
Dav menatap Elena yang sedari tadi mengaduk_aduk sarapannya tanpa berniat untuk memasukkan ke dalam mulutnya. Elena terlihat murung, bahkan kantung matanya terlihat bengkak seperti habis menangis.
Dav menghembuskan nafasnya kasar, ia tak suka jika Elenanya seperti ini, ia ingin Elena ceria seperti biasanya. "Elen! Apa kamu sakit?"Dav mulai membuka mulutnya, suaranya terdengar begitu lembut dan juga penuh kekhawatiran.
Elena mendongak, ia menatap Dav sayu."Aku tidak apa_apa, un... Dav."Jawab Elena sedikit memperlihatkan senyuman paksanya. "Aku seperti ini karena kamu, uncle."Batin Elena.
"Apa kamu habis menangis?"Tanya Dav menatap kedua bola mata Elena dalam. "Apa kamu menangisi laki_laki itu?"
Elena tersenyum kecut, ia meletakkan sendok dan garpu di atas piringnya. Kemudian Elena meneguk jus favoritnya yang sudah di siapkan oleh si bibi. "Uncle sudah dapat menebaknya, kenapa uncle masih bertanya."Elena beranjak dari tempat duduknya, ia berniat untuk meninggalkan ruang makan itu, namun suara dingin Dav membuat Elena menghentikan niatnya.
"Lupakan dia. Dia tidak pantas untukmu, Elen."
__ADS_1
"Lalu siapa yang pantas untukku? Apa menurut uncle, uncle pantas untukku?"Elena tersenyum mengejek, ia sangat kesal mendengar perkataan Dav barusan yang mengatakan bahwa Deon tidak pantas untuknya. "Uncle, aku sudah besar. Aku bebas menentukan siapa pun yang akan menjadi kekasihku."
Dav berdiri, ia berjalan mendekati Elena, membuat Elena mundur beberapa langkah. "Elen, aku tidak akan membiarkan siapa pun untuk memilikimu, karena kamu adalah, milikku. Mengerti." Dav mencengkram kuat dagu Elena, sehingga membuat Elena meringis kesakitan.
"Uncle. Aku mencintainya. Aku mohon, izinkan aku untuk bersamanya." Elena meneteskan air matanya, selain menahan rasa sakit di dagunya, Elena juga menahan rasa sakit di dalam hatinya.
"Tidak akan pernah, Elen. Jadi, lupakan dia, atau aku akan benar_benar melenyapkannya dari muka bumi ini, mengerti."Tegas Dav sambil melepaskan cengkraman tangannya, lalu berbalik dan berjalan menaiki anak tangga.
Dav kembali melangkahkan kakinya, ia berjalan mendekati Elena, sepertinya gadis pembangkang itu sudah membangunkan harimau yang sedang tidur." Persiapkan dirimu, Elen. Dalam tiga Minggu, kita akan melangsungkan pernikahan, kita. Mengerti."Tegas Dav sambil mengelus wajah cantik Elena.
"Dav, kamu jangan gila. Aku tidak akan pernah menikah denganmu. Aku tidak mencintaimu."Elena kembali berteriak, ia menepis tangan Dav dari wajah cantiknya. Elena mundur beberapa langkah, Dav yang ada di hadapannya sekarang, bukanlah Dav yang dulu lagi. Dav yang sekarang sudah berubah. Elena tidak ingin menikah dengan Dav. Dav sudah ia anggap sebagai uncle nya sendiri.
__ADS_1
"Ya, aku memang gila, Elen. "Dav kembali berjalan mendekati Elena, sementara Elena terus mundur ke belakang. "Gila karena mu."Dav mencekal kedua tangan Elena, menempelkannya ke dinding. "Jadi, persiapkan dirimu untuk laki_laki yang sudah tergila_gila denganmu ini."Bisik Dav membuat bulu kuduk Elena meremang seketika.
"Lepaskan aku, Dav."Elena terus memberontak, yang ada dalam otaknya saat ini adalah, kabur meninggalkan Dav. "Kamu tidak bisa memaksaku untuk menikah denganmu. Aku bebas memilih siapa yang akan jadi suamiku kelak. Jadi tolong...."
"Kamu tidak berhak untuk memilih, Elen. Karena pilihanmu adalah aku. Mengerti baby." Bisik Dav sengaja menghembuskan nafasnya yang hangat menyapu cuping telinga Elena.
Elena terdiam, ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Sementara itu, Dav semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah cantik Elena, mengikis jarak hingga beberapa centi meter. Perlahan tapi pasti, Dav mulai mendaratkan kecupannya di bibir manis Elena. Elena yang sedari tadi diam pun langsung terkejut, ia berusaha untuk mendorong tubuh Dav. Namun tenaganya sama sekali tak sebanding dengan tenaga Dav yang begitu kuat.
Dav semakin memperdalam ciumannya, ******* habis bibir manis itu. Sementara itu tenaga Elena sudah terkuras habis, ia tidak lagi memberontak, ia membiarkan Dav menciumnya tanpa ampun.
"Sebentar lagi, kamu akan menjadi istriku, Elen."Batin Dav tanpa melepaskan pagutannya. Dav menggigit bibir bawah Elena agar Elenanya mau membuka mulutnya. Namun bukannya membuka mulutnya, Elena justru menggigit balik bibir Dav dengan sekuat mungkin, sehingga membuat Dav langsung melepaskan pagutannya.
__ADS_1
Bersambung.