaanmu, ok. Bye sayang mmmuaaaach, semangat." Setelah selesai mengoceh, Elena langsung memutuskan sambungannya. Dav yang belum sempat membalas ucapan manis istrinya pun hanya bisa tersenyum.


"Argh... Kenapa dia sangat menggemaskan sekali? Baiklah sepertinya aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku dulu, agar bisa pulang lebih cepat dan bertemu dengan istriku yang menggemaskan itu." Ucap Dav dengan senyuman yang terukir kembali di wajah tampannya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2