
Setelah menerima panggilan dari Deon, Sindy pun lantas berpamitan kepada Elena, wajahnya terlihat sangat pucat membuat Elena khawatir.
"Ada apa denganmu, Sin? Kenapa wajahmu pucat sekali?" Tanya Elena khawatir.
"Ti,, tidak apa-apa, Elen. Sorry aku harus pulang sekarang." Sahut Sindy sambil berusaha untuk memberikan senyuman manisnya kepada Elena.
"Kamu yakin tidak apa-apa? Tidak ada yang kamu sembunyikan dariku kan, Sin?" Elena tetap tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Sindy barusan, ia menangkup wajah sahabatnya, dan menatap kedua bola mata sahabatnya. "Katakan padaku, sebenarnya ada apa? Aku tahu kamu pasti sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan, Sin?" Tanya Elena kembali dengan raut wajah yang terlihat sangat khawatir juga penasaran.
"Sungguh aku tidak apa-apa, Elena. Emm kalau begitu aku pergi dulu ya. Sampai ketemua lagi." Sindy langsung bergegas meninggalkan Elena, ia tidak memperdulikan panggilan Elena, yang jelas, saat ini ia harus segera keluar dari mansion itu.
"Ada apa dengannya? Aku yakin pasti ada yang dia sembunyikan dariku." Batin Elena sambil menatap kepergian Sindy.
Elena berniat untuk meraih minumannya, namun tatapan matanya tidak sengaja mengarah ke tas kecil milik sahabatnya itu. "Sepertinya Sindy melupakan tas kecilnya. Aku harus segera menyusulnya." Pikir Elena sambil meraih tas kecil milik Sindy. Elena segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian ia melangkahkan kedua kakinya menyusul Sindy menuju pintu depan.
"Aaaaaaaargh........ "
Suara teriakan seorang perempuan membuat Elena terkejut, Elena langsung berlari ke halaman mansionnya, dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati sahabatnya yang sudah terkapar di halaman mansionnya itu dengan darah segar yang keluar dari perutnya.
__ADS_1
"Sindy................ " Teriak Elena sambil berlari menghampiri Sindy, Elena langsung memeluk tubuh Sindy, air matanya langsung jatuh membasahi wajah cantiknya. "Apa yang terjadi kepadamu, Sin? Siapa yang melakukan ini." Lirih Elena. "Kaliaaaaannnnn..... Kenapa kalian diam saja hah? Cepat bawa sahabatku ke rumah sakit," teriak Elena kepada para penjaga yang hanya menjadi penonton.
"Nona, sebaiknya kita lapor dulu kepada tuan, saya..... "
"Apa kau ingin melihat sahabatku mati di sini? Lihat dengan mata kepalamu, sahabatku tertembak di halaman mansion ini, aku tidak tahu apa yang kalian kerjakan sampai-sampai ada seorang penjahatpun kalian tidak menyadarinya." Kelakar Elena sambil menatap tajam si penjaga itu. "Pak Budiiii siapkan mobil sekarang, aku akan membawa sahabatku ke runah sakit."
"Ba,,, baik nona.. " Orang yang di panggil pak Budi pun langsung berlari menuju parkiran mobilnya.
"Nona..."
"Diam!!! Jangan halangi aku." Sentak Elena membuat si penjaga itu diam. "Pak Budi bantu aku bawa Sindy ke dalam mobil." Perintah Elena ketika si pak Budi sudah memarkirkan mobilnya tepat di dekat Elena.
Elena segera masuk ke dalam mobilnya, kekhawatirannya semakin bertambah ketika ia melihat wajah Sindy semakin pucat. "Sindy... Bertahanlah... "Lirih Elena sambil menggenggam erat tangan Sindy.
"Cepat, pak." Perintah Elena tidak sabaran.
Pak Budi hanya menganggukkan kepalanya kemudian ia pun segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata.
__ADS_1
Sementara itu di waktu yang sama, Dav sedang berjalan menuju halaman mansionnya bersama kepala pelayan yang melaporkan tentang kejadian yang menimpa Sindy tadi.
"Tuan.... "
"Katakkan! Dimana perempuan itu?" Tanya Dav dingin sambil menatap tajam beberapa penjaganya yang tidak becus menjaga keamanan mansion miliknya itu.
"Su,,, sudah di bawa ke,, ke rumah sakit, tuan."
"Siapa yang membawanya?"
"No,,, nona,, nona Elena, tuan... "
Dav melayangkan beberapa pukulan kepada para penjaganya, darah dalam dirinya seketika mendidih, aura membunuh sudah terpancar jelas dari sorot matanya. Rasanya ia sangat ingin membunuh seluruh penjaga bodoh itu. "Dasar bodoh! Kenapa kalian membiarkan istriku pergi hah! Kalian semua tidak berguna, lebih baik kalian berdoa saja, jika terjadi sesuatu kepada istriku, maka kepala kalian semua akan melayang." Ucap Dav penuh dengan amarah. Dav kembali melayangkan pukulannya, ia merasa sangat bodoh karena sudah memperkerjakan penjaga-penjaga yang bodoh itu.
"Tuan... Sebaiknya kita segera menyusul nona sekarang." Ucap kepala pelayan dengan hati-hati.
"Ambilkan aku kunci mobil, cepat!" Perintahnya dingin. Dav langsung berjalan menuju parkiran mobilnya. Ia berusaha untuk meredam amarahnya yang semakin membuncah, Dav sangat yakin, bahwa aksi penembakkan itu sudah di rencanakan oleh seseorang. "Deon! Ini semua pasti dia yang merencanakannya. Argh sialan, kenapa aku harus memperkerjakan para manusia bodoh itu?"
__ADS_1
Bersambung.