Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Jalan kematian Alisha


__ADS_3

"Ti,,, tidak, mungkin! Ka,,, kamu hanya becandakan, Dav? Ka,, kamu hanya ingin menakutiku saja, kan?" Ucap Alisha gugup. Ia masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Dav barusan.


Dav kembali tertawa, ia mulai mengeluarkan senjata apinya membuat Alisha semakin ketakutan. "Kau tidak percaya? Lihatlah, ini." Dav mengangkat senjata apinya, lalu melepaskan tembakkannya membuat Alisha langsung terdiam membeku di tempatnya.


"Alisha. Sebaiknya kita segera pergi dari sini." Deril kembali menarik tangan Alisha. Ia sangat yakin jika apa yang di ucapkan oleh Dav barusan memanglah benar. "Sialan. Aku harus segera pergi dari tempat ini." Batin Deril terus menarik tangan Alisha.


"Ingin keluar dari sini? Tidak semudah itu." Ucap Dav membuat Deril menggeram penuh amarah. "Bukankah kau ingin membalaskan dendam adik kesayanganmu itu, tuan Deril? Lakukanlah." Perintah Dav di iringi dengan seringai yang sangat menyeramkan.


Dengan rasa percaya dirinya Deril berkata. "Ya. Aku memang ingin membalaskan dendam adikku. Dan aku akan membuat hidupmu jauh lebih menderita daripada aku."


Dav hanya tersenyum sambil mengelus senajata apinya saat ia mendengar ucapan Deril barusan. Tidakkah Deril tahu jika dirinya adalah seorang pemimpin mafia nomor satu di negara itu? Jangankan Deril, bahkan orang yang memiliki kekuasaanpun tidak sanggup melenyapkan dirinya.


"Jadi! Bagaimana kau ingin balas dendam kepadaku? Apakah kau ingin menembakku? Atau kau ingin menusukku dengan pisaumu itu." Ucap Dav sambil menunjuk tangan Deril yang sudah memegang senjata tajam.


Deril tertawa jahat, ia memainkan senjata tajamnya sambil menatap Dav dengan dingin. "Meskipun aku mati di tanganmu malam ini, tapi, aku sudah mengirimkan para pembunuh untuk melenyapkan istrimu malam ini. Dan aku sangat yakin, mereka pasti sudah tiba di tempatmu sekarang. Mungkin saja istri kesayanganmu sudah MATI." Ucap Deril menekankan kata mati di akhir kalimatnya membuat Dav tidak senang.


Dor....

__ADS_1


Dav melepaskan tembakkannya tepat mengenai lengan kiri Deril membuat Deril mengerang kesakitan. Sementara Alisha terlihat begitu terkejut sekaligus ketakutan.


"Dav... Stop! Aku mohon, jangan bunuh dia." Teriak Alisha sambil memohon.


Deril berusaha untuk menahan rasa sakitnya, ia menatap Dav dengan tatapan penuh kebencian. " Matilah kau iblis." Teriaknya sambil mengarahkan senjata tajamnya ke arah Dav.


Dor....


Satu tembakkan kembali mengenai tangan kanan Deril membuat pisau yang di genggamnya jatuh seketika. Dav menyeringai, ia menatap Deril dengan tatapan yang begitu menakutkan. "Aku lupa memberitahumu. Pembunuh yang kau sewa untuk membunuh istriku semuanya sudah mati, bahkan mayat mereka sudah menjadi santapan harimau peliharaanku. Sekarang giliranmu yang akan ku jadikan santapan hewan peliharaanku." Ucap Dav dingin sambil mengangkat pistolnya dan mengarahkannya kepada Deril.


"Jangan bunuh dia, Dav. Aku mohon... "Alisha terus memohon, bahkan air matanya sudah mulai membanjiri wajah cantiknya itu. "Ini semua salahku, Dav. Aku yang menghasut Deril untuk membunuh Elena. Jadi ku mohon lepaskan dia." Alisha kembali berkata dengan tubuh yang bergetar.


"Deriiiil...... " Alisha langsung terduduk di lantai, tubuhnya lemas tak bertenaga, tangisnya pecah saat melihat Deril menghembuskan nafas terakhirnya namun masih memberikan senyuman manisnya kepada Alisha.


"Kenapa kamu sejahat itu, Dav? Kenapa kamu tidak membunuhku saja, kenapa....?" Teriak Alisha sambil menatap mantan kekasihnya itu.


"Alisha jika aku memberimu kesempatan untuk hidup, apakah kamu akan berubah menjadi Alisha yang ku kenal seperti dulu?" Tanya Dav sambil menatap Alisha.

__ADS_1


Alisha tertawa, kebenciannya terhadap Elena semakin besar, apalagi setelah melihat Dav membunuh Deril di depan matanya sendiri. "Ya. Aku akan berubah seperti dulu lagi, jika kamu kembali kepadaku." Ucap Alisha membuat Dav menggeram kesal.


"Alihsa! Apa kamu sangat membenci istriku, Elena? Jika kamu bisa menghilangkan rasa bencimu terhadap istirku, maka aku akan mengampunimu dan membiarkanmu hidup." Ucap Dav membuat amarah dalam diri Alisha memuncak.


"Ya. Aku sangat membencinya, sampai kapanpun rasa benciku tidak akan pernah hilang. Aku ingin dia mati, aku ingin dia lenyap dari muka bumi ini, karena jika dia mati, kita bisa kembali seperti dulu lagi. Kita bisa hidup bahagia selamanya."


"Oh! Tapi sayangnya, impianmu tidak akan pernah tercapai. Dan aku akan mewujudkan permintaanmu tadi, yaitu mengirimmu ke neraka." Ucap Dav dingin sambil mengangkat pistolnya dan mengarahkannya kepada Alisha.


"Tidak... Kamu tidak akan bisa membunuhku, Dav. Aku,,, aku adalah model terkenal, jika aku mati,,,," Ucapan Alisha tercekat di tenggorokkan saat Dav melepaskan tepat mengenai dadanya.


Dor....


"Argh..... Kau...... " Alisha menatap nanar mantan kekasih yang sangat di cintainya itu. Ia tidak menyangka jika nyawanya akan berakhir di tangan laki-laki yang selama ini dia cintai sepenuh hati. Air mata Alisha jatuh, tubuhnya tergeletak di atas lantai dingin. "Jika Tuhan memberi kesempatan kedua, aku pasti akan membuatmu berlutut dan memohon kepadaku, Dav." Batin Alisha sebelum ia menghembuskan nafas tetakhirnya.


Dav kembali menaruh pistolnya ke dalam saku jasnya. Ia menatap Alisha yang sudah tidak bernyawa lalu berkata. "Aku sudah memberimu satu kali kesempatan, Alisha. Tapi kamu sendiri yang memilih jalan kematianmu. Jika kamu melupakan kebencianmu terhadap istriku, mungkin aku tidak akan membunuhmu." Dav berjalan keluar, di luar sudah ada beberapa anak buahnya yang berjaga dan membersihkan tempat itu.


"Bereskan semuanya." Perintah Dav tanpa menatap para anak buahnya. Mereka hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam ruangan itu. "Antar aku pulang, Sam." Perintahnya lagi Kepada Sam. Sam mengangguk, lalu ia pun segera berjalan menyusul Dav.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2