Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Tidak tahu tempat


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Dav terlihat mulai merapikan berkas-berkasnya karena hari ini ia memutuskan untuk pulang lebih awal. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dan memeluk istri tercintanya dan menanyakan tentang pemeriksaan sang istri, apakah benar ia hamil atau itu hanya tebakkan Sam saja.


Dav meraih jas hitam yang ia taruh di kepala kursi kebesarannya, kemudian ia pun memakainya dengan tidak sabaran. Setelah selesai, Dav pun langsung meraih ponsel miliknya yang berada di atas meja kerjanya, lalu mengirimkan sebuah pesan romantis kepada sang istri.


Istriku Tercinta.


Sayang, hari ini aku pulang lebih awal. Kamu ingin aku bawakan apa?


Dav segera mengirimkan pesan itu kepada sang istri, lalu ia meraih berkas-berkas yang tadi ia rapikan itu untuk di bawa pulang. Dav mulai beranjak dari kursi kebesarannya, ia berniat untuk pergi meninggalkan ruangannya, namun niatnya terhenti ketika ia mendengar suara ketukan pintu.


Dav menghela nafasnya kasar, ia pun duduk kembali di kursinya, lalu memerintahkan seseorang yang mengetuk pintu itu untuk masuk.


"Masuk!" Perintahnya datar.


Setelah ia memberi perintah, pintu ruangannya pun terbuka lebar, Sam asisten jomblonya berjalan masuk dengan wajahnya yang datar menghampiri Dav.


"Bos ada berkas yang harus anda tanda tangani sekarang." Ucap Sam seraya menyodorkan berkas yang berada di tangannya.


Dengan wajah yang datar, Dav pun meraih berkas tersebut, kemudian menandatanganinya, lalu memberikan kembali berkas tersebut kepada Sam.


"Hari ini aku akan pulang lebih awal, kau juga tidak perlu lembur." Ucap Dav sembari beranjak dari kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Baik, bos." Sahut Sam seraya menganggukkan kepalannya pelan.


"Aku pulang dulu." Ucap Dav yang mendapat anggukkan kepala dari si asisten jomblonya itu. Setelah itu, Dav pun langsung melangkahkan kedua kakinya meninggalkan ruangan tersebut, begitu pun juga dengan Sam.


***


Dav sudah tiba di kediamannya, dengan tidak sabaran ia pun mencari keberadaan istri kesayangannya itu.


"Tuan lagi cari nona Elena?" Tanya si bibi seraya menghampiri Dav dengan ramah.


"Hmmm,,,, di mana dia? Kenapa aku tidak melihatnya?" Tanya Dav kembali mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangannya.


"Nona Elena sedang berada di taman belakang bersama nona Sindy, tuan." Ucap si bibi ramah.


Tiba di taman belakang, Dav langsung menghampiri sang istri yang tengah asyik mengobrol bersama temannya, Sindy. Dav langsung memeluk istrinya dari belakang, dan memberikan beberapa kecupan hangatnya di pucuk kepala sang istri. Ia sama sekali tidak memperdulikan bahwa di sana masih ada Sindy, temannya istrinya itu.


"Sayang, aku sudah pulang, kamu tidak menyambutku hmmm." Ucap Dav menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Elena, membuat Elena merasa malu.


"Emm sayang jangan seperti ini. Malu ada Sindy, ih." Bisik Elena kepada sang suami, lalu menatap Sindy sambil tersenyum kikuk.


"Bodo amat! Anggap saja dia tidak ada." Sahut Dav tanpa melepaskan kedua tangannya yang melingkar di pinggang ramping sang istri.

__ADS_1


Sindy yang merasa seperti obat nyamuk pun mulai bersuara. "Elena, gue pulang dulu, ya. Sepertinya ada hal yang harus gue lakukan sore ini." Ucap Sindy sambil memperlihatkan senyumannya kepada Elena.


"Padahal baru sebentar kita ngobrol, lo udah mau pulang aja." Keluh Elena di iringi dengan helaan nafasnya.


" Kan masih ada waktu besok, Elen. Gue janji, besok gue bakalan datang lagi ke sini, ok." Ucap Sindy seraya meraih tas miliknya.


"Ya kali gue nonton kalian berdua bermesraan di sini, sangat menyebalkan." Batin Sindy.


"Emm yasudahlah terserah lo aja. Oh iya gue anterin ke depan ya."


"Tidak perlu, gue sendiri aja. Bye,,, bye,,,," Setelah itu Sindy pun langsung melangkahkan kedua kakinya dengan terburu-buru pergi meninggalkan taman belakang itu.


Setelah kepergian Sindy, Dav langsung melepaskan kedua tangannya yang melingkar di tubuh sang istri, lalu membalikkan tubuh sang istri agar berhadapan langsung dengannya.


"Aku sangat merindukanmu, sayang." Bisik Dav sambil mengelus wajah cantik sang istri dengan lembut.


Sebelum Elena menjawab ucapannya, Dav langsung mendaratkan kecupannya di bibir manis milik istrinya itu. Kecupan itu berubah menjadi ******* lembut yang memabukkan, bahkan Elena yang tadinya merasa terkejut pun kini terlihat mulai menikmati ciuman yang di lakukan oleh suami bucinnya itu.


"Aish... Pasangan romantis itu tidak pernah kenal tempat. Bibi kan jadi malu." Batin si bibi yang tidak sengaja melihat adegan ciuman majikannya tersebut.


"Duh, lanjut anterin rujak ini atau tidak ya. Kalau lanjut, nanti aku mengganggu keromantisan mereka, tapi kalau tidak, nanti di omelin sama tuan Dav. Aih... Jadi serba salah begini ya." Gumam si bibi merasa bingung sendiri.

__ADS_1


"Ah sebaiknya aku kembali sajalah, biarkan di omelin juga, daripada harus mengganggu keromantisan mereka berdua, nanti nona Elena jadi malu lagi." Akhinya si bibi pun memutuskan untuk kembali ke dalam, ia tidak ingin mengganggu pasangan yang sedang asik berciuman itu.


Bersambung.


__ADS_2