Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Kenapa dia mau merawatku


__ADS_3

Villa


Sam berjalan memasuki salah satu Villa yang di berikan bosnya kepada dirinya. Wajahnya selalu dingin seperti biasanya membuat para pelayan yang ada di Villa itu sedikit takut dan tidak berani untuk menatapnya.


"Tuan... " Seorang perempuan cantik dengan pakaian putih seperti perawat segera menghampiri Sam, saat ia melihat kedatangan tuannya itu.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Sam selalu memberikan tatapan dingin seperti biasanya.


"Jauh lebih baik, tuan." Sahut si perawat itu sopan.


"Baguslah. Apakah itu makan siang untuknya?" Tanya Sam saat matanya menangkap sebuah nampan yang di bawa oleh perawat itu.


"Iya, tuan." Jawab perawat itu hati-hati.


"Serahkan saja padaku. Kau boleh istirahat." Ucap Sam yang mendapat anggukkan kepala dari perawat tersebut. Kemudian perawat itu pun menyerahkan nampan tersebut kepada Sam, setelah menerima nampan itu, Sam pun kembali melangkahkan kedua kakinya menuju salah satu kamar dimana seoarang gadis cantik berada.


***

__ADS_1


Perlahan Sam membuka pintu kamar itu, lalu ia pun segera masuk dan menutup kembali pintu kamar tersebut. Sam berjalan menuju ranjang, disana seorang perempuan cantik sedang menatap kedatangan dirinya yang selalu saja mengagetkan perempuan cantik itu.


"Bagaimana keadaan anda, nona? Apakah sudah lebih baik?" Tanya Sam kepada perempuan cantik itu yang selama ini ia jaga atas perintah bosnya. Ah lebih tepatnya, atas perintah istri bosnya.


Perempuan cantik hanya mengangguk tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Sam yang terlihat dingin itu.


"Syukurlah. Saya bawakan anda makanan, silahkan anda makan dulu, setelah ini saya akan membawa anda pulang ke tempat anda." Ucap Sam sembari menaruh nampan yang berisikan makanan untuk gadis cantik itu.


"Terima kasih." Sahut gadis itu yang tak lain adalah Sindy, sahabat Elena.


Sam mengangguk pelan, lalu ia pun membuka mulutnya dan berkata. "Kalau begitu, saya permisi dulu."


"Kenapa dia mau merawatku? Bukankah dia tahu kalau aku telah mengkhianati Elena? Apakah dia sengaja merawatku, lalu kemudian dia akan membunuhku seperti sikopet yang dulu aku pernah tonton? Ah dengan membayangkannya saja, sudah membuat bulu kudukku meremang." Sindy berucap sambil menatap kepergian Sam. Ia benar-benar tidak tahu jika Sam merawat dirinya atas perintah Elena, selaku istri dari tuan dinginnya, Dav.


"Daripada aku membayangkan hal yang sangat menyeramkan, sebaiknya aku makan dulu, nanti baru aku pikirkan cara untuk keluar dan lari dari laki-laki dingin itu." Sindy kembali berucap sembari meraih nampan yang tadi di taruh oleh Sam di atas meja kecil khusus samping tempat tidurnya.


Perlahan, Sindy mulai menyantap makanan itu dengan lahap, kini yang ia pikirkan hanyalah isi perutnya saja yang sedari tadi sudah keroncongan.

__ADS_1


***


Waktu menunjukkan pukul 16.00 wib. Elena mulai membuka kedua bola matanya secara perlahan, tatapan matanya langsung tertuju pada sosok laki-laki tampan yang tengah tersenyum kepada dirinya.


"Istriku sudah bangun hmm." Ucap laki-laki tampan itu yang tak lain adalah Dav, suami Elena.


"Emm. Jam berapa sekarang?" Tanya Elena sembari bangun dan duduk menyandarkan kepalanya ke kepala ranjang.


"Jam empat sore, sayang." Jawab Dav setelah memmberikan kecupan mesranya di kening sang istri.


"Astaga.... Kenapa kamu tidak membangunkan aku? Aku belum menyiapkan makan siang untukmu, kamu pasti belum makankan?" Seru Elena yang mendapat kekehan pelan dari suaminya.


"Sayang, kamu tidak perlu khawatir, kamu istirahat aja, ya. Kita baru saja tiba, aku tidak akan membiarkanmu kecapean. Lagian, si bibi sudah menyiapkan makan sore untuk kita berdua." Ucap Dav sembari mengusap lembut wajah cantik istrinya.


"Hmm baiklah, kalau begitu mari kita turun, sepertinya cacing di perutku sudah mulai demo." Seru Elena sambil terkekeh pelan membuat sang suami gemas.


"Iya, sayang. Cuci muka dulu gih, aku tungguin kamu disini, ok." Ucap Dav selalu menyertakan kecupan manisnya di kening sang istri.

__ADS_1


Elena hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan, lalu setelah itu, Elena pun mulai turun dari ranjangnya dan melangkahkan kedua kakinya menuju kamar mandi.


Bersambung.


__ADS_2