Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Penyerangan2


__ADS_3

"Kau tidak boleh masuk!" Seru salah satu penjaga ruangan yang tadi di tempati oleh Deon.


Dav tetap melangkahkan kedua kakinya, aura membunuhnya begitu mendominan membuat beberapa penjaga itu langsung menarik pelatuk pistolnya dan siap untuk menembak, Dav.


Dooor.... Dooor.... Door....


Beberapa tembakkan itu mereka lepaskan ke arah Dav, Dav hanya menyeringai, dengan kemampuan hebatnya, Dav dapat menghindari beberapa tembakkan tersebut.


"Kalian bukanlah lawanku, jadi bersiaplah untuk pergi ke neraka." Ucap Dav sambil menarik pelatuk pistolnya, lalu ia melepaskan tembakkannya ke arah para penjaga pintu ruangan itu.


Dooor....


Satu tembakkan tepat mengenai salah satu kepala penjaga itu, penjaga tersebut langsung ambruk, dan langsung mati di tempat. Sementara itu, para penjaga lainnya, langsung kembali melepaskan tembakkannya ke arah Dav, ada juga di antara mereka yang langsung menyerang Dav menggunakan benda tajam.


Darah dalam diri Dav semakin mendidih, rahangnya semakin mengeras, aura membunuh yang di pancarkan olehnya semakin kuat, waktu untuk mencari keberadaan istri tercintanya semakin terbuang sia-sia gara-gara para penjaga sialan itu.


Dav menggerakkan tubuhnya dengan lincah, serangan dari lawannya sama sekali tidak ada yang mengenai dirinya, seringai mengerikan terbit dari sudut bibirnya, ia menatap nyalang para penjaga yang sudah kewalahan menghadapi dirinya, bahkan sebagian penjaga itu sudah terkapar akibat pukulan dan juga tendangan yang ia layangkan tadi.


"Dia sangat kuat, kita tidak dapat mengalahkannya." Bisik salah satu penjaga itu kepada temannya.

__ADS_1


"Sialan! Dia memang seperti iblis, tapi kita tidak boleh membiarkan dia masuk ke dalam ruangan ini,"


"Brengsek!!!" Dengus salah satu penjaga yang paling kuat di antara yang lainnya. "Matilah kau iblis... " Penjaga tersebut kembali melepaskan tembakkannya ke arah Dav.


Dooor.... Dor... Door...


Dengan lincah Dav menghindari tembakkan itu. "Sialan!!! Kau sudah membuang waktuku." Ucap Dav penuh amarah. Dav kembali menarik pelatuknya, kesabarannya sudah habis, ia mulai membabi buta, menembak dan menyerang para penjaga yang tersisa enam orang itu.


"Aaaarghhhhh... "


"Aaaargghhh... Dasar kau ib... Lis.. " Teriak salah satu penjaga sebelum ia meregang nyawanya.


"Ja... Jangan... Bu,,,, bunuh,,, aku.... "Salah satu penjaga yang tertembak di dada sebelah kirinya memohon dengan tubuh yang bergetar.


"Me,,, mereka,,, ti,, tidak ada,, di da,, lam. Me,,, reka su,,, dah per,,, gi,,, lewat pi,,, pintu be,,, lakang." Ucap si penjaga itu berharap dengan dirinya mengatakan hal sebenarnya, Dav dapat mengampuni nyawanya. Namun sepertinya harapan si penjaga itu sirna, ketika wajah Dav semakin memerah. Tatapannya semakin menakutkan dari sebelumnya.


Dooor....


Dav langsung melepaskan tembakkannya tepat di kepala si penjaga itu, setelah itu ia melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam ruangan itu, ia ingin memastikan ucapan si penjaga itu dengan mata kepalanya sendiri. "Brengsek!!! Dia memang sudah pergi dari sini... Arghhh sialan.... "Geram Dav sambil mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


"Aku pasti menemukanmu Elena, tunggu aku sebentar saja." Lirih Dav sambil kembali melangkahkan kedua kakinya menuruni anak tangga dengan cepat. "Sialan! Ternyata dia benar-benar lebih licik dari yang ku bayangkan. Aku pasti akan membunuhmu Alex." Batin Dav penuh amarah. Baru kali ini Dav merasa di permainkan oleh musuhnya. Deon benar-benar bukanlah lawan sembarangan.


"Bos... " Panggilan Sam terhenti ketika sang bos membuka mulutnya.


"Siapkan mobil, kita pergi lewat jalan belakang, Lucas dan yang lainnya pergi melewati jalan timur." Perintah Dav dingin.


Sam menganggukkan kepalanya, ia bergegas ke halaman depan untuk membawa mobilnya seperti yang di perintahkan bosnya barusan. Sebelum melajukan kendaraannya, Sam terlebih dahulu memerintahkan Lucas untuk pergi melewati jalan timur. Lucas hanya mengangguk paham, setelah itu ia pun langsung memerintahkan anggotanya yang masih tersisa untuk segera pergi sesuai dengan yang di ucapkan oleh Sam.


***


"Turunkan aku, Deon. Aku ingin pulang, aku tidak ingin ikut denganmu, aku mohon.... " Elena terus memohon kepada Deon, namun Deon sama sekali tidak menanggapinya. Deon terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Deon... Hentikan mobilnya, aku mohon.... "


"Diamlah, Elena! Jangan mengganggu konsentrasiku, mengerti." Tegas Deon meninggikan volume suaranya.


"Aku ingin pulang, Deon.... " Teriak Elena membuat Deon seketika menghentikan mobilnya dan menatapnya dengan tajam.


"DIAM!!! Jangan memancing emosiku, atau aku akan melakukan sesuatu terhadapmu sekarang juga." Bentak Deon sambil meraih dagu Elena. Tatapan matanya benar-benar menakutkan, membuat Elena harus susah payah menelan salivanya. Wajah Elena terlihat sangat ketakutan, bahkan Elena tidak berani untuk menatap laki-laki yang kini sudah berubah menjadi iblis itu.

__ADS_1


Deon menghela nafas beratnya, ia mengusap lembut wajah cantik Elena. "Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud untuk membentakmu, tapi suaramu mengganggu konsentrasiku dalam menyetir. Aku tidak ingin kita celaka sayang." Ucap Deon begitu halus dan lembut. Tatapan matanya pun kembali seperti semula penuh dengan cinta.


Bersambung.


__ADS_2