Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Si pengganggu


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Elena sudah mulai membuka kedua bola matanya, dadanya serasa sesak juga tubuhnya serasa berat seperti ada sesuatu yang menimpa di atasnya.


"Emhh... Berat sekali."Elena bergumam pelan, ia berusaha untuk menyingkirkan benda yang sudah menimpa tubuhnya itu. "Astaga........"Elena berteriak, ia baru sadar jika dirinya tidur tidak sendirian. "Ah pantas saja terasa sangat berat, ternyata ini kakinya dia."Batin Elena kembali menyingkirkan kaki suaminya yang masih saja setia berada di atas tubuhnya. "Tangan sialan. Kenapa malah berada di atas dadaku? Apakah dia sengaja melakukannya?"Elena menggerutu pelan, ia juga berusaha untuk menyingkirkan tangan suaminya.


"Jangan bergerak, sayang."Bisik Dav sambil mengeratkan pelukannya.


"Lepas, Dav. Kamu membuatku sesak. Dan singkirkan kakimu dari tubuhku. Kamu pikir aku ini guling, hah."


Dav menyingkirkan kakinya, namun tidak dengan tangannya."Kenapa pagi_pagi kamu sudah berisik sekali baby?" Tanya Dav dengan suara khas bangun tidurnya.


"Lepaskan dulu, Dav! Kamu ingin membuatku mati muda ya."Dengus Elena kesal karena suaminya itu tak kunjung melepaskan pelukannya.


"Jangan berlebihan, sayang. Aku memelukmu dengan penuh kasih sayang, itu tidak akan membunuhmu. Jadi sebaiknya kamu diam jangan banyak bergerak, mengerti."Ucap Dav sambil menciumi ceruk leher istri kecilnya itu. "Apa kamu sengaja ingin menggodaku hmmm."Bisiknya membuat kedua bola mata Elena melebar sempurna.


"Apa,,, apa maksudmu?"Elena berusaha untuk melepaskan pelukan suaminya itu, ia merasakan ada sesuatu yang keras di belakangnya, namun Elena sendiri tidak tahu benda apa itu.

__ADS_1


"Kamu sudah membangunkan juniorku, sayang."Dav kembali berbisik, hasratnya mulai bangkit ketika istri kecilnya itu selalu menggerakkan tubuhnya memancing sesuatu di bawah sana.


Wajah Elena seketika memerah, Elena tahu dengan ucapan yang di maksud oleh suaminya itu. "Mesuuuummmm.... Cepat lepaskan aku."Teriak Elena membuat Dav seketika menjauhkan tubuhnya. Rasanya gendang telinga Dav pecah karena teriakan istri kecilnya itu.


"Baby, kenapa kamu berteriak sekeras itu? Apakah kamu tahu teriakan mu itu sudah membuat gendang telingaku pecah!"Dav berucap sambil menatap tajam istrinya, selain telinganya berdengung, ia juga terkejut. Bahkan jantungnya serasa hampir lepas dari tubuhnya.


"Salahmu karena sudah menggodaku."Ucap Elena sambil bangkit dari tempat tidurnya. Ia berniat meninggalkan suaminya itu, namun niatnya tidak terlaksana, karena suaminya langsung menarik tubuhnya hingga terjatuh kedalam pelukan suaminya.


"Ingin, kabur? Tidak semudah itu sayang."Bisik Dav sambil membelai lembut wajah cantik Elena yang kian memerah. Detak jantung Elena kembali berdegup dengan sangat cepat, hembusan nafas hangat menyapu seluruh permukaan wajahnya. "Sayang, apakah kamu demam? Kenapa wajahmu merah sekali?"Dav kembali berbisik, bisikkannya seperti iblis yang sedang menggoda manusia. "Apakah kamu merasakannya?" Dav semakin mengeratkan pelukannya, hasratnya semakin memuncak, sesuatu di bawah sana semakin memberontak meminta untuk di lepaskan.


"Sayang!!! Apakah aku boleh melakukannya?"Bisik Dav sambil menatap lekat wajah cantik Elena. "Aku sudah tidak dapat menahannya lagi."Bisiknya lagi dengan suara beratnya menahan hasrat yang kian memuncak.


"Aku,,, aku belum siap, Dav.... Ja..."


Sebelum Elena menyelesaikan ucapannya, Dav langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir manis itu. Elena begitu terkejut, matanya melotot dengan sempurna. Elena berusaha untuk melepaskan diri dari suaminya itu, namun sayang sekali, tenaga Dav jauh lebih kuat di banding dengannya, sehingga membuat Elena tidak mampu untuk melepaskan dirinya.

__ADS_1


Dav tersenyum, ia semakin lihai memainkan lidahnya di dalam rongga mulut sang istri, bahkan tangannya mulai aktif berkeliaran kesana kemari membuat perasaan Elena menjadi kacau tidak karuan.


"Oh tidak, kenapa aku jadi menikmatinya. Sadarlah Elena, sadar."Teriak Elena dalam hati. Ia berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak ikut dalam permainan suaminya itu.


Dav melepaskan pagutannya, menghirup udara banyak_banyak, lalu menatap wajah Elena yang terlihat begitu menggoda. Dav membelai wajah itu, ia tersenyum lalu mencium kening sang istri. "Kau sangat cantik sekali, sayang. Aku sangat mencintaimu, jadilah milikku seutuhnya." Bisiknya kembali melakukan aksinya tadi. Menciumi ceruk leher Elena, lalu turun ke bawah, membuat Elena semakin kepanasan.


Tangan Dav kembali aktif, kali ini tangan itu mulai masuk ke dalam piyama yang di kenakan oleh istri kecilnya itu, berusaha mencari sesuatu yang membuatnya gila, namun sayang sekali, sebelum ia menemukannya, suara ponsel yang berada tak jauh darinya terus berbunyi.


Elena merasa sangat lega, ia mulai mendorong tubuh Dav sekuat tenaganya. "Angkatlah."Perintah Elena sambil bergegas meninggalkan Dav yang terlihat begitu kesal karena ponsel sialan itu.


"Untunglah."Batin Elena lalu masuk ke dalam kamar mandi, tak lupa ia pun mengunci kamar mandi itu.


Dav mendengus kesal, ia mengusap wajahnya frustasi, si penelpon itu sepertinya harus ia kasih pelajaran karena sudah berani mengganggunya. "Sial. Siapa yang berani menggangguku pagi_pagi begini? Awas saja kalau si Samson. Aku pasti bakalan memotong gajinya."Gerutu Dav sambil bangkit dari tempat tidurnya. Ia meraih benda pipih itu, kemudian menggeser tombol berwarna hijau.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2