
Elena berbaring di atas tempat tidurnya. Ia menghela nafasnya pelan, matanya menatap langit_langit kamarnya. Elena kembali teringat akan rencananya bersama Alisha tadi sore. Ntah mengapa Elena merasa sedikit ragu dan juga sedikit berat meninggalkan Dav yang sudah merawatnya selama lima tahun menggantikan kedua orang tuanya.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukkan pintu membuat Elena seketika menatap pintu kamarnya. Elena segera bangkit dari tempat tidurnya, lalu berjalan ke arah pintu kamarnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Elena langsung membuka pintu tersebut dan mendapati Dav yang tengah berdiri sambil bersidekap menatap tajam dirinya.
"Uncle, ada apa?"Tanya Elena sedikit gugup mendapat tatapan tajam dari Dav. Tiba_tiba saja firasat buruk datang menghampiri Elena.
Dav mendengus kesal, ia menatap Elena semakin tajam, membuat Elena meneguk salivanya kasar. "Kau selalu melupakan panggilanmu."Ucapnya dingin sambil berjalan masuk ke dalam kamar Elena.
"Ini, ini sudah malam, Dav. Aku mau istirahat."Elena berusaha untuk mencegah Dav untuk tidak masuk ke dalam kamarnya. Namun sayangnya ia tidak berhasil.
Seketika Dav berbalik dan menarik tangan Elena sehingga membuat tubuh Elena masuk ke dalam pelukannya. "Elen, apa yang sedang kamu rencanakan?"Tanya Dav tiba_tiba. Membuat Elena kembali meneguk salivanya kasar, namun Elena tetap berusaha untuk tenang dan mencoba untuk melepaskan diri dari dekapan Dav.
__ADS_1
"A, apa maksudmu, Dav? Aku tidak mengerti." Ucap Elena tetap berusaha untuk lepas dari Dav. Dav semakin geram, amarahnya semakin mendidih ketika gadis nakalnya itu masih tidak mau berkata jujur kepadanya.
"Pura_pura tidak mengerti hmmm."Dav semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah cantik Elena. Tangannya semakin memeluk erat tubuh Elena sehingga membuat Elena tidak dapat bergerak sama sekali. "Aku tahu apa yang kamu rencanakan, Elen."Bisiknya membuat bulu kuduk Elena meremang seketika. Tatapan mata Dav semakin dingin dan juga tajam.
Lagi_lagi Elena meneguk salivanya kasar, Elena tidak berani untuk membalas tatapan mata itu, Elena hanya mampu menundukkan kepalanya."Ya Tuhan... Apakah dia sudah tahu semuanya? Argh bagaimana ini?"Batin Elena khawatir. Tetapi Elena tetap berusaha untuk tenang, ia memberanikan diri untuk menatap Dav dari jarak yang begitu dekat. "Aku tidak merencanakan apa pun. Jadi lepaskan aku, Dav." Ucapnya sedikit gugup karena jarak antara wajah mereka hanya beberapa centi meter saja. Bahkan Elena dapat merasakan hembusan nafas hangat yang beraroma tembakau menyapu seluruh wajahnya.
"Kau yakin, baby?"Dav kembali berbisik, kini tangannya mulai mengelus lembut wajah cantik Elena. "Jadi kau tidak akan meninggalkanku? Kau tidak akan kabur dariku hmm."Tatapan mata Dav berubah seketika. Tatapan yang sangat sulit untuk di artikan.
Dav tersenyum sinis, bahkan sampai seperti ini pun gadis nakalnya itu masih tidak berkata jujur kepadanya."Kau berani membohongiku, Elen. Aku tahu apa yang kamu rencanakan bersama Alisha. Kamu pikir, kamu bisa kabur dariku, hah!"Dav melepaskan satu tangannya, kemudian ia segera menutup pintu kamar Elena dengan sangat keras. Tak lupa, ia menguncinya membuat Elena panik seketika. "Kamu tahu hukuman apa yang pantas untuk gadis pembohong sepertimu."Dav menyeringai, seringai itu begitu menyeramkan bagi Elena yang saat ini masih berada dalam pelukan Dav laki_laki yang sudah di kuasai amarahnya.
"Tidak, Dav. Jangan lakukan apapun, aku mohon. Aku akui aku salah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Dav. Aku tidak akan kabur darimu. Percayalah."Mohon Elena sambil menatap Dav yang masih memperlihatkan wajah dinginnya.
Dav tidak mengindahkan ucapan Elena, ia justru mengangkat tubuh Elena dan berjalan menuju tempat tidur milik Elena, ia harus memberikan hukuman kepada gadis pembohong itu, supaya gadis itu tidak mengulangi kesalahannya. Sementara itu, Elena semakin panik, ia sangat takut jika Dav akan melakukan sesuatu terhadap dirinya. Apalagi saat ini Dav sudah membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, sungguh semakin membuat Elena ketakutan.
__ADS_1
"A, apa yang akan kamu lakukan, Dav? Aku mohon jangan lakukan itu...."Ucap Elena sambil beringsut dari tempat tidurnya.
"Aku akan memberimu hukuman baby."Dav melepaskan kancing kemejanya satu persatu, ia menatap Elena yang terlihat semakin ketakutan.
"Jangan... Aku mohon......"Elena terisak, ia tidak tahu lagi harus mengucapkan kata apa agar Dav mau memaafkannya. "Aku janji aku tidak akan meninggalkanmu, Dav. Jangan lakukan itu..."
Dav menghentikan aksinya, ia tersenyum lalu kembali mengancingkan kemejanya. Ia duduk di sisi ranjang, tangannya terulur mengelus pucuk kepala Elena lembut. "Tiga hari lagi kita akan menikah. Persiapkan dirimu, baby."Ucapnya lembut, namun membuat Elena begitu terkejut. "Jangan terkejut seperti itu, baby. Kamu tahu, kalau kamu sudah melakukan kesalahan, harusnya aku memberikan hukuman untukmu, tapi karena kamu sudah mengakui kesalahanmu, maka dengan berat hati aku tidak memberimu hukuman. Tapi sebagai gantinya. Pernikahan kita di majukan. Mengerti."
"Tapi...."
Dav menempelkan jari telunjuknya di bibir manis Elena, ia menatap Elena sambil memperlihatkan senyuman di wajah tampannya. "Sssst.... Tidak ada tapi_tapian, sayang. Kamu cukup persiapkan dirimu. Mengerti." Tegas Dav membuat Elena tidak dapat berkata apa_apa lagi. "Sekarang kamu istirahat, dan ingat. Jangan pernah berpikir untuk pergi dari kehidupanku. Mengerti."Sambungnya lagi. Elena hanya mengangguk pelan, ia bersyukur karena Dav tidak melakukan apa pun kepada dirinya. Dav mengecup lembut kening Elena, kemudian ia beranjak berdiri lalu berjalan menuju pintu kamar Elena. Elena hanya menatap kepergian Dav sambil menghela nafasnya pelan.
Bersambung.
__ADS_1