
Dooor.... Dooor.... Dooor...
Suara tembakkan yang berada di belakang mobilnya membuat Elena semakin ketakutan, sementara Deon, semakin menambah kecepatan mobilnya.
"Sialan!!! Aku benar-benar terlalu meremehkannya ." Geram Deon sambil menggenggam erat setir kemudinya. ."
"Ya Tuhan... Selamatkan aku, aku mohon... " Teriak Elena dalam hati, Elena sangat takut, ini adalah kedua kalinya ia mengalami kejadian mengerikan setelah lima tahun berlalu. "Papa, mama,,, apakah aku akan mati menyusul kalian?" Elena memejamkan kedua bola matanya, tangannya menggenggam erat sabuk pengaman yang ia pakai, Deon benar-benar sudah gila, ia melajukan mobilnya begitu cepat membuat Elena semakin ketakutan, bahkan lebih takut di banding Elena mendengar suara-suara tembakkan dari belakang mobilnya.
Door....
Satu tembakkan melesat ke arah mobilnya, tembakkan itu tepat mengenai ban mobil belakangnya, Deon semakin menggeram penuh amarah, tembakkan kembali melesat ke arah mobilnya, kali ini mengenai ban mobil depannya, Deon kembali menggeram, ia mulai meraih pistol yang ada di saku jasnya, kemudian ia menarik pelatuknya dan melepaskan bidikkan ke arah mobil berwarna merah yang kini sudah berada di samping mobilnya.
"Sialan... "Deon kembali menggeram kesal, mobilnya sudah tidak dapat di gunakan lagi, bahkan dirinya kini sudah di kepung oleh beberapa anggota Strongest Demon. Deon menatap nyalang seluruh anggota Strongest Demon yang kini sudah berjalan mendekati mobilnya, mereka semua menodongkan pistol ke arahnya. Elena yang sudah tidak lagi mendengar suara tembakkan pun seketika membuka kedua bola matanya secara perlahan. Betapa terkejutnya ia ketika melihat begitu banyak orang yang sedang mengelilingi mobilnya sambil menodongkan pistolnya.
"Apalagi ini? Siapa mereka sebenarnya? Apakah mereka anak buah Dav? Atau mereka musuh Deon?" Elena bertanya-tanya dalam hatinya.
"Apa kamu takut sayang?" Deon bertanya dengan nada yang begitu halus dan lembut, Elena hanya mengangguk, ia tentu saja merasa takut, perempuan mana yang tidak akan takut ketika melihat begitu banyak orang berwajah sangar sedang menodongkan pistol ke arah mobil yang di tumpanginya? Pertanyaan Deon sungguh sangat lucu sekali.
__ADS_1
Deon tersenyum, tangannya mulai menyentuh pucuk kepala Elena dan mengusapnya dengan lembut. "Jangan takut, mereka tidak akan menyakitimu, mereka adalah anggota Strongest Demon yang di pimpin oleh suamimu."
Elena bernafas lega, harapannya untuk bebas dari Deon sudah berada di depan matanya. Deon menghela nafasnya berat, ia menatap Elena dengan tatapan yang sangat sulit di artikan. "Sepertinya aku gagal untuk membawamu pergi bersamaku, tapi... Aku tidak akan menyerahkanmu begitu saja kepadanya." Sambung Deon di iringi dengan senyuman manisnya yang membuat hati Elena sedikit merasakan sesuatu yang aneh.
"Menyerahlah, Deon. Dav bukanlah lawanmu, kembalilah seperti Deon yang ku kenal dulu." Ucap Elena berharap agar Deon mau mendengarkannya.
"Sudah terlambat sayang." Deon tersenyum, tangannya mulai meraih pintu mobil, lalu membukanya secara perlahan. "Diamlah di sini, tutup kedua matamu, jika kamu tidak ingin menyaksikan kejadian yang mengerikan." Perintah Deon sebelum ia keluar dari dalam mobilnya. Elena hanya diam, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia memang tidak ingin melihat kejadian mengerikan itu, kejadian yang mungkin akan mengingatkan dirinya kepada kedua orangtuanya.
"Kau tidak akan menang dariku, Deon." Dav berdiri di depan Deon, ia menatap Deon penuh dengan amarah.
"Sam!!! Bawa istriku, pergi dari sini." Perintah Dav dingin.
"Tunggu! Aku tidak mengizinkanmu membawanya pergi."
"Apa kau lupa dia adalah istriku, ISTRIKU." Ucap Dav menekankan kata istri dengan dinginnya. "Saaaam!!! Cepat bawa pergi istriku menjauh dari tempat ini." Dav kembali memerintahkan Sam, dengan cepat Sam langsung berjalan menuju pintu mobil penumpang, lalu membukanya.
"Un,,, uncle.... " Lirih Elena saat dirinya melihat Sam yang sudah membukakan pintu mobilnya.
__ADS_1
"Jangan takut nona, saya akan membawa anda pergi dari sini." Ucap Sam ketika melihat Elena ketakutan. Elena mengangguk, lalu ia turun dari mobil, Elena melirik sekilas ke arah Dav, Dav tersenyum lalu memberi isyarat kepada Sam agar segera membawa istrinya pergi. Sam yang mengerti dengan isyarat mata yang di berikan oleh bosnya pun langsung memapah Elena, berniat untuk membawanya pergi dari sana.
"Tunggu dulu, uncle." Elena menghentikan Sam, ia menatap Deon, lalu berkata. "Deon! Menyerahlah, jika kamu menyerah, Dav pasti akan mengampunimu."
Deon tersenyum, kata menyerah itu tidak ada dalam kamusnya, apalagi menyerah sama musuhnya sendiri. "Pergilah, Elena jangan sampai kamu melihat saat-saat terakhirku ini. Terima kasih karena kamu sudah pernah menempatkanku di dalam hatimu, maafkan atas semua keegeosianku ini." Ucap Deon sambil menatap Elena dalam. Bagaimana pun juga, Deon tidak akan menang melawan Dav, apalagi saat ini dirinya hanya seorang diri yang di kelilingi oleh orang-orang yang masih setia menodongkan pistol ke arahnya. Ucapan Deon terdengar aneh, namun seperti menyimpan maskud tertentu.
"Deon... "
"Sammm!!! Cepat bawa istriku." Teriak Dav menyela ucapan Elena. Sam langsung menggendong istri bosnya, ia tidak perduli jika bosnya nanti akan mengomelinya, atau bahkan akan memukulnya karena sudah lancang menggendong istri kesayangannya itu.
"Ucapkan selamat tinggal pada duniamu, Alex." Dav langsung mengarahkan pistolnya kepada Deon, seringai mengerikan itu kembali terbit dari bibirnya.
"Tidak semudah itu." Jawab Deon sambil mengarahkan pistolnya kepada Dav.
Dooor.... Door... Dor...
Bersambung
__ADS_1