
Setelah acara pernikahannya selesai, Dav langsung membawa Elena ke dalam kamar yang sudah di siapkan khusus untuk pengantin baru. Hiasan kamar itu terlihat begitu indah, banyak kelopak mawar bertaburan di atas tempat tidur, juga sepasang angsa yang membentuk love di tengahnya.
Elena terlihat sangat gugup, sementara Dav malah terlihat santai berjalan lalu duduk di sisi ranjang. Dav tersenyum melihat Elena yang terlihat enggan untuk melangkahkan kakinya. "Kemarilah, sayang."Ucap Dav lembut. "Apa kamu tidak lelah, seharian berdiri hmm."Sambungnya dengan senyuman manis yang selalu menghiasi wajah tampannya.
Elena bergeming di tempatnya, jujur saja hatinya begitu gelisah ketika ia mengingat bahwa saat ini dirinya sudah resmi menjadi istri Dav. "Kakiku pegal sekali." Batin Elena sambil menelisik setiap sudut kamar itu. "Kenapa tidak ada sofa di sini?"Tanya Elena membuat Dav terkekeh pelan.
"Untuk apa kamu menanyakan sofa, sayang? Apa kamu tidak ingin tidur bersama suamimu ini?"Dav berbalik nanya, ia berdiri kemudian berjalan mendekati Elena. "Istirahatlah, sayang. Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan apapun terhadapmu."Perintah Dav sambil mengelus lembut pucuk kepala Elena.
"Sungguh?"Tanya Elena tidak percaya. Bagaimana pun juga, suaminya itu seorang laki_laki normal, tidak menutup kemungkinan jika Dav melakukan sesuatu terhadap dirinya. Meskipun saat ini Elena sudah resmi menjadi istrinya, tetapi Elena masih belum siap untuk melakukan hubungan yang seharusnya suami istri lakukan. Membayangkannya saja, membuat Elena bergidik ngeri.
__ADS_1
Dav kembali tersenyum, ia mengecup sekilas kening istri kecilnya itu. "Kenapa? Apa kamu tidak percaya dengan ucapan suamimu ini?"Dav menatap lekat wajah cantik Elena. Lalu membelainya lembut. "Tetapi, jika kamu menginginkannya, dengan senang hati aku akan melakukannya." Bisiknya membuat bulu kuduk Elena meremang seketika.
"Dasar mesum..."Elena mendorong tubuh Dav, kemudian ia berjalan menuju tempat tidur. Elena langsung berbaring di atasnya."Ish menyebalkan. Kenapa dia sangat senang sekali menggodaku. Kenapa juga detak jantungku harus berdegup kencang seperti ini. Argh sangat menyebalkan."Batin Elena sambil menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Sayang, apa kamu ingin tidur dengan gaun pengantinmu itu?"Dav kembali berjalan menuju tempat tidur, ia duduk lalu menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh sang istri. "Ganti dulu bajumu, sayang. Hapus dulu make up mu, setelah itu, baru kamu tidur."Ucapnya lembut.
"Tapi aku sangat lelah, Dav..."Elena kembali menarik selimutnya, namun ia tidak berhasil karena selimutnya berada di tangan Dav yang begitu kuat.
"Tapi...."
__ADS_1
"Baiklah, biar aku yang mengganti bajumu."Sela Dav membuat Elena membolakan kedua bola matanya lebar.
"Aku bisa sendiri."Ucap Elena kemudian bangkit dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Rasa lelah dan juga ngantuknya hilang seketika karena ucapan suami mesumnya itu. "Dasar mesum ngeselin. Jangan harap aku akan membiarkanmu melihat kembali tubuh telanjangku."Batin Elena dengan raut wajah yang memerah seperti tomat. Elena kembali mengingat saat Dav menggendong tubuh telanjangnya beberapa hari lalu. Wajah Elena semakin memerah. Detak jantungnya semakin berpacu dengan sangat cepat. "Astaga, kenapa aku harus mengingat kejadian memalukan itu?"Ucap Elena sambil menyiram air ke wajahnya.
"Sayang, apa kamu sengaja membiarkan pintu kamar mandinya terbuka, agar aku melihat tubuhmu yang indah itu." Teriak Dav membuat Elena seketika sadar bahwa dirinya belum menutup pintu kamar mandinya.
"Dasar bodoh, kenapa aku bisa lupa menutup pintunya sih."Gerutu Elena sambil menutup pintu kamar mandi, lalu menguncinya dari dalam. "Bagaimana pun juga, cepat atau lambat, dia pasti akan melihat tubuh telanjangku ini..... Argh... Sialan, kenapa aku malah memikirkan sampai situ, apa aku sudah gila."Teriak Elena dalam hati. Ia benar_benar merutuki kebodohannya dan juga isi kepalanya yang mulai berkeliaran ntah kemana.
Dav terkekeh pelan, ia menyenderkan kepalanya di sisi ranjang. Bayangan tubuh Elena yang polos tiba_tiba saja masuk ke dalam kepalanya tanpa permisi, membuat Dav harus meneguk salivanya dengan kasar. "****... Kenapa tiba_tiba aku membayangkan tubuhnya? Sadarlah, Dav. Hilangkan pikiran kotormu itu."Ucap Dav berusaha untuk menghilangkan bayangan sialan itu. Namun bukannya menghilang, bayangan itu justru semakin jelas terlihat nyata membuat sesuatu di bawah sana terasa sangat menyesakkan.
__ADS_1
"Meskipun Elena sudah menjadi istriku, tetapi aku tidak akan memaksanya. Aku harus memegang janjiku kepadanya."Batin Dav tetap berusaha menenangkan dirinya. "Bersabarlah, belum saatnya kamu keluar. Tidurlah dengan tenang."Ucap Dav kepada adik kecilnya yang terasa semakin sesak.
Bersambung.