Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Pemimpin mafia misterius


__ADS_3

"Bos...."


"Lucas... Kenapa kau datang kemari?" Tanya Dav dengan tatapan mata yang begitu tajam membuat Lucas harus menelan kasar salivanya.


"Ada hal penting yang harus saya beritahukan kepada anda, bos."


"Ikut aku ke ruang kerja." Perintah Dav dingin. Kemudian ia berbalik dan betapa terkejutnya Dav ketika ia mendapati istrinya tengah berdiri menatap penasaran kepada tamu yang ada di belakangnya itu. "Sa,, sayang. Bukankah kamu bilang akan pergi ke kamarmu?" Tanya Dav sambil berjalan mendekati istrinya.


"Iya, tapi aku sangat penasaran dengan tamumu itu, makannya aku turun lagi." Jawab Elena dengan senyuman manis di bibirnya. "Oh iya, dia siapa? Kenapa aku baru melihatnya?" Tanya Elena penasaran.


"Ah dia sebenarnya bawahanku, sayang. Cuma dia memang jarang kemari jadi kamu pasti tidak mengenalnya." Jawab Dav sambil merangkul pinggang sang istri. Membuat Lucas sedikit kesal karena bosnya itu tidak menghargai dirinya yang sama seperti Sam. Seorang jomblo sejati.


"Oh, pantas saja aku tidak pernah melihatnya." Ucap Elena sambil menatap Lucas. "Tapi sepertinya dia lebih menyeramkan dari pada asistenmu itu." Bisik Elena ketika melihat senyuman yang di berikan oleh Lucas kepada dirinya.


Dav terkekeh pelan, Lucas dan Sam memang tidak jauh berbeda, mereka tidak bisa memberikan senyuman yang manis seperti dirinya. Mereka itu kaku seperti kanebo kering. "Sayang, jangan bicara seperti itu, nanti dia menangis." Ucap Dav yang mendapat kerutan kening dari Lucas.

__ADS_1


"Aku kan cuma bisikin kamu, dia tidak mungkin mendengarnya kan."


"Tapi dia itu memiliki telinga yang tajam, dia bisa mendengar bisikanmu, sayang." Ucap Dav membuat Elena merasa sedikit ngeri. "Jadi sebelum dia menangis, sebaiknya kamu pergi dulu ke kamarmu, karena kalau dia sudah menangis, itu akan lebih menyeramkan."


"Begitukah? Yasudah kalau begitu aku pergi dulu."Ucap Elena yang percaya dengan ucapan bohong suaminya itu. "Hai, uncle. Aku permisi dulu, ya."Pamitnya kepada Lucas sambil melambaikan tangannya. Lucas hanya menganggukkan kepalanya, ia kembali memperlihatkan senyumannya yang menurutnya sangat menawan, tetapi tidak dengan Elena.


Elena bergidik ngeri melihat senyuman itu, dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Elena pun langsung membawa kakinya menuju kamarnya. Sementara itu, Dav dan juga Lucas langsung bergegas menuju ruang kerja.


***


"Ini tentang putra bungsu Gerald, bos. Saya sudah menemukan keberadaannya. Saat ini dia sedang berada di kota A."


"Lalu?"


"Menurut informasi yang saya terima kemungkinan, dia akan kembali ke kota ini dalam beberapa hari ke depan, bos." Lucas menjeda ucapannya, menarik nafasnya panjang kemudian ia kembali berkata. "Jadi bagaimana menurut anda, bos? Apakah saya harus pergi ke kota A untuk menangkapnya? Atau kita tunggu dia sampai kembali ke kota ini?"

__ADS_1


"Kita tunggu saja dia kembali ke kota ini. Aku ingin tahu apalagi yang dia rencanakan setelah dia kembali ke kota ini." Ucap Dav dengan seringai yang mulai terukir di wajahnya.


"Sepertinya orang yang berada di belakang Gerald itu putra bungsunya sendiri, bos. Tetapi Gerald sendiri tidak mengetahui jati diri putra bungsunya itu. Putra bungsunya terlalu pintar juga licik. Jadi anda harus berhati_hati, bos."


"Aku tahu. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkanku." Ucap Dav sambil menatap datar Lucas. "Apa kau memiliki photonya?" Tanya Dav penasaran dengan wajah putra bungsu Gerald itu.


"Tidak ada, bos. Sangat sulit untuk mendapatkan photonya, menurut mata_mata yang saya kirim kemarin, Alex selalu menggunakan topeng untuk menutupi wajahnya. Dia jarang sekali melepaskan topeng itu, bos."


"Topeng? Sepertinya dia tidak ingin siapapun mengetahui identitas aslinya. Itu artinya nama Alex pun hanya nama samarannya. Aku jadi semakin penasaran dengan putra bungsu Gerald itu." Dav menyanggah dagunya dengan kedua tangannya, tatapan matanya semakin menajam membuat Lucas harus kembali meneguk salivanya kasar. "Baiklah, jika tidak ada lagi yang ingin kau sampaikan, kau boleh pergi."


"Kalau begitu saya permisi dulu, bos." Pamit Lucas sambil menbungkuk memberi hormat kepasa bosnya itu. Dav hanya mengangguk pelan, setelah itu, Lucas pun langsung bergegas membawa kakinya pergi dari ruangan itu.


"Apa mungkin dia adalah pemimpin mafia yang misterius itu? Siapapun dia, aku harus melenyapkannya." Ucap Dav di iringi dengan seringai di bibirnya. Dav menghela nafasnya panjang, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2