
Dav terkekeh pelan, tangannya mengusap lembut pucuk kepala istrinya, lalu ia mengecup lembut kening sang istri. "Kamu terlalu fokus dengan ponselmu, sayang. Makannya kamu tidak menyadari kehadiranku." Ucap Dav lembut tanpa melepaskan senyuman manis di bibirnya.
Elena langsung menaruh ponselnya di atas tempat tidur, kemudian ia duduk sambil menatap lekat wajah sang suami. "Kamu tuh yang datangnya seperti jelangkung, gak ada tanda-tandanya hmm." Tuturnya sambil mencubit gemas hidung mancung suaminya. "Tumben udah pulang? Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya Elena lalu menyenderkan kepalanya di dada bidang milik suaminya.
Dav kembali mendaratkan kecupannya di pucuk kepala istrinya, tangannya mengelus lembut wajah sang istri, lalu berkata dengan nada begitu lembut. "Karena aku terlalu merindukanmu sayang, jadi aku pulang tanpa menyelesaikan pekerjaanku." Dav memeluk erat tubuh istrinya, mencium aroma tubuh sang istri yang membuat dirinya nyaman dan juga menenangkan. "Rasanya aku bisa gila bila satu detik saja tidak memelukmu seperti ini." Bisiknya manja.
"Dasar berlebihan."Elena mendorong pelan tubuh suaminya, ucapan manis suaminya itu mampu membuat dirinya tersipu. Bahkan detak jantungnya mulai berpacu dengan sangat cepat. "Emm... Apa kamu sudah makan?"Tanya Elena sambil berusaha menormalkan detak jantungnya.
"Belum sayang." Jawab Dav kembali membawa Elena ke dalam pelukannya.
"Kalau begitu kamu bersihkan dulu dirimu, lalu kita turun ke bawah untuk makan malam, kebetulan aku juga udah laper." Ucap Elena kembali mendorong pelan tubuh suaminya.
Namun bukannya menuruti ucapan sang istri, Dav justru menarik pinggang ramping sang istri hingga terjatuh ke dalam pelukannya."Aku hanya ingin memakan kamu malam ini." Bisiknya lalu menggigit pelan daun telinga Elena membuat Elena langsung terdiam merasakan hawa panas di sekujur tubuhnya. Sepertinya telinga Elena terlalu sensitif, hanya dengan gigitan kecil saja sudah membuat Elena panas dingin.
__ADS_1
"Wajahmu memerah, apa kamu demam sayang?" Tanya Dav sengaja menggoda istri manisnya itu, tangannya menelusuri seluruh permukaan wajah sang istri, hembusan nafasnya yang beraroma mint masuk ke dalam indera penciuman Elena. "Apa aku perlu mendinginkanmu sayang." Dav berbisik, bisikkannya terdengar begitu menggoda di telinga Elena membuat wajah Elena kembali memerah seperti tomat.
Dav perlahan mendekatkan bibirnya dengan bibir manis sang istri, ia sangat ingin ******* bibir yang sudah menjadi candunya itu, sehari saja ia tidak merasakannya, sepertinya ia akan menggila.
Sebelum bibir Dav menyentuh bibir istrinya, jari telunjuk Elena sudah menempel di bibir tipis suaminya, menjadi penghalang yang sangat menyebalkan bagi si mafia bucin itu, apa istrinya itu tidak tahu jika si mafia bucin itu sudah tidak tahan untuk melahap bibir manis miliknya itu? Atau mungkin Elena sengaja ingin membuat suaminya menggila karena tidak dapat merasakan candu miliknya lagi.
"Sayang...." Dav memanggil sang istri dengan suara beratnya, ia menatap kecewa istrinya karena tidak membiarkannya untuk ******* bibr milik istrinya itu.
"Sebaiknya kamu mandi dulu sayang. Aku akan menunggumu di bawah." Ucap Elena lembut kemudian ia mengecup pipi kanan suaminya.
Elena hanya dapat menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap kepergian suaminya. Setelah suaminya masuk ke dalam kamar mandinya, Elena pun langsung bergegas melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya menuju ruang makan.
***
__ADS_1
"Apa aku sudah membuatmu menunggu lama, sayang?" Tanya Dav sambil berjalan menghampiri sang istri yang tengah duduk manis di kursi meja makan.
Elena mendongak ia menatap suaminya dengan seulas senyuman manis di wajah cantiknya. "Tidak, sayang." Jawabnya lembut.
"Syukurlah. Aku takut jika aku sudah membuatmu menunggu dan kelaparan seperti malam sebelumnya." Ucap Dav sambil mengusap pucuk kepala istri tercintanya itu. Dav kemudian duduk di kursi samping istrinya, seperti biasanya, ia akan mendaratkan kecupan mesranya di kening sang istri membuat para pelayan kembali menyaksikan drama romantis secara live.
Elena tersenyum, lalu mengambil piring suaminya dan mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk yang ada di atas meja makan. "Makanlah, sayang." Ucapnya lembut.
"Terima kasih sayang."
"Sudah kewajibanku, kamu tidak perlu berterima kasih sayang."
Dav tersenyum, ia pun mengambil beberapa lauk dan menaruhnya di piring istrinya. "Kamu juga harus makan yang banyak sayang. Karena malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk kita." Bisiknya membuat Elena harus meneguk salivanya dengan kasar. Bulu kuduknya meremang, hawa panas mulai merasuki tubuhnya.
__ADS_1
Bersambung.