Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Alex adalah Deon


__ADS_3

Dav dan juga Elena sudah berada di kursi meja makannya. Keduanya tengah menikmati sarapannya masing-masing tanpa ada yang mengeluarkan suaranya.


"Sayang, aku berangkat dulu ya. Kamu baik-baik di rumah tunggu aku pulang." Ucap Dah setelah ia menyelesaikan sarapannya.


Elena tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan. "Kamu tenang saja sayang, aku tidak akan kemana-mana kok. Lagian hari ini aku sudah mulai kuliah online." Jawab Elena dengan lembut. "Apa kamu lembur hari ini?" Tanya Elena sambil menatap lekat wajah suaminya.


Dav menghela nafsunya panjang, ia mencium kening istrinya kemudian berkata. "Sepertinya lembur sayang, mungkin aku akan pulang pukul delapan malam."


"Oh baiklah sayang, kalau begitu kamu hati-hati ya di jalan. Bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut, mengerti."


"Mengerti sayang." Dav kembali memberikan kecupannya di kening sang istri, lalu mengecup singkat bibir manis istrinya tak lupa ia juga mengelus lembut wajah sang istri. "Ya sudah aku berangkat dulu ya sayang, kalau kamu kangen, kamu tinggal telepon aku aja. Mengerti." Ucap Dav sambil mengedipkan sebelah matanya nakal.


"Mengerti suamiku tersayang. Jawab Elena sambil mencubit gemas hidung mancung suaminya. Dav terkekeh pelan, lalu ia mulai melangkahkan kedua kakinya menuju parkiran mobilnya.


***


Perusahaan William's Group.


Hari ini adalah hari yang paling bahagia bagi Dav, ia melangkahkan kedua kakinya memasuki perusahaannya dengan senyuman yang terukir di bibirnya yang tipis.


"Selamat pagi pak." Sapa salah satu karyawannya yang berpapasan langsung dengannya.


"Hmm pagi." Jawab Dav datar tanpa menghentikan langkah kakinya.

__ADS_1


"Selamat pagi, pak." Sapa karyawan lainnya serempak.


"Pagi."


"Selamat pagi pak Dav." Tari menyapa bosnya dengan suara yang di buat semerdu mungkin.


"Pagi. Apa semua berkas yang aku minta kemarin sudah kamu siapkan?" Tanya Dah tanpa menatap lawan biaranya juga tanpa menghentikan langkah kakinya. "Kalau semuanya sudah siap, bawa ke tanganku." Perintahnya dingin.


"Baik, pak." Jawab Tari sambil berjalan mengikuti bosnya dari samping. "Biar saya bantu bawakan berkas-berkas anda pak." Ucap Tari menawarkan bantuan kepada bisnis itu ketika ia melihat sang bos membawa beberapa berkas di tangannya.


"Tidak perlu." Jawab Dav dingin sambil mempercepat langkah kakinya menuju lift khusus untuk dirinya.


Tari menghela nafasnya kasar, ia merasa sangat kecewa karena niat baiknya di tolak mentah-mentah oleh bosnya itu. "Dasar bos dingin," Batin Tari sambil menatap kepergian bosnya yang sudah masuk ke dalam lift.


Setelah beberapa menit, Para karyawan di hebohkan oleh kedatangan seorang laki-laki berpakaian serba hitam, juga memakai kacamata hitam. Laki-laki itu terlihat tampan namun juga dingin. Laki-laki itu berjalan melangkahkan kakinya menuju meja resepsionis.


"Katakan! Dimana ruangan tuan Dav berada." Ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Lucas.


"Mohon maaf, apakah tuan bisa memberitahukan identitas tuan kepada saya."


"Ck... merepotkan sekali." Batin Lucas yang tidak ingin basa-basi. "Lucas." Ucap Lucas singkat padat dan jelas.


"Baiklah tuan Lucas, saya akan menghubungi pak Dav terlebih dahulu, silakan anda menunggu di kursi sebelah sana." Ucap resepsionis itu ramah.

__ADS_1


"Tidak perlu, biar dia ikut denganku." Tiba-tiba saja Sam sudah berdiri di samping Lucas mengejutkan Lucas juga resepsionis tersebut karena kehadirannya yang tanpa suara. Resepsionis itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, ia kembali menaruh gagang telepon ke tempatnya. "Ikuti aku." Perintah Sam kepada Lucas. Lucas hanya mengangguk, kemudian ia pun segera melangkahkan kakinya mengikuti Sam.


***


Ruangan Dav.


"Jadi kau sudah mendapatkan informasi tentang Alex?" Tanya Dah ketika Lucas sudah berdiri di hadapannya.


"Benar, bos. Saat ini dia sudah berada di negara ini, bos akan terkejut jika tahu siapa Alex sebenarnya." Ucap Lucas membuat Dav mengerutkan kencingnya.


"Katakanlah! Jangan buat aku penasaran."


"Sebenarnya bos sangat mengenal Alex, bahkan bos juga sering bertemu dengannya dulu... "


"Sebutkan saja siapa orangnya, Lucas." Sela Dav tidak samaran ingin mengetahui identitas Alex yang sebenarnya.


"Dia adalah... Tuan Deon, bos. Deon Alexander." Ucap Lucas membuat Dav sedikit terkejut. Dav tidak menyangka jika Alex adalah Deon, laki-laki yang mencintai istrinya dulu.


"Apa kau tidak salah, Lucas?"


"Tidak, bos. Saya memiliki buktinya, silahkan anda lihat sendiri, bos." Ucap Lucas sambil menyerahkan ponselnya yang menyimpan banyak bukti tentang jati diri Alex yang sesungguhnya. Dav menghela nafasnya kasar, setelah ia memeriksa beberapa bukti yang ada di ponsel Lucas, ia pun percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Lucas barusan. Namun ia masih saja tidak menyangka jika Alex adalah Deon laki-laki yang terlihat lemah dan juga lembut.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2