Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Selamat datang di permainanku


__ADS_3

Deon mengepalkan satu tangannya kuat, ia paling tidak suka jika rahasianya di bongkar oleh orang lain meskipun dia adalah kakak kandungnya sendiri. Gerald yang melihat amarah dalam diri Deon pun mulai mengeluarkan suaranya. "Jangan menyalahkan kakakmu, Deon. Ini semua salah papa, maafkan papa Deon."


"Papa tidak perlu meminta maaf, aku akan membantu papa, tapi papa harus memberitahuku siapa Dav sebenarnya?"


"Kamu tahu Dav?" Tanya Gerald sambil menatap putra bungsunya itu. Deon hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil menatap sang papa menanti sebuah jawaban. Gerald menghela nafasnya kasar, kemudian ia kembali berkata. "Dav adalah ketua geng mafia yang paling berbahaya, Deon...Dia.. "


"Aku tahu dia ketua geng mafia, yang aku ingin tanyakan sebenarnya Seberapa berbahayanya dia, sampai-sampai papa harus menyembunyikanku darinya? Sekarang papa tahu aku adalah pemimpin mafia nomor dua di negara ini, jadi papa tidak perlu menyembunyikan apa pun lagi dariku."


Gerald terkekeh pelan, ia meraih minumannya, kemudian meneguknya secara perlahan, lalu setelah itu ia kembali menaruh gelas itu di atas meja. "Kamu tidak akan pernah bisa menang melawannya, Deon. Dia itu pemimpin geng mafia nomor satu, tidak ada orang yang bisa menyentuhnya, Deon. Termasuk kamu." Ucap Gerald membuat Deon sedikit terkejut.


"Sial, ternyata dia adalah pemimpin Strongest Demon, ah pantas saja anak buahku tidak bisa mengambil seluruh bukti dirinya, bahkan Simon pun dapat mati dengan mudah. Argh kenapa aku sama sekali tidak pernah terpikir, kalau dia adalah pemimpin Strongest Demon?" Deon mengusap wajahnya kasar, ia benar-benar tidak menyangka jika dirinya akan berhadapan dengan pemimpin nomor satu di negaranya, dan lebih tidak menyangka lagi, pemimpin nomor satu itu adalah Dav, laki-laki yang ingin di munsahkan olehnya.

__ADS_1


Deon menghela nafasnya panjang, ia mulai merapikan jasnya, lalu berkata. "Aku pergi dulu." Deon langsung beranjak dari tempat duduknya, ia berniat untuk pergi ke markasnya dan menyusun rencananya kembali.


"Deon.... Tunggu... " Panggil Gerald sambil beranjak dari tempat duduknya, namun Deon sama sekali tidak mengindahkan panggilannya, Deon terus pergi melangkahkan kedua kakinya meninggalkan kediaman Gerald.


***


Ponsel Dav berdering, Dav segera meraih ponselnya yang berada di atas meja, nama Lucas kembali terpampang di layar ponselnya membuat Dav mengernyitkan keningnya, kemudian ia segera menggeser tombol berwarna hijau, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Bos, saya mendapat info, Alex hari ini datang ke kediaman Gerald, dan sepertinya dia sudah mengetahui tentang anda yang sebenarnya. Meskipun dia pemimpin mafia nomor dua, tapi dia memiliki otak yang licik, dia tidak bisa kita kalahkan dengan mudah, bos. Jadi anda harus hati-hati."


"Aku tahu, jadi kau tidak perlu khawatir, kau tau siapa aku bukan?" Dav terkekeh pelan, ia harus mengingatkan Lucas tentang dirinya, dirinya yang tidak pernah takut dengan siapa pun kecuali setan Sadako. "Aku sudah membunuh banyak musuh, mulai dari geng Mara, Kelompok bagian dari penyelundupan narkoba, pasar gelap, perdagangan manusia, dan penjualan senjata. Kau pasti tahu itu bukan." Dav berdiri, kemudian ia berjalan menuju jendela ruangan tersebut.

__ADS_1


" Bahkan kelompok mafia dari negara B yang terkenal saja sudah ku musnahkan. Jadi untuk apa kau mengkhawatirkanku hanya karena dia licik? Ingat, Lucas! Aku adalah Dav, pemimpin mafia nomor satu di negara ini, sekalipun yang ku hadapi adalah Yakuza, mafia terkemuka asal negara J yang namanya telah mendunia, yang memiliki 102.000 anggota, aku tidak akan pernah takut." Tegas Dav sambil menatap gelapnya langit.


"Sudahlah, sebaiknya kau dan yang lainnya yang harus hati-hati, jangan pernah kecolongan lagi. Mengerti." Dav langsung memutuskan sambungannya, ia menggenggam erat ponselnya dengan tatapan mata yang masih tertuju pada gelapnya langit.


"Seberapa liciknya kau, tetap tidak bisa mengalahkanku, Alex." Dav memutar tubuhnya, ia kembali duduk di kursinya.


Dav tersenyum menyeringai, seringai yang begitu menakutkan yang sering ia tampilkan ketika dirinya sedang berhadapan dengan para musuhnya di dunia hitam. Dav mengambil segelas minuman yang beralkohol itu, lalu ia meneguknya secara perlahan menikmati setiap tetesnya.


"Selamat datang di permainanku, Deon. Semoga kau tidak mengecewakanku." Ucapnya sambil menggoyangkan gelas yang terisi dengan minuman beralkohol itu, Dav kembali meneguknya hingga tak tersisa sedikitpun, kemudian ia menaruh gelas kosong itu di atas meja.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2