
Dav berjalan menuruni anak tangga, hari ini ia terlihat begitu bahagia. Bagaimana tidak, rencananya berjalan sesuai dengan ke inginannya. Dav sudah tidak sabar untuk memiliki Elena, gadis yang begitu di cintainya itu.
Dav tersenyum ketika mendapati Elena sudah duduk di kursi meja makannya, dengan segera Dav melangkahkan kakinya, kemudian duduk di samping calon istrinya itu. "Selamat pagi, baby."Ucapnya setelah Dav mencium mesra kening calon istrinya itu.
Elena melirik sekilas ke arah calon suaminya. Ia berusaha untuk memperlihatkan senyuman manis di bibirnya. "Selamat pagi."Jawabnya sambil tetap fokus menatap sarapan yang ada di hadapannya.
Dav kembali menyunggingkan senyumannya, kebahagiaannya jelas terpancar dari raut wajah tampannya. Hari ini Elenanya terlihat berbeda sekali, tidak seperti biasanya. "Kamu mau pergi, Elen?"Tanya Dav lembut sambil menatap wajah cantik yang berada di sampingnya itu.
"Tidak, kenapa?"Elena menatap Dav sambil mengerutkan keningnya bingung.
"Tidak apa_apa, aku hanya bertanya saja, karena tidak biasanya kamu berpenampilan seperti ini hmmm."
"Aku memang selalu berpenampilan seperti ini, Dav kamunya saja yang tidak menyadarinya."Dengus Elena sedikit kesal karena memang biasanya ia berpenampilan seperti biasanya.
"CK,, rambutmu biasanya kamu selalu mengikatnya, tapi sekarang tidak."Ucap Dav sambil memainkan rambut panjang Elena yang tergerai indah, menambah kecantikannya. "Jawab yang jujur, kamu mau pergi kemana?" Tanya Dav sambil menatap Elena penuh selidik. Memang biasanya, Elena selalu menggerai rambutnya ketika ia akan pergi kemana pun, jadi wajar saja, Dav bertanya seperti itu.
"Astaga, hanya gara_gara aku menggerai rambut saja, dia mengira aku akan pergi. Dasar berlebihan." Batin Elena sambil menatap Dav yang masih menantikan jawaban darinya. "Aku tidak pergi kemanapun, Dav. Kamu sendiri tahu, aku tidak ada jadwal kuliah hari ini, dan sahabatku Sindy sedang pergi ke rumah neneknya."
__ADS_1
"Baiklah aku percaya."Dav mengusap pucuk kepala Elena dengan lembut, lalu tangannya mulai meraih secangkir kopi panas buatan si bibi, lalu meneguknya secara perlahan. "Nanti siang kita akan melakukan fetting baju pengantin, aku akan menjemputmu, jadi kamu baik_baik di rumah. Mengerti." Ucapnya setelah ia selesai meneguk kopinya.
"Secepat itu?"
"Kenapa? Apa kamu keberatan?"Tanya Dav tak suka.
"Mmm ... Bukan seperti itu, Dav..."
Dav mengernyitkan keningnya, ia menatap Elena yang terlihat tengah gugup. "Lalu?"
"Mmm... Apakah pernikahan kita tidak bisa di...."
Setelah kepergian, Dav. Elena menghembuskan nafasnya pelan, ia tersenyum kecut, lalu kembali memakan sarapannya yang masih tersisa banyak.
Drt... Drttt....
Getaran ponsel membuat Elena seketika menghentikan aktifitasnya. Elena menatap layar ponselnya, di sana tertulis nama Alisha yang kini tengah menghubunginya. Elena menghembuskan nafasnya kasar, ia meraih benda pipih itu, lalu menggeser tombol berwarna hijau. "Elena, apa kamu sudah siap?"Seru Alisha terdengar tidak sabaran.
__ADS_1
"Apa yang harus aku katakan kepada kak Alisha sekarang?"Batin Elena. "Apa aku jujur saja, bahwa rencananya sudah di ketahui oleh, Dav!"Elena kembali membatin, perasaannya saat ini sangatlah kacau.
"Elena. Apa kamu tidak mendengarku?"Alisha kembali bersuara dengan intonasi yang tinggi, membuat Elena tersentak.
"Aku dengar, kak."
"Lalu, kenapa kamu tidak menjawab ucapanku?"Tanya Alisha tak suka. "Elena, jangan lupakan janjimu kemarin."
"Kak Alisha, maafkan aku. Sepertinya aku harus mengingkari janjiku, karena uncle Dav sudah mengetahui semuanya. Aku harap kak Alisha mengerti." Ucap Elena membuat Alisha seketika mengepalkan kedua tangannya di seberang telpon sana.
"Sudah ku duga. Kamu tidak akan mungkin meninggalkan Dav. Dav pria yang kaya raya dan juga tampan, banyak perempuan yang ingin menjadi kekasihnya termasuk kamu. Kamu perempuan sok lugu, sok baik, seharusnya aku tidak percaya dengan ucapanmu kemarin. Kamu sama seperti perempuan lain. ****** kecil. "Geram Alisha
"Apa maksud ucapan kakak? Kenapa kakak berbicara seperti itu? Bukankah aku sudah bilang, rencana kita sudah di ketahui oleh uncle, Dav. Kenapa kak Alisha malah menyebutku sebagai perempuan ******?" Ucap Elena menahan amarah dalam dirinya. Ia tidak menyangka jika orang yang selama ini ia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri, tega menyebut dirinya perempuan ******.
"Emang sudah sepantasnya kamu mendapat julukan perempuan ******, kalau bukan karena kamu, Dav tidak mungkin memutuskan hubungan ini, kalau bukan karena kamu yang tiba_tiba muncul, aku tidak mungkin kehilangan Dav. Seharusnya aku melenyapkanmu sedari dulu, aku terlalu naif, menganggapmu sebagai adik perempuanku, kamu seharusnya mati bersama kedua orang tua mu Elena."
"Seharusnya kak Alisha sadar diri, kalau bukan karena kak Alisha yang pergi meninggalkan,Dav. Semua ini tidak akan pernah terjadi. Jangan menyalahkanku, jika Dav mencintaiku, dan jangan mengungkit kematian orang tua ku." Ucap Elena sambil mengepalkan kedua tangannya kuat. Setelah itu, Elena langsung memutuskan sambungannya secara sepihak. Elena terdiam, tiba_tiba saja air matanya menetes membasahi wajah cantiknya.
__ADS_1
Bersambung.