Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Rencana jahat


__ADS_3

"Baiklah, kau boleh pergi. Ingat untuk tetap mengawasi pergerakannya. Mengerti." Perintah Dav dingin.


"Mengerti, bos. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Lucas sambil menganggukkan tubuhnya memberi hormat kepada bosnya itu. Dah hanya berdehem pelan, lalu setelah itu Lucas pun pergi membawa kakinya keluar dari ruangan Dav.


"Aku tidak menyangka jika Alex adalah Deon. Sepertinya Aku harus lebih hati-hati lagi sekarang." Batin dav sambil mengusap wajahnya kasar. Dav merasa Deon bukanlah orang yang dapat ia hadapi dengan mudah. Deon sangat licik dan juga cerdik, buktinya Dav baru mengetahui identitasnya sekarang, padahal selama ini Dav sudah menyuruh Sam untuk menyelidikinya, namun sayang sekali, Sam tidak bisa menemukan identitas asli Deon.


"Sam! perketat penjagaan di mansionku. Cari beberapa pengawal lagi yang lebih kuat di bandingkan dengan para pengawal yang ada di mansionku saat ini. Mengerti." Perintah Dav dingin, tanpa menatap asistennya yang sedari tadi masih setia berdiri di sampingnya.


"Mengerti, bos."


"Dan juga kamu suruh seseorang untuk mengawasi Sindy teman istriku itu, jangan sampai Deon memanfaatkannya untuk mendekati istriku."


"Baik, bos." Jawab Sam sambil mengangguk pelan. "Ada lagi, bos?" Tanya Sam hati-hati.


"Tidak ada, kau boleh keluar sekarang." Ucap Dav sambil memberikan berkas-berkas yang sudah di tanda tanganinya kepada Sam.


Sam mengambil berkas-berkas itu, kemudian ia pun berpamitan kepada bosnya. "Kalau begitu saya permisi dulu, bos." Ucapnya sedikit membungkukkan tubuhnya. Dav hanya berdehem pelan, lalu setelah itu, Sam pun langsung bergegas melangkahkan kakinya pergi.


Dav mengetuk-etuk meja kerjanya, jujur saja saat ini perasaannya sedikit tidak tenang mengingat Deon adalah Alex pemimpin mafia misterius sekaligus laki-laki yang sangat mencintai istrinya, tidak menutup kemungkinan jika Deon akan melakukan segala cara untuk mendapatkan istri kesayangannya itu.


Dav menghela nafasnya panjang, ia mulai meraih ponselnya, kemudian memghubungi istri kesayangannya itu.

__ADS_1


"Sedang apa sayang?" Tanyanya lembut ketika panggilannya sudah di jawab oleh istrinya.


"Aku sedang mengerjakan tugasku sayang. Ada apa kamu menelponku?" Elena berbalik nanya.


"Tidak ada apa-apa sayang. Aku hanya merindukanmu saja." Ucap Dav sambil berjalan menuju jendela.


"Dasar gombal."Seru Elena di iringi dengan kekehannya. "Apa kamu tidak kerja sayang? " Tanya Elena terdengar lembut.


"Sebentar lagi sayang." Jawab Dav sambil menatap indahnya langit yang begitu menakjubkan. "Sayang! Setelah aku pulang, aku ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting denganmu. Tapi aku harap kamu tidak akan terkejut nanti." Ucap Dav membuat Elena penasaran.


"Sesuatu sangat penting? Mmm... baiklah aku akan menantikannya."


"Ya sudah kalau begitu aku tutup dulu ya, sayang. Iya miss you honey." Ucap Dav lalu mencium ponselnya, memberikan ciuman jarak jauh kepada istri tercintanya itu.


Dav tersenyum, ia menatap benda pipihnya yang menampilkan walpaper istrinya, lalu berkata. "Aku juga mencintaimu Elena, sangat-sangat mencintaimu. Aku sangat takut kehilanganmu Elena. Aku tidak bisa membayangkan jika suatu saat nanti kamu akan menghilang dari hidupku. Aku pasti gila."


"Elena, apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari sisiku, aku akan mengorbankan segalanya untukmu, termasuk nyawaku sendiri." Dav kembali melangkahkan kedua kakinya menuju kursi kebesarannya, kemudian ia duduk lalu melepaskan jas yang melekat di tubuhnya dan menaruhnya di belakangnya. Dav mulai melakukan pekerjaannya, ia mulai membuang pikirannya yang negatif dan memfokuskan dirinya dengan beberapa pekerjaannya.


***


Setelah mendapat panggilan dari suaminya, Elena terlihat merenung, ia sangat penasaran dengan apa yang akan di bicarakan oleh suaminya nanti sehingga membuat suaminya meminta dirinya untuk tidak terkejut.

__ADS_1


Elena menghembuskan nafasnya kasar, ia melirik benda pipihnya yang bergetar menandakan adanya panggilan suara dari seseorang.


Elena mengernyitkan keningnya ketika nama Alias terpampang di layar ponselnya. "Kak Alisha? untuk apa dia menghubungiku?" Elena bergumam sambil meraih benda pipih itu. Dengan sedikit ragu, Elena pun menggeser tombol berwarna hijau lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Ada apa?" Tanyanya terkesan dingin seperti suaminya.


"Wah kamu sangat hebat Elena, belum satu bulan kamu menikah dengan Dav, tapi nada suaramu sudah berubah sama seperti suamimu." Ucap Alisha dengan nada terdengar mengejek membuat Elena menghela nafasnya kasar.


"Kak Alisha! Aku tahu kalau kak Alisha menelponku pasti ada yang ingin kakak katakan kan? Jadi apa yang ingin Kak Alisha katakan?" Tanya Alisha tidak ingin berdebat dengan mantan kekasih suaminya itu.


"Benar memang ada yang ingin aku katakan sama kamu, aku ingin kita bertemu di cafe biasa."


"Maaf Kak Alisha, sepertinya aku tidak bisa keluar, jika ada yang ingin Kak Alisha katakan, katakan sekarang saja lewat telepon."


Alisha mengepalkan tangannya di seberang telepon sana, giginya beradu menahan amarah dalam dirinya. "*Ay*olah Elena. Ini sesuatu yang sangat penting tentang Dav. Apa kamu tidak ingin mengetahuinya?" Rayu Alisha agar Elena mau keluar untuk memenuhinya, kemudian ia mulai melancarkan aksi jahatnya.


"Maaf aku tidak bisa." Jawab Elena tegas. Ia tentu saja tidak akan pergi, selain suaminya tidak mengizinkannya untuk keluar, Elena juga merasakan firasat buruk. Tidak mungkin bukan Alisha tiba-tiba mengajaknya ketemuan tanpa niat terpendam. Bagaimana pun juga, Elena harus berhati-hati, ia tidak ingin membahayakan nyawanya juga tidak ingin menjadi istri pembangkang.


"Apa kau takut denganku, Elena.Tenang saja Elena aku tidak akan melakukan sesuatu terhadapmu. Karena jika aku melakukan atau menyakitimu, maka Dav akan membunuhku. Aku tidak mungkin membahayakan nyawaku sendiri bukan?" Ucap Alisha tetap berusaha untuk meyakinkan Elena. Tentu saja semua ucapannya bohong, karena pada kenyataannya ia hanya ingin memancing Elena untuk meninggalkan mansion Dav. Alisha juga sudah menyuruh beberapa penjahat untuk menculik Elena.


"Aku tidak takut, tapi.... Aku tidak ingin di cap sebagai istri pembangkang karena aku pergi tanpa izin dari suamiku. Jadi aku harap Kak Alisha mengerti, ya. Kalau tidak ada apa-apa lagi, aku tutup teleponnya sekarang." Setelah mengucapkan hal itu, Elena langsung memutuskan sambungannya, ia kembali menaruh ponswlnya di atas meja. "Apa yang di rencanakan oleh Kak Alisha? kenapa dia sangat ingin membuatnya keluar sendirian? Apakah dia sedang menyiapkan rencana jahat untukku?" Batin Elena sambil menghembuskan nafasnya kasar.

__ADS_1


"Ah sebaiknya aku mengerjakan tugasku saja, daripada harus memikirkan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu dan membuatku stress, nanti aku malah cepet tua." Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya ketika ia membayangkan jika dirinya menua sebelum waktunya.


Bersambung.


__ADS_2