
Braaakkk....
Suara gebrakan meja membuat Sindy terkejut, ia menatap laki-laki yang berada di hadapannya dengan rasa takut juga khawatir. Sindy berjalan menghampiri laki-laki itu yang tak lain adalah Deon, Sindy berusaha untuk menghilangkan rasa takutnya terhadap Deon, aura yang di pancarkan oleh Deon benar-benar dapat membuat siapa saja merasa tertekan juga merasa ketakutan.
Perlahan tangan Sindy mulai terulur, ia berniat untuk menenangkan laki-laki yang sedang di selimuti kabut amarah itu, namun siapa sangka tangannya di tepis kasar oleh Deon. "Jangan menyentuhku! ucap Deon dengan suara terdengar begitu dingin juga tatapan matanya yang tajam membuat Sindy harus kembali mundur tiga langkah.
"Kamu sudah berubah Deon." Lirih Sindy sambil menatap nanar laki-laki yang sudah beberapa tahun menjadi sepupunya itu. "Kenapa kamu tidak melepaskannya, Deon! Biarkan dia hidup bahagia bersama pasangannya." Tuturnya membuat rahang Deon mengeras seketika.
"Jangan campuri urusanku, Sindy. Yang harus kamu lakukan adalah, membantuku mendapatkannya kembali."
"Tapi... Tidak semudah itu Deon. Bukankah kamu sendiri sudah membaca pesannya?"
"Argh... Sialan.... Ini semua pasti karena dia." Geram Deon dengan tangan terkepal dengan kuat. "Aku tidak mau tahu, kamu harus membuat Elena pergi sendiri untuk menemuimu, kalau tidak. Kamu akan tahu sendiri akibatnya." Gertak Deon dengan tatapan matanya yang semakin menajam membuat Sindy harus kembali menelan salivanya kasar.
Sindy tidak menyangka jika Deon akan berubah seperti itu, kasar juga dingin, bahkan aura yang di keluarkan oleh Deon benar-benar sangat menakutkan.
__ADS_1
"Aku tidak bisa janji, Deon." Lirih Sindy lalu berjalan menuju jendela yang ada di ruangan itu. "Kamu tahu uncle Elena orang seperti apa bukan? Dia tidak mungkin membiarkan Elena pergi sendirian. Apalagi sekarang setatus Elena adalah istrinya, itu sangat tidak memungkinkan untuk Elena pergi tanpa pengawasannya."
Deon berjalan mendekati Sindy, kemudian ia berdiri dengan jarak yang begitu dekat membuat Sindy dapat merasakan hembusan nafasnya yang hangat juga tak beraturan. "Kamu adalah sahabatnya, Sindy. Kamu bisa berpura-pura sakit atau kamu bisa berpura-pura kecelakaan. Bukankah Elena akan mempercayai semua ucapan sahabat tersayangnya? Jika kamu berhasil membuat Elena pergi menemuimu sendirian, maka kamu akan mendapatkan apapun yang kamu inginkan. Bagaimana? Bukankah itu sangat menguntungkan dirimu." Ucap Deon dengan seringai yang begitu mengerikan.
"Apapun yang aku inginkan? Apakah kamu bisa membuat seseorang mencintaiku?"
"Tentu saja bisa. Kamu cukup katakan orangnya, maka aku akan membuatnya mencintaimu."
Sindy terkekeh pelan, ia berbalik dan menatap Deon dengan tatapan yang sangat sulit di artikan. "Orangnya itu kamu Deon. Selama ini aku cukup sabar untuk berpura-pura menjadi sepupumu, aku juga cukup sabar untuk berpura-pura bahagia ketika kamu dan juga Elena mengungkapkan perasaan kalian masing-masing. Apakah kamu tidak tahu, seberapa sakitnya aku menahan cemburu juga amarah setiap kali kamu menyebut Elena sebagai perempuan yang paling kamu cintai. Apakah kamu tidak tahu jika selama ini aku menderita karenamu Deon."
"Berpura-pura menjadi sepupumu, itu sangat menyakitkan, tapi aku lakukan semuanya demi kamu, demi kamu bahagia, Deon. Tapi sekarang semuanya sudah berbeda. Gadis yang kamu cintai sudah menjadi istri orang lain, aku pikir kamu akan melupakannya, tapi nyatanya aku salah, Deon." Batin Sindy lalu berjalan melewati Deon yang tengah berdiri menunggu jawabannya.
"Kamu sendiri." Jawab Sindy membuat Deon langsung melepaskan tangannya kasar.
"Jangan bermimpi, Sindy. Karena aku tidak mungkin mencintaimu." Tegas Deon dengan tatapan yang mematikan. "Lebih baik kamu lakukan perintahku. Jika tidak! Kamu akan tahu sendiri akibatnya." Setelah mengatakan hal itu, Deon langsung pergi melangkahkan kakinya keluar meninggalkan Sindy yang hanya menatapnya dengan nanar.
__ADS_1
***
Dav memeluk tubuh Elena dari belakang, menelusupkan wajahnya di ceruk leher sang istri membuat sang istri sedikit terkejut. "Kenapa kamu sudah turun?" Tanya Elena lembut sambil menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Pagi ini aku ada rapat penting, sayang. Jadi aku harus berangkat pagi-pagi." Jawab Dav tanpa melepaskan pelukannya.
"Kenapa tidak bilang dari semalam? Aku baru menyiapkan sarapan untukmu."
"Aku lupa sayang."
"Yasudah sekarang lepaskan dulu pelukanmu, kamu duduk di sana, sebentar lagi sarapannya akan selesai."
"Baiklah. Aku akan menuruti ucapan istriku ini."Ucap Dav lalu melepaskan pelukannya, kemudian ia berjalan menuju ruang makan.
Setelah beberapa menit, Elena pun sudah selesai menyiapkan sarapannya, ia pun segera duduk di samping sang suami. "Ayo sarapan dulu." Ajaknya yang mendapat senyuman manis dari suaminya.
__ADS_1
"Kayaknya lebih enak jika yang menjadi sarapanku adalah kamu." Bisik Dav yang mendapat pelototan mematikan dari istrinya. "Aku hanya becanda sayang. Jangan anggap serius." Ucapnya di iringi dengan kekehannya. Elena tidak menanggapinya, ia mengambil sarapannya kemudian mulai memakannya dengan tenang, begitu pun juga dengan Dav.
Bersambung.