
Elena menatap ponselnya yang terus bergetar menampilkan panggilan dari nomor seseorang yang pernah hadir di dalam kehidupannya. Jujur saja ia tidak ingin mengangkat panggilan itu, namun Elena juga harus memberitahu laki_laki itu jika saat ini dirinya sudah menikah dan meminta agar laki_laki itu menyerah dan melupakannya. Meskipun laki_laki itu sudah mengetahuinya melalui stasiun televisi, tapi tetap saja laki_laki itu akan meminta penjelasan dari mulut Elena sendiri.
Elena menarik nafasnya dalam_dalam lalu membuangnya secara perlahan, kemudian Elena meraih benda pipih itu, lalu menggeser tombol berwarna hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Elena, kenapa kamu tidak pernah mengangkat panggilanku? Apakah kamu tidak tahu jika aku sangat merindukanmu." Tanya laki_laki itu yang tak lain adalah Deon, laki_laki yang pernah singgah di hati Elena.
"Maafkan aku, Deon. Tapi sebaiknya kamu tidak usah menghubungiku lagi. Lupakan aku, carilah perempuan yang jauh lebih baik daripada aku." Ucap Elena membuat Deon mengepalkan kedua tangannya di seberang telpon sana.
"Tidak bisa, Elen. Kamu tahu aku sangat mencintaimu, aku tidak mungkin mencari perempuan lain, aku hanya mencintai kamu. Kamu tahu itu."
"Tapi, Deon... Sekarang aku sudah menjadi istri Dav. Kamu pasti tahu bukan? Jadi aku mohon sama kamu, berhenti untuk menghubungiku. Lupakan aku, Deon."
"Apa alasanmu menikah dengannya, Elena? Apakah kamu mencintainya? Apakah selama ini kamu hanya mempermainkan perasaanku?" Tanya Deon masih dengan nada suara yang terdengar begitu lembut. Deon memang paling bisa menyembunyikan amarahnya dari Elena. Meskipun kini amarah dalam dirinya kian menggunung tinggi, namun ia masih tetap bisa mempertahankan nada suaranya yang lembut.
"Kamu benar, Deon. Aku memang mencintainya, maka dari itu aku minta sama kamu lupakan aku, jangan menghubungiku lagi."
"Baiklah, Elena. Aku tidak akan mengganggumu lagi, aku harap kamu bahagia bersamanya." Ucap Deon membuat Elena merasa lega. "Yasudah kalau begitu aku tutup dulu telponnya, berbahagialah, Elena."
__ADS_1
"Terima kasih, Deon. Semoga kamu juga secepatnya mendapatkan penggantiku dan hidup bahagia selamanya." Setelah mengucapkan hal itu, Elena langsung memutuksan sambungannya, ia kembali menaruh ponselnya di atas meja.
Elena menghembuskan nafasnya panjang, ia benar_benar merasa sangat lega karena sudah mengungkapkan isi hatinya kepada Deon. "Selamat tinggal Deon. Semoga kamu secepatnya mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari pada aku." Ucap Elena berharap agar Deon secepatnya mendapat pengganti dirinya. Ia juga berharap agar Deon hidup bahagia bersama pasangannya kelak.
***
Ruangan yang biasanya rapi, saat ini terlihat begitu berantakan. Semua barang_barang berhamburan di lantai, pecahan kaca berserakkan di mana_mana. Hanya tersisa satu bingkai photo perempuan cantik yang masih setia berada di tempatnya
Sementara itu, si pelaku yang membuat semuanya berantakkan terlihat sangat kacau. Juga terlihat begitu menyeramkan. Sepertinya iblis dalam dirinya mulai muncul setelah perempuan yang paling di cintainya memintanya untuk melupakan perempuan itu.
Seringai terbit dari laki_laki itu, seringaian yang begitu mengerikan, menandakan jika dirinya sedang merencanakan sesuatu yang licik demi mendapatkan perempuan yang sudah menjadi hidupnya itu.
"Bos... Apa anda tidak apa_apa?" Tanya si kepala pelayan dengan tiba_tiba. Ia sangat terkejut melihat ruangan bosnya yang biasanya rapi, kini terlihat sangat berantakkan.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk?" Ucap Deon dingin sambil menatap tajam kepala pelayannya.
"Maafkan saya, bos. Tadi saya sudah mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada jawaban dari anda, saya takut anda kenapa_kenapa, makannya saya masuk, bos."
__ADS_1
"Untuk apa kau datang kemari?" Tanya Deon sambil mendudukkan tubunya di atas kursi kebesarannya.
"Tuan Deril ingin bertemu dengan anda, bos. Beliau sedang menunggu anda di ruang tamu."
"Ck... Untuk apa dia ingin bertemu denganku?"
"Saya tidak tahu, bos. Dia bilang ada sesuatu yang ingin dia sampaikan kepada anda."
Deon kembali beranjak dari tempat duduknya, ia mulai merapikan pakaiannya yang berantakkan. "Panggilkan pelayan untuk merapikan ruanganku." Perintahnya dingin sebelum ia keluar dari ruangan tersebut.
"Baik, bos." Jawab si kepala pelayan sedikit membungkuk memberi hormat kepada bosnya itu.
Deon segera pergi meninggalkan ruangan itu. Ia sangat penasaran dengan maksud kedatangan sang kakak yang tiba_tiba itu.
Deril memang sangat jarang mengunjunginya, dia sangat sibuk mengurus perusahaannya di luar kota.
Bersambung.
__ADS_1
Hai readers setiaku... Jika berkenan mampir ke novel pertamaku, yuk. Terima kasih untuk dukungan kalian semua😘😘😘