
Dav memarkirkan mobilnya dengan sangat hati_hati, gadis yang selalu mengoceh di sampingnya, ternyata sudah tidur dengan nyenyak. Dav tersenyum, lalu ia melepaskan seatbeltnya, kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Elena yang masih terlelap dalam tidurnya.
Dav kembali tersenyum, tangannya mulai mengelus wajah Elena yang terlihat begitu cantik di matanya, perlahan tangannya mulai mengusap lembut bibir Elena. Bibir yang selalu saja menggodanya."Aku akan membuatmu perlahan mencintaiku, Elen. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi dari sisiku. Kamu hanya milikku, apapun caranya aku akan membuatmu tetap berada di sampingku."Batin Dav sambil menatap lekat wajah cantik Elena yang sudah membuatnya tergila_gila.
Dav mencium kening Elena beberapa saat, kemudian ia segera menjauhkan tubuhnya, lalu turun dari mobilnya. Dav berjalan memutari mobilnya, kemudian ia membuka pintu mobil untuk Elena. Dav langsung menggendong Elena dengan hati_hati, ia tidak ingin gadis pembangkang itu terbangun dan memintanya untuk di turunkan.
"Sepertinya hukumanmu tidak jadi malam ini, gadis pembangkang."Gumam Dav sambil terus berjalan melangkahkan kakinya memasuki mansion miliknya.
"Selamat datang, tuan."Sapa kepala pelayan sambil membungkuk penuh hormat.
"Sssst... Jangan berisik. Elena sedang tidur."Ucap Dav pelan memberhentikan langkah kakinya.
Dav kembali melangkahkan kakinya, ia berjalan menuju anak tangga dan mulai menaiki satu persatu anak tangga tersebut.
Setelah tiba di depan pintu kamar, Elena. Ia cukup kesulitan untuk membuka pintu itu, namun ia juga tidak ingin membangunkan gadis pembangkang itu. Dav berusaha meraih knop pintu tersebut, hingga beberapa detik, barulah pintu itu dapat terbuka lebar. Dav segera mausk ke dalam, lalu berjalan menuju ranjang Elena.
Dav mulai membaringkan tubuh Elena di atas ranjangnya. Ia tersenyum ketika melihat Elena yang masih saja terlelap dalam tidurnya. Selain pembangkang, ternyata gadis ini kebo juga. Pikir Dav sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Good night baby."Bisik Dav lalu mengecup kening Elena lembut, kemudian beralih ke bibir Elena yang selalu terlihat menggiurkan. Perlahan tapi pasti, Dav mulai mendekatkan bibirnya dengan bibir milik Elena, ia berniat untuk mengecup bibir itu.
__ADS_1
"Apa yang uncle lakukan?"Teriak Elena. Hembusan nafas hangat Dav membuatnya terganggu dan seketika membuka bola matanya. Elena sangat terkejut ketika melihat Dav sedang berusaha mencuri ciuman di bibirnya.
"Kenapa kamu bangun?"Tanya Dav kesal karena tidak berhasil mencuri ciumannya, Dav justru di kejutkan oleh teriakan Elena yang membuat kedua telinganya berdengung. "Padahal sedikit lagi aku bisa merasakan bibir itu, tapi dia malah bangun. Sangat menyebalkan."Geurtu Dav sambil mengusap wajahnya frustasi.
"Kenapa juga uncle kesal? Harusnya aku yang kesal."Dengus Elena sambil menatap tajam Dav.
"Sudahlah, kamu istirahat saja. Mood ku jadi hancur gara_gara kamu."Ucap Dav bersedikap sambil menatap Elena.
"Harusnya aku yang bilang seperti itu."
Kecupan hangat mendarat sempurna di bibir manis Elena, Elena langsung terdiam, membuat Dav ******* bibir itu sebentar. "Hukuman untukmu karena selalu melupakan panggilanmu."Ucap Dav tanpa rasa bersalahnya. Dav tersenyum kemudian ia mengusap lembut pucuk kepala Elena. "Istirahat, ya. Jangan lupa mimpikan kita berdua."Setelah mengucapkan hal itu, Dav langsung berlalu meninggalkan Elena yang masih saja terdiam kaku.
***
Drt... Drt ... Drtt...
Getaran ponsel membuat Elena terbangun dari tidurnya. Dengan malas Elena meraih benda pipih itu, lalu menggeser tombol berwarna hijau."Hmmm..."Elena bergumam pelan, nyawanya masih belum nyatu seutuhnya.
"Kamu belum bangun?"Tanya seseorang dari seberang telpon sana yang tak lain adalah Deon. "Maaf aku sudah mengganggu tidurmu, Elen."
__ADS_1
Seketika Elena langsung membuka bola matanya, ia tentu saja sangat hapal suara lembut itu." Deon! Ada apa kamu menelponku pagi_pagi?"Tanya Elena dengan suara khas bangun tidurnya. "Semalam... Apakah kamu tidak apa_apa? Mereka tidak melakukan sesuatu kan?"
"Kamu tidak perlu khawatir, Elen. Aku baik_baik saja. Buktinya sekarang aku sedang mengobrol denganmu."Jawab Deon membuat hati Elena lega."Bagaimana denganmu? Apakah uncle mu melakukan sesuatu yang menyakitimu?"Deon berbalik nanya, setelah kejadian semalam, Deon benar_benar sangat mengkhawatirkan Elena. Deon tidak dapat tidur semalaman, ia terus memikirkan Elena yang sudah di cium paksa oleh Dav laki_laki yang selalu saja menghalangi dirinya untuk mendekati Elena.
"Syukurlah, kalau kamu tidak apa_apa."Elena duduk di sisi ranjangnya. Tangannya meraih ikat rambut yang ada di atas nakas. "Aku juga tidak apa_apa, kok. Uncle tidak mungkin menyakitiku, kamu tidak perlu khawatir, Deon."Ucap Elena sambil mengikat rambutnya.
"Aku lega mendengarnya. Jika uncle mu menyakitimu, kamu katakan saja padaku. Aku pasti akan melindungimu."
"Hmm baiklah."Jawab Elena sambil menyunggingkan senyuman di wajah cantiknya."Lalu, ada apa kamu menelponku pagi_pagi begini? Apakah ada hal penting yang ingin kamu katakan?"
"Iya. Ini tentang semalam, Elen. Kamu belum memberiku jawaban atas perasaanku padamu."Deon menghela nafasnya pelan, ia sangat berharap jika Elena mau menjadi kekasihnya karena dirinya begitu mencintai gadis itu.
"Emmm sebaiknya kita bahas nanti saja, ya."Jawab Elena membuat Deon sedikit kecewa.
"Kenapa, Elena? Apakah kamu tidak mencintaiku? Atau kamu meragukan cintaku?"
"Bukan begitu, Deon. Aku, aku mencintaimu. Tapi...."Elena menggantungkan ucapannya membuat Deon semakin penasaran."Tapi aku tidak ingin membuatmu terluka karena ku, Deon. Aku tidak ingin uncle Dav melakukan sesuatu kepadamu. Aku tidak ingin kamu celaka hanya karena aku."Batin Elena. "Maafkan aku, Deon. Sebaiknya kita berteman saja, ya. Sepertinya kita tidak cocok untuk menjadi pasangan kekasih."Sambung Elena menahan rasa sakit dalam hatinya. Sementara itu, Deon langsung terdiam. Hatinya hancur se hancurnya. Dia tidak tahu alasan Elena menolak cintanya, padahal jelas_jelas Elena memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
Elena memutuskan sambungannya secara sepihak, ia tidak ingin lagi mendengar suara Deon, hatinya terasa sakit, dadanya terasa sesak. Ia sangat mencintai Deon, tetapi ia tidak dapat bersamanya. "Maafkan aku, Deon. Mungkin ini yang terbaik untuk kita."Lirih Elena.
__ADS_1
Bersambung.