
Sindy menatap takut laki-laki yang kini sedang berdiri di hadapannya dengan tatapan mata yang begitu mematikan. Laki-laki itu adalah Deon, laki-laki yang dulu selalu bersikap lembut, juga selalu tersenyum ramah kepada siapa pun.
Namun saat ini laki-laki itu hanya menampilkan wajah dinginnya, dengan tatapan matanya yang begitu menakutkan membuat siapa saja tidak akan berani untuk menatapnya.
"Sindy!" Seruan yang begitu dingin membuat Sindy harus menelan salivanya kasar. "Kau tidak mendengarkan perintahku hmmm." Deon berjalan mendekati Sindy, seringai menyeramkan mulai terbit dari sudut bibirnya. "Bukankah sudah ku bilang, jika kamu tidak berhasil membuat Elenaku keluar dari mansion sialan itu, maka perusahaan papamu akan hancur di tanganku."
"De,,,, Deon... Aku mohon, jangan libatkan perusahaan papaku dengan masalah ini." Mohon Sindy sambil menatap Deon dengan penuh harap.
Deon kembali menyeringai, ia meraih dagu Sindy, dan mencengkeramnya kuat hingga membuat Sindy meringis kesakitan. "Oh, jadi kau sedang memohon kepadaku!"
Sindy mengangguk pelan. "I,,,iya.. Deon, bisakah kamu tidak melibatkan perusahaan papaku dengan masalah ini? Aku pasti akan berusaha untuk membuat Elena pergi dari mansion itu." Lirih Sindy dengan air mata yang mulai terjatuh membasahi wajah cantiknya.
__ADS_1
"Gadis pintar." Deon melepaskan cengkramannya dengan kasar, lalu ia kembali berkata dengan nada yang begitu dingin. "Kalau kamu berhasil, kamu akan mendapatkan apa pun yang kamu inginkan, tetapi jika kamu gagal, maka bersiap-siaplah seluruh keluargamu akan menderita bersamamu. Mengerti." Setelah mengatakan hal itu, Deon langsung pergi melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Sindy yang hanya dapat menahan amarahnya.
"Aaaaargh...... " Sindy langsung berteriak sekencang-kencangnya, ia mulai membanting barang yang ada di dekatnya untuk melampiaskan amarah dalam dirinya. "Kenapa semua jadi seperti ini? Kenapa aku harus berhadapan dengan iblis seperti dirinya? Sebenarnya kesalahan apa yang sudah aku lakukan kepadamu Deon?" Sindy kembali berteriak, air matanya kembali jatuh membasahi wajah cantiknya.
"Elena..... Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mungkin mengorbankan seluruh keluargaku hanya untuk dirimu bukan?" Sindy menghapus air matanya, kali ini ia bertekad akan membuat Elena keluar dari mansion itu. "Maafkan aku Elena, aku hanya ingin melindungi keluargaku. Jika ingin menyalahkan, Salahkan saja cinta pertamamu itu, Elena." Lirih Sindy sambol merogoh ponselnya. Sindy segera menghubungi Elena, Kali ini ia harus berhasil membuat Elena pergi untuk menemuinya sendirian, jika tidak berhasil, maka seluruh keluarganya akan hancur.
***
"Ada apa Sin? Tumben kamu menelponku di jam segini? " Tanyanya penasaran.
"Astagaa, Elenaaaaa, kenapa kamu akhir-akhir ini susah sekali sih di hubunginya? Aku telpon, jarang di angkat, aku sms gak kamu bales-bales, kamu sengaja ingin ngejauhin aku ya."
__ADS_1
"Maafkan aku, akhir-akhir ini aku jarang sekali pegang ponsel, aku sibuk sama kuliah onlineku, Sin." Ucap Elena sambil menghela nafasnya kasar. "Jadi ada apa kamu menghubungiku?" Tanya Elena penasaran.
"Aku akan memaafkanmu tapi.... Kita harus ketemu di cafe biasa. Bagaimana?"
"Maaf, Sin. Aku tidak bisa. Kamu tahu sendiri suamiku gak bakalan ngizinin aku keluar sendirian. Jadi kalau kamu ingin bertemu denganku, kamu main saja ke sini ya."
"Ayolah, Elena. Ini yang terakhir kalinya kita bertemu, karena minggu besok aku akan pergi ke luar negeri dengan kedua orangtuaku." Sindy menghela nafasnya panjang, kemudian ia kembali berkata. "Please.... Untuk kali ini aja, Elena. Aku sangat-sangat merindukan kebersamaan kita yang seperti dulu."
Elena kembali menghela nafasnya panjang, jujur saja ia juga sangat merindukan masa-masa dulu bersama sahabatnya itu.
Bersambung.
__ADS_1