Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Penculikan


__ADS_3

Flashback On


Sindy menggeser tombol berwarna hijau, kemudian ia menempelkan ponselnya di telinganya. "Ada apa Deon? Kenapa kamu menelponku? Bukankah sudah ku bilang, saat ini aku sedang berada di mansion suami Elena." Tanya Sindy dengan suara pelan, khawatir jika ada yang mendengar pembicaraannya dengan Deon.


"Keluarlah dari Mansion itu sekarang, aku sudah menyiapkan rencana yang bisa membuat Elena pergi dengan sendirinya." Perintah Deon dingin.


"Ren,, rencana apa yang kamu maksud, Deon?"


"Kamu tidak perlu tahu, kamu hanya perlu keluar dari mansion itu sekarang. Mengerti."


"De,, deon... Sebaiknya kita,,, kita lupakan rencana kita ini... Aku,, aku takut.. "


"Tidak bisa! Lebih baik sekarang kamu keluar dari Mansion itu, karena aku sudah menyiapkan seseorang yang akan membantumu melancarkan rencana kita. Mengerti."


"Tapi.... "


"Kau harus ingat, Sindy. Kelangsungan hidup keluargamu berada di tanganku sekarang, kau hanya perlu membantuku untuk memancing Elena keluar, dan seluruh keluargamu akan bebas termasuk dirimu."


"Tapi,,, tapi aku tidak bisa melakukannya, Dav terlalu menakutkan... "


"Lakukan perintahku, jika tidak kau akan tahu akibatnya." Setelah mengucapkan hal itu, Deon langsung memutuskan sambungannya secara sepihak, Sindy yang belum sempat menjawab ucapan Deon pun hanya bisa menghela nafas beratnya.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus melanjutkan rencana ini?" Sindy membatin frustasi, ia berjalan mondar-mandir tidak karuan. "Apa sebaiknya aku minta bantuan sama om Dav saja? Mungkin saja om Dav bisa membantuku dan menyelamatkan keluargaku." Batin Sindy berniat untuk meminta bantuan kepada Dav.


"Ya sebaiknya aku meminta bantuan.... " Ucapan Sindy terhenti ketika ponselnya bergetar menandakan adanya pesan masuk untuk dirinya. "Deon? Untuk apa dia mengirimku video? Video apa yang dia kirim?" Sindy bertanya-tanya dalam hatinya. Dengan penasaran, Sindy pun langsung memutar video tersebut, dan betapa terrkejutnya dia ketika melihat adik satu-satunya dalam keadaan terikat dengan mulut tersumpal kain juga mata yang tertutup. Bahkan di kiri dan kanannya ada dua laki-laki berwajah sangar sedang menodongkan pistolnya ke arah kepala sang adik.


"Turuti perintahku, atau kamu akan kehilangan adik kesayanganmu itu. Jangan mencoba untuk meminta bantuan Dav, kalau kamu berani meminta bantuannya, maka nyawa adikmu dan juga kedua orangtuamu akan melayang. "Ucap Deon dalam video tersebut.


Tubuh Sindy langsung bergetar, air matanya jatuh membasahi wajah cantiknya. Dengan tangan yang bergetar Sindy pun segera mengirim pesan kepada Deon.


Jangan sakiti adikku, aku akan melakukan perintahmu sekarang.


Setelah mengirim pesan itu, Sindy mengepalkan tangan kirinya kuat, saat ini nyawa adiknya lebih penting, dia mengurungkan niatnya untuk meminta bantuan kepada Dav, Sindy menghapus air matanya ia tidak ingin Elena mengetahui dirinya habis menangis.


Flashback Of.


"Maaf, non, sepertinya mobilnya mogok."


"Jangan becanda, pak, mana mungkin mobil se bagus ini bisa mogok? Sebaiknya bapak cepat jalankan mobilnya," Ucap Elena sambil menatap si pak supir kesal.


"Se,,, sebentar, non, saya cek dulu mobilnya." pak Budi langsung membuka pintu mobilnya, ia keluar dengan terburu-buru meninggalkan Elena yang terlihat tengah menggeram kesal, juga khawatir dengan keselamatan sahabatnya.


"Sindy, bertahanlah sebentar, aku akan membawamu kd rumah sakit." Lirih Elena sambil memeluk tubuh sahabatnya itu. "Kenapa pak Budi lama sekali? Apa dia tidak tahu kalau sahabatku sangat terluka parah dan membutuhkan pertolongan? Ya Tuhan.... Ada apa sebenarnya? Siapa yang berani melukai Sindy? Dan kenapa Mansion yang di keliling begitu banyak penjaga sama sekali tidak menyadari keberadaan si penjahat itu?" Elena bermonolog sendiri, ia tidak habis pikir, Mansion yang di kelilingi oleh beberapa penjaga yang berwajah sangar itu sama sekali tidak menyadari kehadiran si penjahat yang sudah menembak sahabatnya itu.

__ADS_1


"Astaga... Aku sampai lupa mengabari suamiku." Elena menghela nafas beratnya, karena ia terlalu mengkhawatirkan keselamatan sahabatnya, ia sampai lupa memberitahukan suaminya, ia juga melanggar perintah sang suami yang tidak mengizinkan dirinya untuk keluar sendirian.


"Aku harus segera menghubungi Dav, jangan sampai dia mengkhawatirkanku." Elena mencari ponsel Sindy, ia berniat untuk menghubungi suaminya melalui ponsel sahabatnya itu, karena ia sendiri lupa membawa ponsel miliknya.


"Ketemu, untung saja aku ingat nomor suamiku." Ucap Elena sambil mengetik nomor suaminya Dav.


"Hallo... Sayang, ini aku." Ucap Elena ketika panggilannya sudah di angkat oleh suaminya.


"Astaga sayang, kamu di mana? Kenapa kamu pergi tidak memberitahukanku? Bukankah sudah ku bilang, jangan pergi sendirian? Kamu tahu di luar sana sangat berbahaya. Sekarang katakkan! Di mana kamu berada aku akan segera menyusulmu." Ucap Dav dengan nada suara yang terdengar begitu khawatir.


"Maafkan aku, sayang. Sekarang aku sedang berada di jalan raya, dekat danau, mobilnya mogok, jadi... "


"Tunggu aku di sana. Kamu jangan keluar dari mobil itu. Mengerti." Sela Dav dengan tegas. "Jangan matikan telponnya sayang, biarkan tersambung mengerti." Ucapnya lagi.


"Aku mengerti, sayang. Kamu cepatlah kemari, sahabatku terluka parah, aku sangat takut... "


"Tetap tenang sayang, jangan khawatir, aku yakin sahabatmu akan baik-baik saja."


"Aku.... Mmmmh.... " Suara Elena terhenti ketika seseorang menerobos masuk dan membekap hidung dan mulut Elena menggunakan kain yang sudah di beri obat bius membuat Elena perlahan tidak sadarkan diri.


"Sayang.... Ada apa denganmu?" Tanya Dav khawatir, "Sayang jawab aku." Dav kembali bersuara, namun sayangnya ia tidak mendapat jawaban dari sang istri membuat rasa khawatirnya semakin bertambah. Sementara itu, Elena sudah di bawa pergi oleh seseorang, ponselnya tergeletak begitu saja di atas kursi penumpang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2