
Dav menarik nafasnya dalam, lalu membuangnya secara perlahan, ia berusaha untuk mengendalikan emosinya yang semakin membeludak. Ucapan Alisha barusan membuat perasaannya semakin khawatir dan juga rasa cemburunya yang terlalu berlebihan terhadap Elena membuat Dav hilang kendali.
Tidak perduli dengan keselamatannya, Dav melajukan kendaraannya dengan sangat cepat, kesal, cemburu, marah semuanya menjadi satu.
"Alisha, kesabaranku ada batasnya. Sebaiknya kamu memberitahuku keberadaan Elena, sebelum aku membuatmu menyesal karena sudah memancing emosiku."Dav berkata dingin, bahkan rasa bersalah terhadap Alisha sudah tidak ada lagi. Yang ada hanyalah amarah yang kian memuncak dalam dirinya.
"Kamu sedang mengancam ku?"Tanya Alisha sambil menggigit bibir bawahnya. Alisha tidak menyangka jika Dav akan mengancamnya hanya demi mengetahui keberadaan Elena. "Dav, biarkan Elena bahagia bersama pilihannya, kamu ..."
"Jangan ikut campur urusanku dan Elena."Sela Dav dingin membuat Alisha meneguk salivanya kasar."Kau hanya perlu memberitahuku di mana keberadaan Elena saat ini, atau aku akan menyuruh anak buahku untuk melakukan hal yang akan membuatmu menyesal seumur hidupmu."
Alisha langsung terdiam, Takut? Tentu saja Alisha sangat takut dengan apa yang di ucapkan oleh Dav barusan. Ucapan Dav tidak boleh di abaikan, karena Dav akan melakukan apa yang ia ucapkan dengan sungguh_sungguh. Siapa yang berani membuatnya marah, maka dia akan menerima akibatnya.
Rasa sakit hatinya semakin menjadi, ucapan dan juga ancaman Dav membuat Alisha frusatasi, bahkan air matanya kembali menetes membasahi wajah cantiknya.
"Kenapa kamu setega itu terhadapku, Dav?"Suara Alisha terdengar begitu menyedihkan, namun Dav sama sekali tidak perduli, yang ada di pikiran Dav saat ini adalah memberikan hukuman kepada gadis pembangkang itu."Dav aku hanya ingin...."
"Cukup, Alisha. Aku tidak ingin mendengar ocehan mu. Cepat katakan di mana Elena sekarang, atau aku akan langsung menyuruh anak buahku untuk memberimu pelajaran SEKARANG."bentak Dav membuat Alisha terkjeut dan juga semakin sakit hati. "Baiklah kalau kamu tidak mau mengatakannya, bersiap_siaplah...."
"Aku akan mengirimkan alamat di mana Elena berada sekarang. Apa kamu puas."Teriak Alisha di iringi dengan Isak tangisnya. Alisha langsung memutuskan sambungannya, ia segera mengirim alamat tempat di mana Elena berada sekarang. Untung saja ketika Elena bercerita, Elena memberitahukan tempat yang sudah di siapkan oleh Deon kepadanya. Jika tidak, mungkin Alisha tidak bisa lagi hidup normal untuk kedepannya.
Sementara itu di sisi lain, setelah mendapat alamat Elena yang di kirim oleh Alisha, Dav langsung menghubungi anak buahnya, Dav memerintahkan anak buahnya untuk segera pergi ke alamat yang di berikan oleh Alisha tadi. Dav tidak akan membiarkan pujaan hatinya jatuh kepada laki_laki lain. Bahkan jika Elena sudah menerima laki_laki itu, tentunya Dav tidak akan tinggal diam. Dav akan merebutnya meskipun harus menggunakan cara yang akan menyakiti Elena, Dav akan melakukannya. Elena hanya miliknya, selamanya akan menjadi miliknya seorang.
__ADS_1
Dav semakin mempercepat laju kendaraannya. Pikirannya saat ini hanyalah membawa Elena dan memberikan hukuman untuk gadis pembangkang itu. Dav akan membuat Elena menyesal karena sudah berani membantah perintahnya. "Tunggu hukuman dariku gadis pembangkang. "Geramnya semakin mempercepat laju kendaraannya membuat beberapa kendaraan lain harus menyingkir.
***
Deon sudah tiba di tempat yang sudah ia siapkan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Elena. Ia menuntun Elena karena mata Elena sengaja ia tutupi dengan kain penutup mata.
"Apakah masih jauh? Kenapa mataku di tutupi segala?"Tanya Elena sambil membalas genggaman tangan Deon yang terasa hangat. Sebenarnya Elena tahu Deon akan membawanya kemana, karena Sindy sudah memberitahu dirinya saat di kampus tadi. Namun Elena tidak tahu tempat itu di sulap menjadi seperti apa oleh Deon sehinnga membuat Elena penasaran.
"Sebentar lagi kita sampai. Sabar ya, karena ini kejutan untukmu, Elen."Jawab Deon Lembut. Elena hanya mengercutkan bibirnya, membuat Deon terkekeh pelan.
"Nah sudah sampai."Deon berdiri di belakang Elena, ia mulai melepaskan kain yang menutupi kedua bola mata Elena. Perlahan tapi pasti, Elena mulai membuka kedua bola matanya, pandangan yang pertama ia lihat adalah pantai. Pantai yang di hiasi oleh berbagai macam bunga juga lampu kelap kelip seperti bintang di langit menambah keindahan pantai itu.
Deon mengangguk, ia berdiri di samping Elena sambil menggenggam erat tangan Elena."Apa kamu suka, Elen?" Tanya Deon lembut.
"Sangat, sangat suka."Jawab Elena cepat membuat Deon tersenyum bahagia. "Terima kasih Deon."
"Terlalu cepat untuk berterima kasih."Deon mengusap lembut wajah cantik Elena."Masih ada kejutan lainnya yang akan menantimu, Elen. Jadi simpan dulu ucapan terima kasihmu itu."Sambungnya sambil menatap lekat wajah cantik Elena. "Sebaiknya kita makan dulu sekarang." Ajak Deon yang mendapat senyuman manis dari pujaan hatinya.
Deon berjalan menuju tempat makan yang berada di pinggir pantai. Tempat makan itu terlihat begitu romantis dengan hiasan lilin kecil yang membentuk sebuah hati di pinggirnya.
"Silahkan duduk tuan putri."Ucap Deon setelah ia selesai menarik kursi untuk Elena.
__ADS_1
"Terima kasih."Jawab Elena sambil memperlihatkan senyuman manis di wajah cantiknya.
Deon tersenyum, kemudian ia pun segera duduk di kursinya. Mereka mulai menikmati makan malam yang romantis itu tanpa gangguan dari siapapun. Malam ini adalah malam yang romantis bagi mereka berdua. Namun mereka tidak tahu jika sebentar lagi malam romantis itu akan berubah menjadi malam yang paling menyedihkan.
Elena
Dav
Deon
Alisha
Bersambung.
__ADS_1