
Dav tersenyum ketika melihat sang istri sedang mengelus perutnya yang sudah terisi penuh oleh makanan itu. Ini adalah pertama kalinya ia melihat sang istri seperti itu, sungguh sangat menggemaskan seperti anak kucing yang kekenyangan.
Dav perlahan berjalan menghampiri istrinya, kemudian ia jongkok dan menatap sang istri penuh cinta. "Sudah kenyang, sayang?" Tanya Dav selalu lembut dan halus.
Elena tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. "Sudah, sayang. Sepertinya aku kekenyangan." Jawab Elena membuat Dav terkekeh pelan.
Dav mengusap lembut pucuk kepala istrinya, kemudian ia memberikan kecupan mesranya di kening sang istri. "Pantas saja, kamu sangat mirip seperti anak kucing." Ucap Dav yang mendapat cubitan gemas dari sang istri.
"Ish nyebelin banget, masa di samain kayak anak kucing, sih." Protes Elena sambil mengercutkan bibirnya kesal membuat Dav semakin gemas melihatnya.
"Hanya mirip saja, sayang. Tidak sama." Ucap Dav seraya mencubit hidung mancung istrinya.
"Au ah. Kamu nyebelin."
"Jangan marah, sayang. Nanti cepet tua, loh." Ucap Dav sambil mencolek dagu istrinya.
"Ish, kamu aja udah tua hmmm." Sahut Elena membuat Dav langsung membulatkan kedua bola matanya sempurna.
"Astaga sayang, apakah matamu mulai rabun? Lihat wajahku baik-baik, ok. Aku ini masih muda, dan tampan, bahkan banyak yang mengira kalau usiaku masih tujuh belas tahun, masa kamu bilang tua, sih." Ucap Dav membuat Elena tertawa lepas.
"Sepertinya orang yang mengatakan kalau kamu seperti usia tujuh belas tahun itu matanya buta deh, atau mungkin dia melihatnya dari ujung monas." Ejek Elena masih di iringi dengan tawanya.
__ADS_1
"Puas banget ya kamu menertawakanku. Tunggu saja hukuman dariku malam ini, sayang." Ucap Dav sambil memperlihatkan senyuman devilnya.
"Siapa takut." Sahut Elena sambil menatap suaminya penuh provokasi.
"Sudahlah, aku mau mandi dulu. Bye, sayang. Aku tunggu hukuman darimu malam ini." Sambung Elena sembari memberikan kecupan singkat di bibir sang suami. Lalu setelah itu, Elena pun langsung pergi melangkahkan kedua kakinya menuju anak tangga meninggalkan Dav sendirian.
"Dasar gadis nakal, beraninya dia memprovokasiku. Lihat saja, malam ini aku pasti tidak akan membuatmu tidur semalaman." Batin Dav sambil menatap kepergian sang istri dengan senyuman.
Dav berdiri, ia berniat untuk pergi ke kamarnya, namun niatnya terhenti ketika ia mendengar suara si bibi yang memanggilnya.
"Permisi, tuan. Di ruang tamu ada asisten anda, dia bilang, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan." Ucap si bibi membuat Dav mendengus kesal.
"Sam? Untuk apa dia kemari? Apakah dia tidak bisa menelponku saja? Menyebalkan." Gerutu Dav seraya melangkahkan kedua kakinya menuju ruang tamu.
Ruang tamu.
"Katakan! Ada apa kau datang kemari?" Tanya Dav sambil mendudukkan bokongnya di atas sofa yang berhadapan langsung dengan asistennya itu.
"Apakah saya sudah mengganggu anda, bos? Maafkan saya, karena ada hal yang sangat penting yang ingin saya sampaikan kepada anda, bos." Ucap Sam sopan.
"Hal penting apa? Kenapa kau tidak menelponku? Kenapa kau tidak bilang dari tadi?" Tanya Dav selalu dengan nada suaranya yang dingin.
__ADS_1
"Saya sudah menelpon anda berkali-kali, bos. Tapi, anda sama sekali tidak menjawab panggilan dari saya, makannya saya sengaja datang langsung kemari, bos." Sahut Sam sedikit kesal karena bosnya itu tidak menjawab panggilan dari dirinya tadi.
"Ckkk... Alesan saja. Jadi, hal penting apa yang ingin kau sampaikan?" Tanya Dav seraya menatap datar asistennya tersebut.
"Begini, bos. Besok pagi kita ada pertemuan penting dengan pemilik perusahaan Sanjaya..."
"Pukul berapa? Kenapa tidak siang atau sore saja?" Tanya Dav menyela ucapan asistennya yang belum selesai.
"Pukul tujuh pagi, bos. Tidak bisa, karena pemilik perusahaan itu akan pergi ke luar negeri pada pukul sembilan pagi." Jawab Sam yang mendapat dengusan pelan dari Dav.
"Ckkk... Merepotkan saja. Apa kau tidak bisa menggantikan aku, Sam? Kau tahu besok istriku akan melakukan pemeriksaan, dan aku tidak ingin meninggalkannya." Ucap Dav yang mendapat gelengan kepala dari asistennya tersebut.
"Kalau begitu kau undur saja pertemuanku dengan pemilik perusahaan itu." Perintah Dav membuat Sam harus menghela nafasnya panjang.
"Tapi, bos. Pertemuan ini sangat penting, dan ini adalah kesempatan baik kita untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan itu, apalagi latar belakang pemilik perusahaan Sanjaya sama seperti anda, bukankah itu akan sangat menguntungkan bagi anda!" Ucap Sam membuat Dav nampak berpikir sejenak. Sepertinya yang di ucapkan oleh Sam ada benarnya juga.
"Baiklah, kau atur saja semuanya." Perintah Dav membuat Sam dapat bernafas dengan lega.
"Ada lagi?" Tanya Dav yang mendapat gelengan kepala dari Sam. "Kalau tidak ada lagi, kau boleh pulang sekarang."
"Kalau begitu saya permisi dulu, bos. Selamat malam dan selamat beristirahat." Pamit Sam yang mendapat anggukkan kepala dari bosnya tersebut. Setelah itu, Sam pun langsung bangkit dari tempat duduknya, kemudian ia pergi meninggalkan Dav sendirian.
__ADS_1
Bersambung.