
Waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi. Dav dan juga Elena sudah berada di kursi meja makannya. Keduanya sedang menikmati sarapan paginya masing-masing dengan tenang. Dav terlebih dahulu menyelesaikan sarapannya, karena ia harus segera berangkat ke kantornya.
"Sayang! Aku berangkat dulu, ya." Pamit Dav sebelum ia mengecup kening istrinya mesra.
"Iya, sayang. Hati-hati ya di jalan, bawa mobilnya jangan kebut-kebutan. Mengerti." Jawab Elena sambil menghentikan aktifitas sarapannya.
"Mengerti, sayang." Dav tersenyum, ia kembali mendaratkan kecupannya di kening sang istri. "Kamu tidak perlu mengantarku keluar, sayang. Selesaikan saja sarapanmu. Mengerti." Ucap Dav ketika Elena hendak berdiri berniat untuk mengantar dirinya keluar.
"Mmm baiklah." Jawab Elena menurut.
"Sayang! Ingat, ya. Jangan pergi kemana-mana. Tetap di dalam mansion ini dan menungguku pulang. Mengerti." Tegas Dav yang mendapat anggukkan kepala dari sang istri. "Aku berangkat dulu, kalau kamu merindukanku. Kamu telpon aku, ya." Pamitnya kembali mendaratkan kecupan mesranya di kening sang istri.
"Iya, bawel." Jawab Elena sambil mencubit gemas perut sispax sang suami.
Dav terkekeh pelan, rasanya ia tidak rela meninggalkan istri tercintanya itu, ia ingin membawanya pergi bersama dengan dirinya, namun ia juga tidak ingin membuat sang istri bosan seperti kemarin. Akhirnya si mafia bucin itu galau sendiri.
__ADS_1
"Pergilah, sayang. Jangan melamun seperti itu, nanti kamu tambah kesiangan, loh." Elena mengibaskan satu tangannya di hadapan wajah sang suami, ia mengerutkan keningnya sambil menatap suaminya yang tengah menghela nafas beratnya. "Apa yang sedang kamu pikirkan, sayang? Kenapa kamu menghela nafas seperti itu?" Tanya Elena penasaran.
Dav mengelus lembut puncak kepala sang istri, ia kembali memperlihatkan senyuman manis di wajah tampannya. "Tidak ada, sayang. Yasudah aku pergi dulu, ya." Ucapnya kembali mendaratkan kecupan mesranya di kening sang istri.
Elena mengangguk sambil memperlihatkan senyumannya, "Hati-hati di jalan, sayang. Semangat kerjanya ya."
Dav tersenyum, kali ini ia benar-benar membalikkan tubuhnya dan pergi melangkahkan kedua kakinya meninggalkan istri kesayangannya.
Setelah kepergian suaminya, Elena kembali menikmati sarapannya dengan tenang.
Perusahaan William's Group.
"Bagaimana tentang penyelidikannya, Sam?" Tanya Dav sambil menatap datar asistennya.
"Dugaan anda benar, bos. Nona Alisha memang memiliki rencana jahat, ia bekerja sama dengan tuan muda Deril untuk melenyapkan istri anda, bos." Ucap Sam membuat rahang Dav mengeras seketika.
__ADS_1
"Sepertinya mereka sangat ingin menyerahkan nyawanya sendiri kepadaku." Dav menyeringai, seringai yang menyimpan sebuah rencana jahat dan tentunya Sam sangat mengetahuinya. "Baiklah, aku akan membuat mereka mati seperti yang mereka inginkan." Tuturnya dengan nada yang begitu dingin.
"Sam! Kau atur pertemuanku dengan Alisha dan juga Deril malam ini. Aku sudah tidak sabar ingin mengirim mereka ke neraka." Perintah Dav dingin yang mendapat anggukkan kepala dari sang asisten.
"Hancurkan perusahaan Gerald, suruh seseorang untuk membongkar semua kebusukan Gerald ke hadapan media. Buat dia hancur, sehancur-hancurnya. Mengerti." Tegas Dav dengan tatapan matanya yang begitu tajam.
"Saya mengerti, bos. Ada lagi, bos?" Tanya Sam hati-hati.
"Tidak ada, kau bisa keluar sekarang." Ucap Dav sambil mengibaskan satu tangannya.
"Kalau begitu saya permisi dulu, bos." Pamit Sam sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat. Dav hanya mengangguk, lalu setelah itu, Sam pun langsung memutar tubuhnya san melangkahkan kedua kakinya meninggalkan ruangan sang bos yang terasa sangat dingin itu.
"Ingin melenyapkan istriku? Heh! Kalian pikir siapa? Tunggu saja, aku pasti akan membuat kalian mati secara perlahan." Batin Dav dengan dua tangan yang terkepal dengan kuat menahan amarahnya.
Bersambung.
__ADS_1