
Setelah selesai dengan makan malamnya, Elena tidak langsung pergi ke kamarnya, ia menatap Dav yang sedari tadi fokus dengan layar laptopnya. Elena tersenyum, wajah Dav yang begitu serius terlihat begitu tampan, apalagi saat ini Dav tengah memakai kacamata kerjanya semakin menambah ketampanannya.
"Apa kamu mulai tertarik padaku, Elen?"Tanya Dav sambil melepaskan kacamatanya, lalu menatap Elena yang terlihat salah tingkah karena terciduk sedang menatapnya.
"Ish, apaan sih, om. Mana mungkin aku tertarik sama om yang usianya jauh lebih tua daripada aku."Jawab Elena membuat Dav menggeram kesal.
"Benarkah?"Dav beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia berjalan mendekati Elena."Coba tatap mataku, Elen. Lihat wajahku baik-baik."Dav berjongkok, ia menatap Elena, sementara kedua tangannya menangkup wajah cantik Elena supaya berhadapan langsung dengannya."Apakah aku terlihat tua?"Tanya Dav tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik Elena.
"Lepaskan, uncle."Elena berusaha untuk melepaskan tangan Dav dari wajahnya, namun Dav sama sekali tidak melepaskannya, Dav malah mendekatkan wajahnya dengan wajah cantik Elena.
"Jawab dulu pertanyaanku, Elen. Apakah aku terlihat sudah tua? Apakah aku tidak cocok denganmu?" Dav semakin mendekatkan wajahnya dengan Elena. Bahkan hembusan nafasnya yang beraroma tembakau masuk ke dalam indera penciuman Elena."Kenapa kamu diam saja, Elen?"Suara lembut itu kembali terdengar di telinga Elena. Elena berusaha untuk menahan nafasnya, ia tidak ingin jika bau lauk yang ia makan barusan tercium oleh hidung mancung Dav yang hampir menyentuh hidungnya.
__ADS_1
"Uncle, jauhkan wajahmu dariku."Ucap Elena sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Mulai sekarang, jangan memanggilku dengan sebutan Uncle lagi. Mengerti."Dav menjauhkan wajahnya, ia kembali berdiri dengan tatapan matanya yang tak lepas dari wajah cantik Elena.
"Memangnya kenapa?" Tanya Elena heran.
"Karena aku bukan unclemu, Elen."Tegas Dav.
"Tapi, aku sudah menganggapmu sebagai uncle ku sendiri."Elena menatap Dav, begitupula dengan Dav, mata mereka terkunci satu sama lain.
"Tapi, uncle...."
__ADS_1
"Elena. Aku tidak suka jika ucapanku di bantah. Lebih baik kamu dengarkan dan turuti perintahku." Ucap Dav sambil mengelus lembut wajah Elena.
"Baiklah. Lalu aku harus memanggil uncle apa?"Tanya Elena bingung.
"Terserah. Yang penting jangan uncle."Jawab Dav membuat Elena mendengus kesal, ia tidak tahu harus memanggil Dav dengan sebutan apalagi, Elena sudah merasa nyaman dengan panggilan uncle, tapi Dav malah menyuruhnya untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Uncle lagi. Benar-benar menyebalkan. Pikir Elena.
"Sekarang kamu istirahat, ya."Perintah Dav kembali dengan nadanya yang lembut. "Aku juga mau istirahat, besok aku harus pergi keluar kota untuk mengurus masalah di sana."
"Benarkah?"Tanya Elena girang membuat Dav seketika mengernyitkan keningnya tak suka.
"Apa kamu sesenang itu mendengarku pergi?" Tanya Dav kembali dengan nada dinginnya. "Elena, meskipun aku pergi ke luar kota, kamu tetap tidak di perbolehkan untuk pergi kemanapun. Jika kamu melanggar perintahku, maka bersiap-siaplah dengan hukuman yang akan kamu terima nanti. Mengerti."Tegas Dav membuat senyuman di wajah cantik Elena seketika menghilang. "Sekarang kamu istirahat, jangan berpikir untuk pergi kemanapun selagi aku di luar kota. Jika melanggar..."
__ADS_1
"Aku mengerti, uncle. Aku tidak akan pergi kemanapun. Puas."Elena beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju anak tangga."Dasar nyebelin. Kenapa sih dia seneng banget bikin aku kesel? Aku ini bukan tawanannya, kenapa kebebasanku harus dia yang pegang. Benar-benar menyebalkan."Gerutu Elena sambil menaiki anak tangga satu persatu. Elena benar-benar merasa terkekang hidup bersama Dav, namun ia juga tidak tahu harus berbuat apa. Kabur? Ia tidak ada keberanian untuk kabur, apalagi kedua orangtuanya sudah tidak ada. Elena tidak punya tempat untuk pergi. Terpaksa Elena harus bertahan hidup di bawah aturan Dav yang sudah suka rela merawatnya selama lima tahun.
Bersambung.