
Keesokan harinya, seperti biasa, Elena sudah bangun lebih dahulu di bandingkan Dav. Elena berjalan menuju dapur, di sana sudah ada si bibi yang sedang menyiapkan sarapan untuk Dav dan juga Elena.
"Pagi, non."Sapa si bibi sembari membuatkan secangkir kopi untuk tuannya.
"Pagi, bi."Elena menjawab sambil memperlihatkan senyumannya. "Bibi sedang buat kopi, ya."Tanya Elena mendekati si bibi.
"Iya, non. Non Elena mau bibi buatkan kopi?"
"Tidak, bi. Aku gak suka kopi."
"Yaudah teh bagaimana, non?"
"Aku juga tidak suka teh, bi."Elena membuka pintu kulkas, lalu ia mengambil minuman dingin, kemudian ia membuka tutupnya dan meneguknya secara perlahan. "Aku lebih suka air putih, karena menyehatkan."Ucapnya setelah ia selesai meneguk air minumnya. Elena kembali meneguk air minumnya, sementara si bibi hanya tersenyum menanggapi ucapannya barusan.
"Aku juga suka air putih."Ucap Dav yang sudah berdiri tegak di belakang Elena, membuat Elena hampir saja menyemburkan air yang baru saja masuk ke dalam mulutnya karena terkejut.
"Astaga, uncle. Kenapa seperti jelangkung, sih? Bikin aku jantungan tau gak."Kesal Elena sambil menatap horor Dav yang hanya menampilkan wajah tanpa dosanya.
"Sudah lupa ucapanku semalam hmmm."Dav merapatkan tubuhnya dengan Elena, ia tidak memperdulikan si bibi yang masih berada di dapur dan menyaksikan aksinya.
__ADS_1
"Menjauhlah."Elena mendorong tubuh Dav, namun tubuh Dav sama sekali tidak bergerak."Uncle..."
"Masih memanggilku uncle?"Dav semakin merapatkan tubuhnya, tangannya mulai mengelus lembut wajah cantik Elena yang natural."Kenapa wajahmu merah sekali? Apa kamu demam baby?"Bisik Dav membuat bulu kuduk Elena meremang seketika. Ini adalah kali pertamanya Dav memanggilnya dengan sebutan baby.
"Aku bingung harus memanggil uncle apa. Uncle tahu selama ini aku sudah nyaman dengan panggilan uncle. Lalu mengapa uncle malah menyuruhku untuk merubah panggilanku?"
"Kamu bisa memanggilku, Dav."
"Tapi..."
"Turuti saja, Elen."Dav menjauhkan tubuhnya dari Elena sehingga membuat Elena dapat bernafas lega."Aku mau minum."Ucapnya sambil merebut botol minum yang berada di tangan Elena.
"Memangnya kenapa?"Tanya Dav lembut.
"Ada bekas bibirku, uncle"Gumamnya pelan namun Dav masih dapat mendengarnya.
"Anggap saja kita ciuman lewat botol minum ini."Ucap Dav di iringi dengan senyuman di wajahnya. Elena memelototkan kedua bola matanya, ia tidak menyangka jika Dav akan mengucapkan hal yang seharusnya tidak di ucapkan kepada dirinya.
Dav kemudian meneguk minumannya, ia terlihat begitu menikmati sampai memejamkan kedua bola matanya."Bagaimana rasa dari bibir gadis ini? Apakah manis seperti buah cery? Atau bahkan lebih manis lagi?"Dav membatin sambil membayangkan jika dirinya berciuman dengan gadis yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Uncle... Uncle.... Uncle....."Panggilan Elena membuat Dav kembali ke alam sadarnya.
"Ada apa? Kenapa kamu masih memanggilku uncle?"Tanya Dav tak suka.
"Aku belum terbiasa."Jawab Elena pelan."Ayo kita sarapan dulu, bukankah kamu akan pergi keluar kota pagi ini?"
"Hmmm... Lain kali jangan di ulangi, atau kamu akan mendapat hukuman dariku. Mengerti."Tegas Dav sambil menaruh botol minuman tersebut ke dalam kulkas."Aku berangkat jam setengah sembilan, nanti aku akan mengantarmu ke kampus."
"Tapi aku tidak ada kelas pagi, uncle."
"Apa?" Dav menatap tajam Elena, gadis itu benar_benar seperti nenek_nenek pikun.
"Dav."
Dav tersenyum, kemudian ia mengelus lembut pucuk kepala Elena."Jangan di ulangi lagi, baby."Ucap Dav lembut. Dav menarik kursi untuk Elena. Ia menatap Elena lekat kemudian ia menyuruh Elena untuk duduk di kursinya "Duduklah."Perintahnya lembut. Elena hanya menganggukkan kepalanya, kemudian Elena pun duduk dengan manis.
Dav menarik kursi yang ada di samping Elena, kemudian ia duduk."Selama aku di luar kota, kamu jangan nakal, ya. Baik_baik di rumah dan tunggu aku pulang."Ucap Dav sebelum ia menyantap sarapannya.
"Hmm aku mengerti, kamu sudah mengingatkanku semalam, dan aku tidak lupa."Jawab Elena membuat Dav terkekeh pelan."Tapi aku harus pergi nanti malam, aku tidak mungkin membatalkan janjiku dengan Deon. Kali ini aja, biarkan aku merasakan apa yang di rasakan oleh Sindy. Biarkan aku merasakan bagaimana rasanya punya kekasih."Batin Elena.
__ADS_1
Bersambung.