Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Kesal


__ADS_3

Setelah selesai membeli benda langka itu, Sam langsung meluncur ke mansion bosnya. Sam harus meminta bosnya untuk memberikannya bonus besar karena dirinya sudah membelikan benda langka itu.


Sam melihat jam yang melingkar di tangan kanannya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, seharusnya dia sudah berada di alam mimpinya yang indah dan bertemu dengan kekasih khayalannya. Namun saat ini ia malah berada di dalam mobil bersama benda langka itu.


Sam menghela nafasnya panjang, dia akan selalu ingat malam ini, adalah malam yang paling berkesan bagi dirinya.  Sam mulai melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata_rata, ia ingin segera tiba di mansion bosnya itu, lalu balik ke apartemennya, kemudian tidur di kasur kesayangannya.


***


"Kenapa baru sampai? Bukankah aku sudah bilang lima belas menit." Tegur Dav kepada asistennya itu.


"Astaga, bos. Saya ke sini pakai mobil bukan teleportasi." Ucap Sam sedikit kesal.


"Berani membantahku!" Seru Dav sambil menatap kesal asistennya itu.

__ADS_1


"Tidak, bos." Jawab Sam sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Mana barangnya."


"Ini, bos." Sam menyerahkan satu plastik besar kepada bosnya itu. "Kalau begitu saya permisi dulu, bos."


"Menginaplah, hari sudah sangat malam." Ucap Dav datar.


"Terima kasih, bos. Tapi saya tidak terbiasa tidur tanpa kasur kesayangan saya, bos." Tolak Sam yang memang tidak pernah bisa tidur nyenyak jika tanpa kasur kesayangannya.


"Kalau begitu saja permisi dulu, bos." Sam kembali berpamitan, ia sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada bos bucinnya itu.


"Hati_hati jangan sampai ketemu kepala di jalanan." Ucap Dav yang mendapat anggukkan kepala dari Sam.

__ADS_1


Sam segera melangkahkan kakinya pergi, rasa kantuknya mulai menyerang dirinya sampai ia lupa untuk meminta bonus yang besar kepada bosnya itu. Sementara itu, Dav langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


***


Dav menghela nafasnya kasar, ia menatap istrinya yang kini sudah menutup kedua bola matanya dengan tenang. Sementara dirinya masih saja belum bisa tertidur. Dirinya harus tersiksa karena penampilan istri kecilnya itu yang begitu menggoda imannya, namun sayangnya, dia tidak dapat menyentuhnya karena tamu yang tak di undang itu sedang datang.


"Nyenyak sekali kamu tidur. Tidakkah kamu tahu jika aku sedang tersiksa saat ini." Dav menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi kecantikan wajah istrinya itu. Ia tersenyum geli, karena rencananya untuk memakan istrinya malam ini gagal total.


"Aish, kenapa kamu kembali berdiri? Bukankah aku sudah menenangkanmu tadi."Ucapnya dengan helaan nafas beratnya ketika sesuatu di bawah sana kembali berdiri tegak. Dav berusaha untuk menenangkannya, ia menyelimuti seluruh tubuh istrinya agar sesuatu yang di bawah sana bisa tenang dan nyaman di tempatnya.


"*M*mmm..." Gumam Elena sambil menyingkirkan selimut tebal yang menyelimuti seluruh tubuhnya.


Dav kembali menyelimuti tubuh istrinya, ia tidak ingin membuat si junior kembali terbangun dari tidurnya. "Pakai selimutmu, sayang. Apa kamu tidak kasihan sama suamimu, ini."Bisiknya lembut, sambil memeluk tubuh istrinya yang tertutupi oleh selimut tebal itu. "Sebaiknya aku segera tidur, sebelum si junior ini kembali berdiri." Batin Dav sambil mengeratkan pelukannya. Dav mengecup kening istrinya lembut sebelum ia menyusul sang istri ke alam mimpinya. "Good night, sayang." Bisiknya lalu ia pun mulai memejamkan kedua bola matanya secara perlahan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2