
waktu menunjukkan pukul enam tiga puluh pagi. Elena sudah membuka kedua bola matanya lebar. Pandangan yang pertama ia lihat adalah wajah tampan sang suami yang terlihat begitu tenang dan damai.
Elena tersenyum, tangannya mulai mengulur mengusap lembut wajah suaminya itu. "Ternyata dia lebih tampan jika sedang diam seperti ini."Gumamnya sambil menatap lekat wajah suaminya. "Sepertinya aku sudah mulai terjatuh dalam pesonanya. Perasaanku sangat kacau, bahkan detak jantungku selalu berpacu dengan sangat cepat. Aku sangat tahu perasaan ini. Tapi aku ingin membuktikan apakah aku benar_benar sudah jatuh cinta pada laki_laki pemaksa plus mesum ini." Elena terus menerus menatap wajah suaminya.
Tangannya yang lembut masih setia mengusap wajah tampan itu, membuat si empunya mulai merasa terganggu. Hingga akhirnya kedua bola matanya terbuka secara perlahan.
Elena langsung menarik tangannya, ia merasa terkejut karena tertangkap basah sedang menatap juga menyentuh lembut wajah suaminya itu. "Ada apa, sayang? Kenapa kamu gugup sekali?"Suara berat khas bangun tidur sang suami mulai terdengar di telinganya. Bahkan tatapan mata sang suami membuat jantung Elena kembali berpacu dengan sangar cepat. "Apa kamu sudah melakukan kesalahan?" Tanya Dav tanpa melepaskan pandangannya dari wajah istrinya.
"Tidak! Aku hanya sedikit terkejut, karena kamu tiba_tiba bangun."Ucap Elena sambil memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Oh! Sepertinya barusan ada seseorang yang menggangguku tidur." Dav menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri, tangannya kembali memeluk tubuh istrinya penuh kehangatan. "Tangannya yang lembut mengelus wajahku, sepertinya orang itu sudah mulai terpesona dengan ketampananku."Sambung Dav membuat wajah Elena memerah.
"Mungkin itu hanya halusinasi kamu saja. Sudahlah aku mau mandi dulu. Lepaskan tanganmu."
"Itu nyata, sayang." Dav mendongak, ia menatap istrinya dengan seulas senyuman di wajah tampannya. "Dan aku sangat senang mendengarnya. Aku berharap orang itu secepatnya jatuh cinta kepadaku, dengan begitu dia tidak akan pernah meninggalkanku."
__ADS_1
"Berdoa saja, siapa tahu doamu di kabulkan oleh Tuhan."Ucap Elena tanpa menatap wajah suaminya. "Dan sepertinya aku memang sudah jatuh cinta padamu, Dav. Tapi aku masih ragu untuk mengatakannya."Batin Elena.
"Tanpa di suruh pun, aku selalu berdoa dan berharap kepada Tuhan agar kamu secepatnya jatuh cinta kepadaku. Dengan begitu, aku tidak akan pernah tersiksa lagi, dan aku tidak akan pernah takut untuk kehilanganmu, sayang."Bisik Dav kembali membuat detak jantung Elena berpacuĀ dengan sangat cepat.
"Lepaskan aku dulu, Dav..."
"Panggil aku suamiku." Bisik Dav tanpa melepaskan pelukannya.
"Lepaskan aku dulu, su,,, suamiku." Ucap Elena semakin gugup ketika suami mesumnya itu terus menerus menatap dirinya. Bahkan jarak di antara mereka begitu dekat. "Oh ayolah, Elena. Tenangkan dirimu, jangan gugup seperti ini." Batin Elena berusaha untuk menormalkan detak jantungnya.
"Berikan aku kiss pagi dulu, sayang. Baru aku akan melepaskanmu." Pinta Dav membuat wajah Elena kembali merona.
"Memangnya kenapa, sayang? Aku hanya memintamu untuk memberikan ciuman selamat pagi, tidak masalah jika kamu belum gosok gigi sekalipun, aku akan menerimanya dengan senang hati." Jawab Dav sambil menurunkan kedua tangan Elena. Lalu mengelus bibir manis istrinya dengan lembut. "Jadi, kamu tidak perlu sungkan untuk memberikan ciumanmu padaku."Bisiknya sambil menempelkan keningnya dengan kening sang istri.
"Ta,,, tapi.... It...."
__ADS_1
"Tidak ada tapi_tapian, sayang. Berikan aku ciumanmu, atau aku akan membuatmu tetap seperti ini sampai nanti siang. Bagaimana?" Sela Dav dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir manis milik istrinya.
Elena menahan nafasnya sesaat, ia berpikir tidak ada salahnya jika dia memberikan ciuman selamat pagi untuk suaminya itu. "Sayang? Hanya ciuman saja kamu sampai berpikir seperti itu." Ucap Dav sambil mengecup kening istrinya dengan mesra membuat Elena mengerjapkan kedua bola matanya terkejut.
"Sayang. Apa kamu akan tetap diam seperti ini hmmm." Dav menatap lekat wajah istrinya, ia sedang menantikan ciuman selamat pagi dari istri kecilnya itu.
"Baiklah, tutup matamu dulu." Ucap Elena dengan debaran yang masih setia menemaninya.
Dav menuruti permintaan istrinya itu, ia memejamkan kedua bola matanya, lalu Elena pun dengan cepat memberikan kecupan hangat di pipi suaminya. "Sudahkan, jadi..."
"Di sini belum, sayang." Sela Dav sambil menunjuk bibirnya yang tipis.
Tanpa ingin berkomentar lagi, Elena langsung mendaratkan kecupannya di bibir suaminya itu, membuat si mafia bucin itu bersorak senang dalam hatinya.
"Sekarang lepaskan aku." Pinta Elena sambil mendorong tubuh suaminya itu.
__ADS_1
"Terima kasih, sayang. Mulai dari sekarang itu akan menjadi tugasmu setiap pagi. Mengerti." Ucap Dav lembut, sambil memperlihatkan senyuman bahagianya. Elena hanya dapat menganggukkan kepalanya pelan membuat Dav semakin melebarkan senyumannya kemudian ia pun segera melepaskan istri kecilnya itu.
Bersambung.