
"Ada kepentingan apa kau datang kemari?" Tanya Deon sambil menatap datar Deril kakak kandungnya sendiri.
"Aku ingin kau membantuku melenyapkan seseorang." Ucap Deril sambil menyilangkan kakinya menatap adiknya yang jarang ia temui itu.
"Melenyapkan seseorang?" Deon mengulang perkataan Deril, tidak biasanya kakaknya itu meminta bantuan kepadanya, apalagi untuk melenyapkan nyawa seseorang, itu sangat langka sekali. "Siapa?" Tanya Deon penasaran.
"Pasangan suami istri." Deril menghembuskan nafasnya kasar, kemudian ia kembali bersuara. "Aku ingin kau melenyapkan suaminya, dan menculik istrinya. Bawa istrinya kepadaku."Ucapnya dengan tatapan mata yang menyimpan sebuah kebencian yang begitu mendalam.
Deon mengerutkan keningnya, ia berpikir jika kakaknya itu sudah jatuh cinta kepada istri orang, lalu ingin membunuh suaminya demi mendapatkan perempuan itu. Deon jadi merasa kakaknya itu seperti dirinya sendiri, yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan wanita yang di cintainya.
"Alasannya?"Tanya Deon tanpa mengubah nada bicaranya yang terkesan datar, juga tatapan matanya yang tajam mampu membuat siapa saja yang melihatnya merinding.
"Kau tidak perlu tahu alasannya. Lakukan saja permintaanku, dan aku akan memberikan sebagian sahamku."
"Ck.... Kau pikir aku butuh sebagian sahammu, heh?"Deon tertawa mengejek, meskipun ia di asingkan dan tidak di akui oleh orangtuanya, tetapi kekayaan yang di miliki oleh Deon, jauh lebih besar di bandingkan dengan orangtuanya, apalagi kakaknya sangat berbeda jauh.
"Aku tebak! Kau sudah jatuh cinta kepada perempuan itu, tapi perempuan itu sudah memiliki suami, dan kau ingin membunuh suaminya, demi mendapatkan perempuan itu. Apakah ucapanku benar?" Ucap Deon dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.
__ADS_1
Deril hanya tertawa, ia menertawakan kepercayaan diri adiknya yang sangat tinggi itu, jelas_jelas ucapan yang di lontarkan oleh adiknya itu seratus persen salah. Deril tidak mencintai istri orang, Deril hanya ingin membalaskan rasa sakit perempuan yang sangat di cintainya kepada pasangan suami istri itu.
"Kenapa kau malah tertawa? Apakah ucapanku salah?" Ucap Deon kesal.
"Tentu saja, salah." Jawab Deril membuat kerutan tergambar jelas di kening adiknya. "Aku tidak jatuh cinta kepada istri orang lain, aku hanya ingin membalaskan rasa sakit hati dan penderitaan perempuan yang sangat aku cintai kepada pasangan suami istri itu." Jelas Deril kembali menampilkan tatapan yang penuh dengan dendam.
"Sial. Ternyata tebakkanku salah. Sangat menyebalkan." Ucap Deon dalam hati. "Ck... Kenapa tidak kau saja yang membunuhnya? Kenapa kau malah meminta bantuanku?" Ucap Deon sambil bersidekap menatap datar kakaknya.
"Karena kau adalah orang yang sangat licik di bandingkan aku. Jadi aku sangat yakin jika kau yang melakukannya semuanya akan berjalan lancar." Jawab Deril yang memang sudah mengetahui identitas adik satu_satunya itu. "Jadi kau harus membantuku." Tuturnya sambil meraih secangkir kopi panas yang baru saja di siapkan oleh pelayan.
Deril meraih benda pipihnya dari saku celananya, ia mulai mencari photo juga data tentang pasangan suami istri itu, lalu memberikannya kepada Deon." Ini dia. Aku ingin laki_laki ini lenyap dari muka bumi ini, dan perempuan ini, bawa kepadaku, aku akan memberinya pelajaran." Ucapnya lalu kembali meraih secangkir kopi miliknya.
Deon seketika terdiam, ia menatap photo perempuan yang sangat di kenalinya. Kini aura membunuh mulai terpancar dari raut wajahnya, tidak masalah jika ia harus melenyapkan laki_laki yang berada di samping photo perempuan itu, tetapi perempuan itu? Deon tidak akan pernah menyakitinya, karena perempuan itu adalah Elena, perempuan yang paling berharga dalam hidupnya.
"Kau mau apakan perempuan ini?" Nada suara Deon terdengar begitu dingin, bahkan Deril pun bisa merasakan perubahan sikap dan juga expresi yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Namun Deril tetap bersikap seperti biasanya dan mencoba untuk tetap tenang.
"Apa kau perlu tahu?" Deril berbalik nanya, sepertinya ia tidak sadar jika mode iblis dalam adiknya itu sudah mulai keluar.
__ADS_1
"Ya. Jadi katakan! Kau mau melakukan hal buruk apa kepada perempuan ini." Deon mendorong benda pipih itu kepada kakaknya, expresinya masih dingin juga sangat menakutkan. Membuat Deril mau tidak mau memberitahukan niatnya.
"Aku hanya ingin memberinya pelajaran, karena dia sudah berani membuat Alisha menderita. Aku akan memberikan dia kepada bawahanku untuk mereka bersenang_senang, lalu aku akan menyuruh bawahanku untuk membuangnya ke jurang, dengan begitu, Alisha pasti akan sangat senang dan berterima kasih kepadaku." Jelas Deril membuat rahang adiknya mengeras.
Deon mengepalkan kedua tangannya kuat, sorot matanya semakin memancarkan kemarahan yang begitu menggebu_gebu, membuat Deril semakin bingung juga merasa sedikit cemas.
"Apa kau tidak tahu siapa perempuan yang ingin kau sakiti itu?" Tanya Deon dengan deru nafas yang tak beraturan menahan amarah yang kian memuncak.
"Aku tidak perlu tahu siapa perempuan itu, aku hanya ingin membalaskan rasa sakit hati juga penderitaan yang Alisha tanggung selama ini."
Deon tertawa lebar, tawanya begitu menakutkan, bahkan seorang pelayan yang ingin melewati ruang tamu itupun kembali lagi ke tempatnya. Sementara itu, Deril semakin tidak mengerti dengan tingkah adiknya yang terlihat sangat menakutkan itu. Namun Deril hanya bisa diam dan menunggu sang adik bersuara.
"Kau ingin menyakitinya demi perempuan bernama Alisha? Jangan bermimpi di siang bolong, Deril." Deon berdiri, tatapan matanya semakin menajam ketika Deril mulai mengepalkan satu tangannya kuat. "Kau tahu siapa aku bukan? Aku adalah Deon Alexander pemimpin mafia nomor dua di negara ini. Aku tidak akan pernah mengampuni siapapun yang berani menyentuh Elena. Termasuk kau, kakak kandungku sendiri."
"Jangan pernah berpikir untuk melukainya Deril. Atau aku akan membuat Alishamu mati secara mengenaskan." Tegas Deon sebelum ia pergi meninggalkan Deril yang terpaku di tempatnya. Ucapan Deon tidak boleh di langgar, Deril sangat tahu itu, dan keselamatan Alisha adalah hal yang lebih penting, namun ketika ia mengingat air mata Alisha, dan juga ucapan Alisha membuat perasaannya kacau. Penderitaan yang di alami oleh Ailsha harus ia balaskan, namun siapa yang dapat melakukannya? Bukankah adiknya sendiri sudah mengingatkannya untuk tidak melukai perempuan itu? Lalu kepada siapa dia harus meminta bantuan? Jika dia mengenal pemimpin mafia nomor satu di negara itu, tentu saja dia tidak akan takut dengan ancaman adiknya itu. Namun sayangnya dia tidak mengenalnya, bahkan namanya saja pun dia tidak tahu.
Bersambung.
__ADS_1