Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Gagal


__ADS_3

"Jangan, Dav. Aku,,, aku belum siap." Elena berusaha untuk mendorong tubuh suaminya. Rasa nyeri tiba_tiba saja muncul dari dalam perutnya.


"Panggil aku suamiku, sayang."Dav berbisik, bisikannya terdengar berat. Hembusan nafasnya yang hangat menyapu seluruh permukaan wajah Elena. "Sekarang, ya." Bisiknya kembali dengan hasrat kian membara.


Elena tidak menggubris ucapan suaminya itu, saat ini ia sedang merasakan sembelit di perutnya. Elena sangat yakin jika saat ini ia sedang kedatangan tamu bulanannya.


"Sayang."Suara berat sang suami terdengar kembali di telinga Elena, bahkan tangan suaminya itu sudah mulai aktif menjelajahi leher mulusnya. Dav semakin merapatkan tubuhnya, bibirnya sudah mulai menyentuh bibir manis milik istrinya.


"Dav...." Suara Elena tertahan ketika bibir suaminya itu ********** dengan lembut. Lidahnya mulai menerobos memaksa masuk ke dalam sana. Pertahanan Elena mulai runtuh, bibirnya mulai terbuka membiarkan lidah suaminya bermain di dalam sana.


Dav yang mendapat respon dari sang istri tersenyum penuh kemenangan. Ia bersorak gembira dalam hatinya. Malam ini ia akan menjadikan Elena miliknya seutuhnya. Mulai malam ini, ia akan membebaskan adik juniornya yang sudah tiga puluh lima tahun lebih bersemayam di bawah sana.


"Malam ini, kamu akan menjadi milikku sepenuhnya." Batin Dav sambil memperdalam ciumannya. Tangannya mulai turun ke bawah mengelus lembut perut sang istri membuatnya mendesah tertahan oleh ciuman panas itu.


Setelah beberapa menit, barulah Dav melepaskan pagutannya. Ia menatap istri kecilnya yang kini sedang memejamkan kedua bola matanya dengan nafas yang tak beraturan akibat ciuman panas yang di berikan oleh suaminya itu.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Elena Melody Sentra." Bisik Dav sambil menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya. "Seumur hidupku, aku hanya akan mencintaimu. Percayalah." Dav kembali berbisik, membuat Elena membuka kedua bola matanya secara perlahan.


Tatapan mereka bertemu dengan jarak yang begitu dekat, detak jantung keduanya berpacu dengan sangat cepat. Kedua terdiam beberapa detik, mereka masih memandang satu sama lain hingga akhirnya Dav kembali bersuara dengan nada beratnya. "Izinkan aku untuk menyentuhmu malam ini, izinkan aku untuk memilikimu seutuhnya, Elen."


"Maafkan aku, aku tidak bisa melakukannya malam ini." Lirih Elena membuat suaminya sedikit kecewa.


"Sayang, apa kamu tidak merasa kasihan kepadaku?" Dav mengusap lembut wajah cantik istrinya, hasrat yang ada dalam dirinya kian memuncak. Adik juniornya yang sudah terkurung selama tiga puluh lima tahun itu memberontak memintanya untuk di lepaskan. "Sayang...."


"Karena sepertinya aku sedang kedatangan tamu bulananku sekarang." Sela Elena membuat Dav langsung terdiam. Otaknya langsung ngeblank. Sepertinya dia sangat syok mendengar ucapan istrinya barusan.


Dav mulai bangkit dari tubuh istrinya, ia mengusal wajahnya kasar. "Sayang, kamu pasti sedang becandakan sama aku?" Dav kembali menatap istri kecilnya itu penuh harap.


"Aku serius." Jawab Elena kemudian bangkit dari tempat tidurnya. Elena berjalan menuju pintu kamar, ia berniat untuk pergi ke kamarnya untuk mengambil pembalut.


"Sayang, kamu mau kemana?"Dav pun berjalan mendekati Elena, ia tidak ingin jika Elenanya keluar dengan hanya menggunakan lingeri sexy itu.

__ADS_1


"Aku mau ambil sesuatu di dalam kamarku."Jawab Elena dengan tangan yang mulai menyentuh handle pintu kamar itu.


"Ambil apa? Biar aku yang ambilkan." Ucap Dav tetap lembut meskipun dirinya tengah menahan kabut gairah yang sedari tadi menyelimuti dirinya.


"Emmm... Tidak perlu. Biar aku saja yang ambil."


"Sayang. Lihatlah pakaianmu! Apa kamu ingin memperlihatkan tubuhmu kepada para pelayan di sini?" Ucap Dav membuat Elena seketika sadar dengan apa yang ia kenakan malam ini. "Jadi, biar aku saja yang ambilkan. Ok."


"Baiklah. Terserah kamu."


"Apa yang mau kamu ambil, sayang?"


"Pembalut di dalam laci." Jawab Elena cepat. Jujur saja ia merasa sangat malu untuk mengatakannya.


Dav tersenyum, kemudian ia mengecup kening istrinya mesra. "Baiklah, aku ambilkan. Kamu tunggu di sini, ya." Ucap Dav yang mendapat anggukkan kepala dari istrinya. Setelah itu, Dav pun segera keluar dari kamarnya. "Sepertinya malam ini aku harus mandi air dingin lagi." Batin Dav sambil mempercepat langkah kakinya menuju kamar yang dulu di tempati oleh istrinya itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2