
Ting....
Suara pintu lift terbuka, membuat Elena langsung tersada, lalu melepaskan tangannya yang melingkar di leher suaminya. "Emmmhh..." Elena tidak dapat menghentikan suaminya yang masih saja belum puas merasakan bibirnya yang manis itu. "Astaga.... Kenapa dia tidak mau menyudahinya? Bagaimana kalau uncle Sam melihatnya? Argh ini akan sangat memalukan."Teriak Elena dalam hati.
Dav tidak memperdulikan istrinya yang terus meronta-ronta, ia terlalu menikmati ciuman panasnya, sampai saatnya tiba Elena memggigit bibir bawahnya, barulah Dav melepaskan pagutannya. Nafas keduanya saling memburu, Elena menatap kesal suaminya, sementara yang di tatap hanya tersenyum lalu berkata. "Gigitanmu sangat menyakitkan, sayang. Sepertinya senang sekali menggigit bibirku ini." Dav mengelap bawah bibirnya yang terdapat sedikit noda merah akibat ulah istri kecilnya itu.
"Ya! Aku sangat senang sekali, hingga aku ingin menggigitnya lagi dan lagi." Jawab Elena lalu pergi keluar dari lift tersebut. "Kenapa bibirku terasa bengkak ya? Apa ini hanya perasaanku saja?" Batin Elena sambil mengelus bibirnya.
Dav terkekeh pelan, ia pun segera keluar dari lift tersebut menyusul istri tercintanya. "Boleh kok kalau kamu mau menggigitnya lagi. Aku tidak keberatan sayang." Ucapnya lalu merangkul pinggang sanh istri, kemudian ia berkata kembali. "Tapi.... Gigitnya dengan kasih sayang, saat kita...."
__ADS_1
"Selamat pagi, bos." Tiba-tiba saja terdengar suara asistennya dari arah belakang. Dav langsung memutar tubuhnya, kemudian ia menatap tajam asistennya yang tidak bersalah itu.
"Apa kau sudah bosan menjadi asistenku, Sam? Kalau kau sudah bosan! Aku bisa mengirimmu ke Afrika sekarang juga." Ucap Dav membuat asistennya mengernyitkan keningnya bingung. Sam tidak melakukan kesalahan apapun, kenapa bosnya itu terlihat begitu marah dan juga kesal kepada dirinya?
"Untuk apa kamu marah-marah gak jelas seperti itu sama asistenmu? Bukankah dia tidak melakukan kesalahan apa-apa?" Elena menggelengkan kepalanya pelan, ia menatap suaminya yang terlihat kesal karena kehadiran asistennya yang tiba-tiba itu.
"Ah, nona Elena juga ada di sini, ya. Maaf saya tidak melihat anda barusan." Ucap Sam sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Mungkinkah si bos marah karena aku tidak menyapa nona Elena? Sepertinya memang begitu." Ucap Sam dalam hati.
Dav mengusap wajahnya kasar, lalu ia menghembuskan nafasnya panjang, kemudian berkata dengan lembut kepada istri tercintanya. "Dia sudah mengganggu keromantisan kita dengan kedatangannya yang seperti jelangkung itu."
__ADS_1
Elena menggelengkan kepalanya pelan, sejujurnya ia juga merasa asisten suaminya itu memang seperti jelangkung, datang dengan tiba-tiba membuat jantungnya hampir saja melompat dari tubuhnya karena merasa terkejut. "Dia mungkin jelmaan jelangkung." Ucap Elena dengan suara keras membuat Sam dapat mendengarnya. "Jadi! Sampai kapan kita akan berdiri di sini terus? Kakiku sangat pegal tahu."
Dav terkekeh pelan, lalu mengangkat tubuhnya istrinya dengan tiba-tiba. "Kalau kamu pegal, aku bisa menggendongmu." Ucapnya kembali melangkahkan kakinya menuju ruangannya.
"Sayang! Apa kamu sudah gila? Cepat turunkam aku sekarang." Pinta Elena sambil memukul pelan dada bidang milik suaminya.
"Ya! Aku sudah gila! Gila karena terlalu mencintaimu." Jawab Dav tanpa menghentikan langkah kakinya. Elena hanya mendengus kesal, suaminya itu benar-benar minta di tampol selalu saja bisa membuat debaran jantungnya tak beraturan.
"Apa aku sudah berubah menjadi roh? Kenapa si bos tidak menghargai aku yang seorang jomblo sejati ini? Kenapa mereka harus bermesraan di hadapanku? Aish nasib asisten apa memang selalu begini?" Gerutu Sam sambil berjalan melangkahkan kakinya menyusul bosnya.
__ADS_1
Bersambung.