
Perusahaan William's Group.
Dav berjalan dengan langkah kaki yang cepat menuju ruangannya. Sudah tiga hari ia meliburkan diri dan menghabiskan waktu bersama istri tercintanya, kini ia harus kembali ke aktifitasnya sebagai pemimpin perusahaan William's Group.
Raut wajah Dav terlihat begitu bahagia, bahkan para karyawan yang menyapanya pun ia balas dengan senyuman yang jarang sekali ia tampilkan. Sam yang berjalan di sampingnya pun merasa bosnya itu sudah berubah seratus delapan puluh derajat celcius, padahal baru tiga hari ia tidak bertemu dengan bosnya, namun dalam tiga hari perubahaan sang bos begitu besar.
Sam membukakan pintu ruangan untuk bosnya itu. "Silahkan, bos." Ucap Sam sopan sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
"Lain kali, kau tidak perlu membukakan pintu untukku, Sam. Aku bisa membukanya sendiri." Dav menatap datar Sam, lalu ia berjalan melewati Sam yang terlihat mengerjapkan kedua bola matanya. Sam benar_benar tak percaya jika bosnya itu bisa berkata sedikit lembut seperti itu, jika biasanya, bosnya akan berkata dengan nada datar atau dingin.
"Apa kau akan tetap berdiri di depan pintu, Sam?" Tanya Dav saat dirinya sudah menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kebesarannya.
Sam langsung tersadar dari lamunannya, ia pun segera masuk dan kembali menutup pintu ruangan bosnya itu. Sam berjalan cepat menghampiri sang bos yang kini tengah menatapnya datar. "Berikan aku berkas_berkas yang harus aku tanda tangani sekarang." Pinta Dav sambil melepaskan jasnya dan menaruhnya di belakang kursinya.
"Ini, bos. Dan sebagian sudah ada di atas meja anda, bos." Ucap Sam sambil memberikan beberapa berkas untuk di tanda tangani bosnya. "Oh iya, bos. Masalah cabang perusahaan sudah selesai, tapi sepertinya anda harus pergi ke kota A untuk melihat langsung pembangunan mall di sana. Klien kita juga sudah tiba di kota A kemarin malam."
"Apakah ada masalah dengan pembangunannya?" Tanya Dav sambil menyanggah dagunya dengan kedua tangannya.
"Tidak ada, bos. Semuanya berjalan lancar."
__ADS_1
"Kalau begitu, untuk apa aku datang kesana jika tidak ada masalah?"
"Untuk memastikan semuanya berjalan sesuai keinginan anda, bos."
"Aku serahkan semuanya sama kamu, Sam. Bukankah keinginanku adalah hal yang harus kamu lakukan?" Ucap Dav mulai menatap tajam Sam. Sepertinya Sam lupa jika bosnya itu sedang di mabuk asmara dan tidak ingin berjauhan dengan istrinya kecilnya.
Sam mengernyitkan keningnya bingung, perasaannya mulai tidak enak ketika melihat tatapan tajam bosnya itu. Menurut Sam, itu bukanlah tatapan biasa, tapi tatapan yang menyimpan niat terselubung seorang bos terhadap asstennya.
"Jadi, kau yang akan pergi ke kota a untuk memantau langsung pembangunan mall itu, juga menemui klien kita yang ada di sana. Mengerti." Tegas Dav membuat Sam harus menghela nafasnya panjang. Ternyata benar saja, bosnya itu memang berniat mengirim Sam ke kota A untuk menggantikannya.
"Tapi, bos....."
"Memangnya kenapa, bos?"Tanya Sam sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sam memang tidak mengerti dengan ucapan yang di maksud oleh bosnya itu.
"Ckkk... Dasar jomblo, sama sekali tidak peka."Dengus Dav sambil mengusap wajahnya kasar. Dav kembali menatap asistennya tajam, sementara yang di tatap hanya dapat menampilkan wajah polosnya menantikan jawaban sang bos. "Itu artinya aku tidak bisa jauh dengan istriku, jarak dari sini ke kota A itu memerlukan waktu lima jam, dengan kecepatan mobil di atas rata_rata. Jika aku yang kesana, itu artinya aku membuang waktuku bersama istriku selama dua belas jam. Sepuluh jam untuk perjalanan dan dua jam untuk memantau juga bertemu dengan klien kita. Atau mungkin bisa lebih dua jam."
"Anda bisa menggunakan jet pribadi bos." Saran Sam membuat si mafia bucin itu semakin kesal.
"Tidak bisa. Pokoknya kamu yang pergi ke sana atau aku tidak akan memberikan bonus akhir bulan ini. Bagaimana?"
__ADS_1
Ok sepertinya Sam langsung kalah jika mendengar kata bonus yang keluar dari mulut bosnya itu, lihat saja wajahnya yang polos itu tiba_tiba berubah ganas seperti kucing yang kehilangan ikannya.
"Saya yang pergi, bos." Ucap Sam cepat membuat Dav kembali menyunggingkan senyumannya. "Tapi bonus saya...."
"Bonusmu akan ku tambahkan tiga kali lipat, jadi kau tidak perlu khawatir. Mengerti." Ucap Dav menyela ucapan asiatennya.
"Mengerti, bos." Jawab Sam bersemangat.
"Baiklah, jika tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan, sebaiknya kau keluar."
"Baik, bos. Kalau begitu saya permisi dulu, bos." Pamit Sam sambil membungkukkan tubuhnya sedikit. Dav hanya mendehem pelan, lalu setelah itu Sam pun pergi melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan bosnya itu.
Dav menghela nafasnya panjang, baru saja dua jam dia meninggalkan istrinya, tapi ia sudah sangat merindukannya. Bayangan cantik wajah sang istri saat tadi menciumnya mulai merasuki pikirannya. Senyuman manisnya, kecupan hangatnya, serta ucapannya yang manja membuat Dav semakin merindukannya.
"Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku, lalu pulang dan bertemu istirku, lalu....." Dav mengusap wajahnya kasar, sepertinya angan_angan untuk pulang cepat dan bertemu istri tercintanya harus gagal karena sepertinya hari ini ia akan di sibukkan dengan tumpukkan berkas yang berada di hadapannya. "****.... Sepertinya hari ini aku akan pulang malam. Argh sial." Dengus Dav sambil menatap tajam berkas_berkas yang terlihat seperti mengejek dirinya.
Dav mulai meraih berkas_berkas itu, ia berusaha untuk menghilangkan bayangan sang istri yang terus menari_nari di pikirannya meminta dirinya untuk segera pulang dan memeluknya penuh dengan kehangatan.
Bersambung.
__ADS_1