Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Awasi dia


__ADS_3

"Hey! Ada apa denganmu, Sin? Kenapa wajahmu pucat seperti itu?" Tanya Elena setelah kepergian suaminya.


"Ah tidak apa-apa, kok." Jawab Sindy dengan cepat. "Sepertinya suamimu begitu mencintaimu, Elen." Ucapnya yang mendapat kekehan pelan dari Elena.


Elena berjalan menghampiri Sindy, kemudian ia duduk di samping sahabatnya itu. "Apa terlalu kelihatan banget ya." Tanya Elena yang mendapat anggukkan kepala dari Sindy. "Ya selain dia terlalu mencintaiku, dia juga sangat posesif, Sin."


"Kalau posesif aku juga tahu, dari dulu sebelum menjadi suamimu aja dia sangat posesif, apalagi sekarang."


Elena tertawa pelan, yang di ucapkan oleh sahabatnya itu memang benar adanya, sedari dulu Dav memang sangat posesif kepada dirinya, dulu Elena benar-benar merasa terkekang, tetapi setelah ia mengetahui jati diri suaminya, Elena jadi merasa terharu juga merasa bahagia karena suaminya itu begitu melindungi dirinya.


"Silahkan, non minumannya." Si bibi meletakan dua jus favorit Sindy juga Elena, beserta cemilannya di atas meja.


"Terima kasih bi." Ucap Elena selalu memberikan senyuman manisnya.


"Sama-sama, non. Kalau begitu bibi ke belakang dulu, non." Pamit si bibi sopan. Elena hanya menganggukkan kepalanya pelan, lalu setelah itu si bibi pun langsung melangkahkan kedua kakinya pergi.


"Minum dulu, Sin." Ucap Elena sambil meraih jus miliknya.


"Hmm terima kasih." Sindy meraih jus miliknya, lalu ia pun meminumnya secara perlahan.


Elena meletakan jusnya kembali di atas meja, kemudian ia berkata. "Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini Sin?"


"Hmm lumayan baik." Jawab Sindy sambil meletakan jusnya di atas meja. "Tapi aku sangat kesepian saat di kampus karena tidak ada kamu." Sambungnya sambil menatap Elena.


"Ck... Dasar berlebihan."

__ADS_1


"Serius Elena, kamu tahu sendiri, teman aku tuh cuma kamu doang, jadi kalau kamu gak ada di kampus, ya aku sendirian."


"Makannya cari pacar, Sin. Atau kalau perlu kamu menikah saja."


"Ck... Aku tidak mau menikah muda."


"Kalau begitu pacaran saja."


"Hmm pacaran! Gak ada cowoknya Elenaaaa." Ucap Sindy sambil menatap kesal Elena. "Kalau ada pun, aku tidak mau, karena laki-laki yang aku cintai itu adalah Deon, Elena." Batin Sindy.


"Alasan saja," Elena kembali meraih jusnya kemudian ia meminumnya secara perlahan.


"Sudahlah jangan bahas itu lagi, bikin aku kesel tahu gak." Ucap Sindy sambil melipat kedua tangannya di dada. "Oh iya, apa kamu sudah melupakannya?" Tanya Sindy dengan tiba-tiba membuat Elena mengerutkan keningnya bingung.


"Maksudmu?" Tanya Elena tidak mengerti.


"Sssst... Jangan bahas dia, Sin. Nanti suamiku dengar." Bisik Elena sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir sahabatnya itu.


"Sorry!"


"Sudahlah, sebaiknya kita ke taman belakang aja yuk, kita ngobrol di sana aja biar enak." Ajak Elena yang mendapat anggukkan kepala dari Sindy.


Keduanya beranjak dari tempat duduknya, lalu setelah itu mereka pun berjalan melangkahkan kedua kakinya menuju taman belakang.


***

__ADS_1


Ruang Kerja.


"Apakah ada yang mencurigakan?" Tanya Dav kepada kepala pelayannya.


"Tidak ada, tuan. Nona Sindy sama sekali tidak melakukan apa pun tuan." Jawab si kepala pelayan sambil menundukkan kepalanya.


"Kau terus awasi dia, jika ada sesuatu yang mencurigakan, segera lapor kepadaku. Mengerti." Perintah Dav dingin.


"Mengerti tuan. Kalau begitu saya permisi dulu tuan." Pamit si kepala pelayan yang mendapat deheman pelan dari Dav. Setelah itu kepala pelayan itu pun pergi melangkahkan kedua kakinya keluar.


Dav melipat kedua tangannya di dada, tatapan matanya tertuju pada layar komputer, namun pikirannya melayang jauh ntah kemana.


Sementara itu, di taman belakang kedua perempuan yang berbeda setatus itu sedang asik bersenda gurau sambil sesekali tertawa keras seperti bocah kecil.


Keduanya berhenti tertawa ketika ponsel milik Sindy berbunyi menandakan adanya panggilan telpon dari seseorang. Sindy mulai merogoh ponselnya dari dalam tas kecil miliknya, ia terkejut ketika melihat nama Deon di layar ponselnya.


"Siapa, Sin?" Tanya Elena sambil menatap Sindy.


"Eh.. Em bukan siapa-siapa kok." Jawab Sindy kembali memasukan ponselnya ke dalam tas kecil miliknya.


Elena hanya ber oh ria, membuat Sindy dapat bernafas lega. "El... " Ucapa Sindy terhenti ketika ponselnya kembali berdering.


"Nelpon lagi tuh, coba angkat dulu, siapa tahu penting, Sin." Ucap Elena sedikit penasaran dengan si penelpon itu.


Dengan terpaksa Sindy pun merogoh ponselnya dari dalam tas miliknya, Sindy menghembuskan nafasnya kasar ketika nama Deon kembali terpampang di layar ponselnya. "Kenapa dia menelpon lagi sih?" Gerutu Sindy dalam hati. Sindy menatap Elena kemudian ia berkata. "Emm sebentar ya aku angkat dulu telponnya." Ucapnya membuat Elena semakin penasaran dengan si penelpon itu. Tanpa menunggu jawaban dari Elena, Sindy pun langsung pergi melangkahkan kedua kakinya menjauh dari tempat tersebut.

__ADS_1


Elena menatap kepergian Sindy dengan rasa penasarannya, biasanya Sindy selalu terbuka dengan dirinya, bahkan saat ada panggilan telpon dari pacarnya dulu pun, Sindy selalu menjawabnya di depan Elena.


Bersambung.


__ADS_2