
Dav dan juga Elena sudah duduk di atas kursi meja makan. Keduanya mulai menikmati makanannya masing-masing, tanpa mengeluarkan suara sepatah katapun, yang terdengar hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Lima menit kemudian, Elena pun sudah menyelesaikan makan sorenya. Ia meraih segelas air putih lalu meneguknya secara perlahan.
"Sayang, bolehkah aku menemui Sindy? Aku ingin mengetahui keadaannya sekarang." Ucap Elena setelah ia menghabiskan segelas air putihnya.
"Tentu saja, sayang. Nanti biar aku suruh Sam untuk membawa Sindy kemari, ok." Jawab Dav selalu dengan nada suaranya yang lembut dan halus.
"Tapi keadaannya.... " Ucapan Elena tercekat di tenggorokkan ketika sang suami memotong ucapannya.
"Kamu tidak perlu khawatir, sayang. Sam bilang, dia sudah baik-baik saja sekarang." Sela Dav sambil menatap istrinya lekat.
"Benarkah?" Tanya Elena sedikit tidak percaya.
"Kamu tidak percaya hmmm?" Tanya Dav sambil mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Aku percaya, sayang. Syukurlah kalau dia sudah baik-baik saja. Aku sangat senang mendengarnya." Ucap Elena membuat Dav tersenyum.
"Terima kasih, sayang." Sambung Elena membuat Dav langsung mengerutkan keningnya bingung.
"Terima kasih untuk apa, sayang?" Tanya Dav sembari mengelus lembut wajah cantik sang istri.
"Terima kasih karena kamu sudah mau memaafkan Sindy." Ucap Elena diirngi dengan senyuman manisnya.
"Itu semua aku lakukan hanya untukmu. Aku tidak ingin kamu bersedih dan menangisi sahabat yang sudah mengkhianatimu itu. Dan aku tahu, sahabatmu terpaksa melakukan itu karena di ancam oleh Deon. Jadi! Aku harus memaafkannya." Jawab Dav membuat senyuman Elena semakin mengembang.
"Hmm baiklah, tubuhku juga sudah terasa sangat lengket, sepertinya berendam air hangat akan sangat menyegarkan." Sahut Elena sebelum ia beranjak dari kursinya.
"Jangan lama-lama berendamnya, nanti kamu sakit, sayang." Nasehat Dav lembut.
Elena tersenyum, lalu berjalan menghampiri sang suami. "Iya, bawel. Yasudah aku mandi dulu ya, sayang." Ucap Elena setelah ia memberikan kecupan mesranya di kening sang suami yang membuat sang suami bahagia.
__ADS_1
"Jangan lupa, nanti malam kita.... " Sebelum Dav menyelesaikan ucapannya Elena sudah membungkam mulutnya dengan bibir manis milik Elena.
"Malam ini kita libur dulu, ya. Besok malam aja kita lanjut, ok." Bisik Elena setelah ia melepaskan bibirnya dari bibir sang suami. Elena pun sengaja menggigit cuping telinga sang suami yang sensitif dan membuat tongkat sakti sang suami mulai berdiri di bawah sana.
Sebelum Dav menjawab ucapannya, dengan cepat Elena pun melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Dav yang terlihat gemas dengan tingkah istri kecilnya itu.
"Dasar nakal, sudah menggoda malah kabur. Lihat saja bagaimana aku akan menghukummu nanti." Gumam Dav sambil menatap kepergian istri tercintanya itu.
"Sebaiknya aku segera mengecek email yang di kirimkan oleh Sam tadi, lalu setelah itu baru aku memberikan hukuman untuk istri nakalku itu. Siapa tahu hukumanku akan membuahkan hasil." Dav kembali bergumam, ia berharap benih yang akan ia tanam nanti malam, akan tumbuh secepatnya.
Dav sungguh sangat tidak sabar menantikan kehadiran baby mungil yang akan menyempurnakan kebahagiaannya.
Dav mulai bangkit dari kursinya, kemudian ia berjalan melangkahkan kedua kakinya menuju ruang kerjanya.
Bersambung.
__ADS_1