Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Olah raga pagi


__ADS_3

Dav menurunkan sang istri ketika ia sudsh tiba di sisi ranjang. Tangannya mulai menyentuh dan menelusuri seluruh bagian wajah istrinya dengan lembut. Tatapan matanya sudah mulai berkabut, hembusan nafasnya sudah terdengar berat di telingat Elena. Elena sangat yakin jika suaminya itu sudah di selimuti oleh kabut gairahnya.


Elena mulai memejamkan kedua bola matanya ketika Dav mendekatkan wajahnya dengan dirinya. Perlahan tapi pasti, bibir Dav mulai menyatu dengan bibir manis milik sang istri, ********** dengan lembut, hingga membuat Elena terbawa arus olehnya. Tangan Dav mulai menekan tengkuk sang istri guna memperdalam ciumannya. Sementara tangan satunya lagi menelusuri setiap inci tubuh sang istri.


Elena mulai mengalungkan tangannya di leher sang suami, matanya masih terpejam menikmati setiap pergerakkan sang suami yang membuatnya serasa terbang di atas awan.


Keduanya terlihat begitu menikmati malam yang panjang dan penuh gairah itu, bahkan baju keduanya sudah tergeletak di atas lantai tanpa ada yang menyadarinya.


Kamar yang berukuran cukup besar itu, kini menjadi saksi percintaan yang begitu panas dan menggairahkan itu, *******-******* penuh nikmat memenuhi kamar itu.


***

__ADS_1


Setelah selesai bertempur, Elena langsung tertidur dengan pulas, sementara Dav masih terjaga sambil menatap istri kesayangannya itu. "Kamu pasti sangat kelelahan, sayang. Maafkan aku, karena aku terlalu bersemangat tadi," bisik Dav di telinga sang istri. "Semoga benihku secepatnya tumbuh di rahimmu, aku sungguh tidak sabar menantikan kehadiran buah hati kita sayang." Ucapnya sambil mengelus perut rata milik istrinya.


Dav sesekali mengeucp kening sang istri dengan lembut, dan membelai wajah lelah istrinya, lalu kembali mendaratkan kecupan hangatnya di pipi sang istri. "Kenapa aku begitu mencintaimu, baby. Sampai-sampai rasanya aku bisa gila bila satu detik saja berjauhan denganmu. Rasanya aku tidak ingin jauh darimu, aku ingin selalu di dekatmu, agar aku selalu bisa menatapmu. Agar aku selalu tenang dan tidak mengkhawatirkanmu." Dav kembali berucap sambil mengelus lembut wajah sang istri, menatapnya dengan dalam, bahkan senyumannya pun terukir indah dari sudut bibirnya.


"Ah sebaiknya aku tidur sekarang, daripada juniorku bangun lagi, bisa-bisa aku tersiksa sendiri." Dav mulai memejamkan kedua bola matanya secara perlahan, tangannya melingkar indah di pinggang ramping sang istri. Keduanya tertidur dengan hanya memakai selimut tebal yang menutupi tubuhnya.


***


Elena berusaha menyingkirkan tangan sang suami yang masih setia melingkar di pinggangnya, namun usahanya hanya sia-sia saja, karena tangan itu sangat sulit untuk di lepaskan.


Elena menghela nafasnya panjang, ia menatap suaminya yang masih menutup kedua bola matanya dengan tenang, Elena tersenyum, tangannya terulur mengelus lembut wajah tampan suaminya itu. "Sayang, ayo bangun. Nanti kamu kesiangan, loh." Ucap Elena dengan nada suaranya yang begitu lembut dan menggoda di telinga si mafia bucin itu yang saat ini hanya berpura-pura masih tertidur, padahal kenyataannya ia sudah terbangun ketika Elena berusaha melepaskan tangannya tadi. Suara sang istri yang begitu lembut seakan-akan sedang mengajaknya untuk melakukan olah raga pagi.

__ADS_1


Dav masih memejamkan kedua bola matanya, sementara itu juniornya sudah berdiri dengan tegak dan siap untuk bertempur kembali. "Sayang... Bangun! Ini sudah jam delapan, apa kamu tidak ke kantor?" Suara lembut Elena kembali masuk ke indera pendengarannya, Dav yang sudah tidak tahan pun seketika membuka kedua bola matanya, dan langsung membawa istrinya ke dalam selimutnya.


"Sayang. Apa yang kamu lakukan?" Teriak Elena yang merasa terkejut dengan perbuatan dadakan suaminya itu.


"Tentu saja olah raga pagi, memangnya apa lagi, sayang?" Jawab Dav sambil menelusuri kembali tubuh sang istri yang polos itu.


"Tapi,,,, i,, ini sudah jam delapan, apa kamu tidak pergi ke kantor?" Ucap Elena membuat Dav mengerutkan keningnya bingung.


"Sayang, apa kamu sudah pikun? Sekarang kita sedang bulan madu, waktuku hanya untukmu. Jadi jangan menyuruhku untuk pergi bekerja. Sebaiknya kita melakukan sesuatu yang menyenangkan dan menyehatkan." Bisik Dav kembali melakukan aktifitasnya yang tertunda. Elena hanya pasrah, ia membiarkan suaminya melakukan apa yang telah mereka lakukan semalam.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2