
Dav mengelus lembut puncak kepala istrinya, sejujurnya ia sangat tidak rela meninggalkan istri tercintanya itu, namun mengingat rapat pagi ini sangat penting, mau tidak mau Dav harus meninggalkan istrinya di mansion miliknya."Sayang, aku berangkat dulu ya.
Dav mengecup mesra kening sang istri, ia tidak memperdulikan sang jomblo yang tengah berdiri tegak menunggu dirinya di samping mobil menyaksikan drama romantis dua mahluk beda jenis itu. "Tunggu aku di rumah baik-baik, jangan pergi kemanapun. Mengerti." Dav kembali mengingatkan sang istri untuk tidak meninggalkan mansionnya.
Elena tersenyum sambil mengangguk pelan. "Aku mengerti, ini sudah kesebelas kalinya kamu mengingatkanku." Tuturnya sambil mencubit pelan perut sang suami. "Yasudah kamu berangkat sana, tidak lihat kalau asistenmu sudah menunggumu sedari tadi." Ucap Elena sedikit mendorong tubuh suaminya agar menjauh dari tubuhnya. Suaminya itu selalu saja menempel seperti prangko.
"Jangan mendorongku, sayang." Dav merangkul pinggang ramping sang istri membawanya ke dalam pelukannya. "Kalau tidak ada rapat penting, aku pasti tidak akan meninggalkanmu sekarang." Ucapnya masih memeluk tubuh istrinya mesra. "Jangan lupa, malam ini adalah malam yang panjang bagi kita berdua. Persiapkan dirimu, pakailah lingerie yang sudah aku siapkan untukmu sayang. Mengerti." Bisik Dav membuat bulu kuduk Elena meremang seketika. Sepertinya malam ini ia tidak bisa menghindarinya lagi, karena tamu bulanannya sudah pergi.
Dav melepaskan pelukannya, ia tersenyum ketika melihat wajah memerah sang istri yang begitu menggemaskan bagi dirinya. "Ingat yang aku bisikkan barusan, sayang." Ucapnya ketika bisikannya tadi tidak mendapat jawaban dari istri kecilnya itu."Aku pergi dulu ya. Jaga dirimu baik-baik. Dan jangan nakal. Mengerti."Dav kembali mengusap lembut pucuk kepala Elena, lalu setelah itu ia pun kembali mengecup kening istrinya, lalu kembali mengecup sekilas bibirnya yang manis itu.
"Astaga bos.... Kenapa anda sebucin ini? Cium aja terus bos, gak usah di lepaskan. Lupakan keberadaanku yang menyedihkan ini." Batin Sam kesal melihat tingkah bos bucinnya itu.
__ADS_1
"Ekhmmm.." Sam mendehem pelan membuat bos bucinnya itu langsung menatapnya tajam. "Bos sepertinya kita harus segera berangkat." Ucap Sam hati-hati tidak ingin membuat bosnya kesal atau pun marah.
"Cerewet." Dengus Dav lalu masuk ke dalam mobilnya. "Sayang! Ingat pesanku tadi ya." Ucapnya kepada istri kesayangannya sambil memberikan kedipan mata nakalnya.
Elena hanya menggelengkan kepalanya pelan, sepertinya suaminya itu sudah tidak sabar untuk melakukan sesuatu yang akan membuat mereka melayang di udara. Ah kenapa juga Elena jadi ikut membayangkannya? Apakah Elena sudah ketularan mesum sama suaminya? Sepertinya memang begitu.
"Nona, saya permisi dulu." Pamit Sam membuyarkan lamunan kotor istri bosnya itu, Elena hanya mengangguk pelan, lalu setelah itu Sam pun berjalan memutari mobilnya, kemudian ia segera membuka pintu mobil untuk dirinya. Sam segera masuk, tanpa menunggu lebih lama lagi, Sam pun langsung menyalakan mesin mobilnya, ia mulai melajukan kendaraannya dengan sangat hati-hati.
***
Perusahaan William's.
__ADS_1
Setelah selesai mengadakana rapat, Dav kembali ke dalam ruangannya di ikuti oleh Sam asistennya. Raut wajahnya masih saja terlihat bahagia, meskipun ada sedikit masalah saat rapat tadi, namun Dav sepertinya tidak terlalu menakutkan seperti biasanya. Dav hanya menyuruh karyawannya untuk lebih teliti lagi dalam menjalani pekerjaannya. Jika biasanya tentu saja Dav akan berteriak, memarahi para karyawannya. Bahkan auranya dapat membuat setiap orang yang berada di dalam ruang rapat itu merinding. Seperti melihat setan saja.
"Sam bagaimana dengan persiapan bulan maduku?" Tanya Dav sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kebesarannya. Sepertinya si mafia bucin itu sudah tidak tahan lagi untuk pergi berduaan dengan istri kesayangannya. Apalagi saat dia mengingat jika tamu bulanan istrinya sudah pergi, rasanya ia ingin kembali lagi ke mansionnya menghabiskan waktu berdua bersama istrinya di dalam kamar. Membayangkannya saja sudah membuat sesuatu yang berada di bawah sana berdiri tegak seperti tiang listrik.
"Saya sudah memilih beberapa tempatnya, bos. Silahkan anda lihat sendiri." Sam menyerahkan ponselnya kepada bosnya itu. Di dalam ponselnya ada beberapa photo yang menampilkan beberapa tempat yang begitu indah sangat cocok untuk pasangan suami istri pergi berbulan madu.
"Aku mau pergi ke tempat ini. Kau atur semuanya. Mengerti." Ucap Dav kembali menyerahkan ponsel asistennya. "Kalau bisa minggu depan." Tegasnya sambil menatap datar asistennya.
"Mengerti bos. Saya akan usahakan minggu ini anda bisa pergi untuk bulan madu. Berapa lama anda pergi?"
"Satu minggu." Ucap Dav sambil menyanggah dagunya dengan kedua tangannya. Sam hanya mengangguk paham, ia tidak akan berkomentar, karena ia tidak ingin membuat bos bucinnya itu kesal. "Baiklah, sekarang kau boleh keluar." Titahnya yang mendapat anggukkan kepala dari asistennya.
__ADS_1
Bersambung.