
Tempat lain.
Sindy terlihat sangat terkejut ketika Sam tiba-tiba saja mendekat ke arah dirinya. Dengan reflek, Sindy pun langsung menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Kamu mau apa? Jangan macam-macam!" Ucap Sindy sambip menatap horor si jomblo sejati itu.
Sam tersenyum dingin, ia tidak perduli dengan ucapan Sindy barusan, ia terus mencondongkan tubuhnya mendekati Sindy yang terlihat semakin ketakutan.
"Menjauhlah dariku, atau aku akan...." Ucapan Sindy tercekat di tenggorokkan saat Sam meraih seat belt dan memasangkannya.
"Jangan terlalu berpikir berlebihan. Aku sama sekali tidak tertarik denganmu." Ucap Sam sebelum ia menjauhkan kembali tubuhnya dari Sindy.
"Ckkk... Siapa suruh kau mendekat secara mendadak. Aku hanya reflek menjaga diriku saja, siapa tahu kau mencari kesempitan dalam kesempatankan." Dengus Sindy dengan wajah yang memerah menahan rasa malu karena terlalu percaya diri.
"Argh sangat memalukan. Dasar bodoh kau Sindy." Batin Sindy.
Sam kembali tersenyum dingin, lalu ia mulai melajukan kendaraannya secara perlahan. "Ckk saya sudah bilang, kalau saya sama sekali tidak tertarik dengan anda. Jadi! Jangan terlalu percaya diri, nona!" Tegas Sam tanpa melihat lawan bicaranya yang terlihat sangat kesal.
"Sekarang saya akan mengantar anda ke kediaman bos saya." Sambung Sam tanpa mengubah expresi di wajahnya.
__ADS_1
"B,,,bosmu? Uuntuk apa kau mengantarku kesana? Apakah bosmu akan membunuhku?" Tanya Sindy sedikit takut.
"Mungkin!" Jawab Sam singkat.
"Mungkin? Apa maksudnya dengan mungkin? Apakah kau sengaja ingin menakutiku, tuan dingin?" Seru Sindy kesal.
"Ya! Mungkin saja bosku akan membunuhmu, nona. Dan saya sama sekali tidak menakutimu, nona." Ucap Sam terlihat sangat serius membuat rasa takut Sindy semakin meningkat.
"Bagaimana ini? Apakah Dav benar-benar akan membunuhku? Kalau memang benar, aku harus kabur dari manusia dingin ini." Batin Sindy sambil berusaha untuk memutar otaknya mencari cara untuk melarikan diri dari Sam.
"Ingin kabur lagi?" Tanya Sam tepat sasaran.
"Baguslah. Sebaiknya anda tetap diam, nona. Atau aku akan melemparmu dari dalam mobil ini." Ucap Sam terlihat sangat serius membuat Sindy ketakutan.
Sindy tidak lagi menjawab ucapan Sam, ia hanya terdiam dengan perasaan yang berkecamuk, sementara Sam, ia terlihat fokus dengan setir kemudinya.
***
Mansion.
__ADS_1
Elena terlihat sangat bahagia ketika ia melihat kedatangan Sindy bersama Sam. Seketika, Elena pin langsung berhambur dan memeluk Sindy sahabat satu-satunya itu.
"Sindy, bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Elena tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Sindy.
"Elena, a,,, aku sudah baik-baik saja. Maafkan aku Elena, karena aku sudah..." Sebelum Sindy menyelesaikan ucapannya, Elena langsung memotongnya sambil melepaskan pelukannya.
"Sudahlah, Sin. Tidak perlu di bahas lagi. Aku sudah memaafkanmu kok." Ucapnya membuat Sindy tersenyum lega. "Ayo kita duduk. Aku kangen banget sama kamu, Sin." Ajak Elena sambil menggandeng lengan Sindy.
Sindy mengangguk, keduanya pun mulai berjalan menuju sofa yang berada di ruang tamu mansion itu.
Dav yang melihat kebahagiaan istrinya pun tersenyum, kemudian ia segera menghampiri sang istri dan memberikan kecupan mesranya di kening sang istri.
"Sayang, aku pergi ke ruang kerjaku dulu, ya. Kamu baik-baik disini, ya." Ucap Dav yang mendapat anggukkan kepala dari sang istri.
"Sam ikut ke ruanganku." Perintah Dav kepada Sam yang berdiri tidak jauh dari dirinya.
"Baik, bos." Jawab Sam sambil mengikuti langkah sang bos.
Setelah kepergian dua laki-laki berbeda status itu, Elena dan juga Sindy pun mulai mengobrol. Tidak lupa Elena meminta si bibi untuk membawakan cemilan dan juga minuman untuknya dan juga sahabatnya itu.
__ADS_1
Bersambung.