Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Jurang kematian


__ADS_3

Sindy sudah berada di ruang tamu, ia terlihat sedikit gelisah ketika mendengar dari salah satu pelayan, bahwa Dav sedang berada di Mansionnya. Sindy mengira jika hari ini Dav tidak ada di mansionnya karena hari ini adalah hari kamis bukan hari sabtu ataupun minggu. Sindy menghela nafasnya kasar, sepertinya ia harus mengubah rencananya.


"Hay, Sin. Maaf sudah membuatmu menunggu lama." Elena berjalan menghampiri Sindy, langkah kakinya masih terlihat kurang normal karena perbuatan suami mesumnya itu.


Sindy tersenyum kemudian ia mengernyitkan keningnya ketika melihat langkah kaki Elena yang menurutnya tidak seperti biasanya. "Tidak apa-apa, Elena. Kebetulan aku juga baru sampai kok, tadi pelayan kamu bilang, kamu sedang sarapan dengan suamimu di kamar. Oh iya kenapa kamu jalannya seperti itu? Apakah kamu terluka?" Tanya Sindy sambil mendekati Elena dan membawanya duduk si sofa berdampingan dengan dirinya.


"Emm, tidak kok, kakiku tidak sengaja keseleo, ya keseleo." Jawab Elena sambil memberikan senyuman kakunya. "Tidak mungkinkan aku bilang, kalau ini adalah perbuatan suamiku yang amat mesum itu, bisa-bisa aku di tertawain sama Sindy." Batin Elena sambil menggelengkan kepalanya pelan membuat Sindy kembali mengernyitkan keningnya.


"Ada apa Elen? Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?" Tanya Sindy sangat penasaran.


"Tidak apa-apa, Sin." Jawab Elena sambil memperlihatkan senyuman manisnya. "Oh iya, kamu mau minum apa, Sin?" Tanya Elena mengalihkan pembicaraannya.

__ADS_1


"Emm tidak perlu repot-repot, Elena. Jus mangga aja deh." Ucap Sindy membuat Elena terkekeh pelan.


"Baiklah, kamu tunggu sebentar ya, aku panggilkan dulu si bibi." Elena beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia berjalan melangkahkan kedua kakinya menuju dapur.


"Apa benar dia hanya keseleo? Kenapa aku tidak percaya ya?" Sindy membatin sambil menatap kepergian Elena.


"Ekhmm... " Suara deheman yang terdengar begitu dingin membuat Sindy terkejut, Sindy langsung melirik ke asal suara, tatapan matanya langsung tertuju pada sosok laki-laki berwajah tampan namun terlihat sangat menakutkan yang kini sedang menatapnya dengan tajam, se tajam silet.


"Ha,,, halo, om." Sapa Sindy gugup, tatapan mata yang di berikan oleh laki-laki itu yang tak lain adalah Dav sungguh sangat menakutkan.


Sindy terkekeh pelan, ia tidak menyangka jika Dav sudah melupakan dirinya yang seorang teman baik istrinya sendiri, namun Sindy tidak tahu, jika Dav hanya berpura-pura lupa saja. "I,,, iya, om. Kenalkan aku Sindy, teman sekaligus sahabat istri om." Ucap Sindy sambil menyodorkan tangannya ke hadapan Dav.

__ADS_1


Dav hanya menatap tangan Sindy tanpa berniat untuk menyentuhnya sama sekali, kemudian ia kembali menatap Sindy dengan tatapan yang masih tajam. "Oh, teman sekaligus sahabat istriku." Dav terus menatap Sindy dengan tajam membuat Sindy gugup juga di landa perasaan cemas dan jiga khawatir.


"I,,, iya, om." Ucap Sindy gugup.


"Hmm, baguslah kalau kamu masih menganggap istriku sebagai teman sekaligus sahabatmu, aku yakin kalau kamu tidak akan merencanakan sesuatu yang buruk terhadap istriku." Dav berjalan menghampiri Sindy, wajah Sindya sudah berubah menjadi pucat pasi, ia tidak menyangka jika niatnya dapat di tebak dengan mudahnya oleh Dav.


Dav menyeringai, seringai yang baru pertama kali di lihat oleh Sindy, seringai yang begitu menakutkan, bahkan lebih menakutkan di bandingkan dengan seringai yang selalu di tampilkan oleh Deon ketika Deon mengancam nyawa keluarganya. "Jika kamu berani melakukan trik atau merencanakan sesuatu yang buruk terhadap istriku! Maka kamu akan tahu akibatnya. Mengerti." Bisik Dav membuat tubuh Sindy terasa lemas.


"Sayang! Kamu sedang apa?" Tanya Elena sambil berjalan menghampiri suaminya.


Raut wajah Dav seketika berubah seribu derajat celcius, senyuman manisnya langsung terukir ketika suara lembut istri kesayangannya itu masuk ke indera pendengarannya. Dav perlahan melangkahkan kedua kakinya menghampiri istri kesayangannya, tangannya langsung terulur mengelus lembut wajah cantik sang istri, kemudian ia memberikan kecupan mesranya di kening sang istri. "Aku hanya sekedar menyapa sahabatmu sayang," ucapnya lembut tanpa menghilangkan senyuman manis si bibir tipisnya.

__ADS_1


"Yasudah, aku ke ruang kerjaku dulu, ya. Kamu baik-baik temani sahabatmu itu bermain, mengerti." Dav kembali mendaratkan kecupan hangatnya di kening sang istri. Membuat Sindy seketika meneguk salivanya dengan kasar. Sindy tidak menyangka jika Dav begitu mencintai Elena, itu artinya ia berada di dalam jurang kematian.


Bersambung.


__ADS_2