Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Hukuman apa yang pantas


__ADS_3

setelah kepergian Sam, Dav pun melangkahkan kedua kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dav sudah tidak sabar ingin memberikan hukuman kepada istri kesayangannya itu.


Tiba di depan pintu kamar, Dav langsung meraih knop pintu tersebut, lalu membukanya dengan tidak sabaran. Kaki Dav mulai melangkah masuk, tak lupa ia juga menutup kembali pintu kamar itu, lalu menguncinya dari dalam. Dav kembali melangkahkan kedua kakinya menuju ranjang. Di sana sang istri ternyata sudah tertidur pulas membuat harapan Dav seketika musnah.


Dav menghela nafasnya, ia duduk di sisi ranjang, lalu membelai lembut wajah cantik sang istri.


"Dasar nakal, kamu bener-bener tidak memberiku jatah malam ini. Menyebalkan." Gumam Dav sambil menatap lekat wajah cantik sang istri. Meskipun hasratnya mulai naik, namun, ia tidak ingin mengganggu tidur lelap istri kesayangannya itu. Ia lebih memilih untuk mandi air dingin, dan menenangkan sesuatu di bawah sana.


Dav mendaratkan kecupan hangatnya di keing sang istri, kemudian ia tersenyum seraya berkata. "Malam ini aku akan melepaskanmu, sayang. Tapi, tidak dengan malam-malam selanjutnya." Ucapnya kembali mengelus lembut wajah cantik sang istri.


Setelah itu Dav pun beranjak dari tempatnya, lalu berjalan melangkahkan kedua kakinya menuju kamar mandi.


***


Keesokan harinya...

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Dav sudah duduk manis bersama istri kesayangannya di kursi meja makan. Pasangan suami istri itu sedang menikmati sarapan paginya dengan tenang, dan damai, namun sepertinya ada yang menarik perhatian Elena saat ia melihat raut wajah suaminya itu.


"Sayang, ada apa? Kenapa wajahmu di tekuk seperti itu?" Tanya Elena penasaran.


Dav seketika menatap istrinya, ia menghela nafasnya dengan kasar. "Ini semua gara-gara istriku yang tidak memberiku jatah semalam." Sahut Dav yang mendapat kekehan pelan dari Elena.


"Jahat sekali istrimu, sabar ya. Mungkin nanti malam kamu bisa mendapatkan jatah dari istrimu." Ucap Elena sambil mengusap pundak suaminya dengan lembut.


"Hmmm... Dia memang sangat jahat membiarkan aku mandi air dingin semalam. Sementara dia, malah tertidur dengan pulas. Istri seperti itu, pantasnya di beri hukuman seperti apa ya, sayang?" Ucap Dav seraya bertanya dengan tatapan matanya yang nakal.


"Sudahlah, sebaiknya kamu pikirkan baik-baik, hukuman apa yang pantas aku berikan kepadamu nanti malam. Mengerti." Ucap Dav sembari mencubit gemas hidung mancung sang istri.


"Ish, kok malah aku yang harus memikirkan hukuman darimu, sih? Nyebelin." Gerutu Elena membuat Dav tertawa pelan.


"Memang sudah seharusnya, baby. Oh iya pagi ini aku akan pergi bertemu dengan klien ku. Mungkin aku tidak bisa menemanimu melewati pemeriksaan nanti, tidak apa-apa kan sayang?"

__ADS_1


"Hmm tidak apa-apa, kok. Lagian pemeriksaannya juga di sini kan. Oh iya nanti pulang sekalian bawain aku rujak mang Udin yang ujung jalan, ya. Terus bebek panggang, sama ayam bakarnya juga jangan lupa ya, sayang." Ucap Elena dengan kedua bola mata yang berbinar saat ia membayangkan bebek panggang, serta ayam bakar berada di atas meja makan itu.


"Baiklah, sayang. Nanti aku pasti akan bawakan semua pesananmu itu. Ada lagi, baby?" Tanya Dav seraya mengelus wajah cantik sang istri dengan lembut.


"Itu saja, sayang." Sahut Elena sambil memperlihatkan senyumannya yang manis.


"Baiklah, sekarang habiskan dulu sarapanmu, ya. Mungkin dokter pribadi kita akan tiba pukul sembilan nanti. Dan sepertinya aku harus segera berangkat sekarang. Tidak apa-apa kan aku tinggal duluan?" Tanya Dav yang mendapat gelengan kepala dari istri kesayangannya itu.


Dav tersenyum, ia pun mulai beranjak dari kursinya, lalu memberikan kecupan hangat dan penuh kasih sayang di kening sang istri. "Aku berangkat dulu ya, sayang. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku, mengerti." Ucap Dav selalu dengan nada suaranya yang lembut dan halus.


"Mengerti, sayang. Yasudah, kamu hati-hati ya di jalan, bilang sama unle Sam, kalau mobil jangan ngebut-ngebut, tidak baik untuk keselamatan."


"Iya, sayang. Kamu tenang saja ya. Yasudah aku pergi dulu, baby. Jaga dirimu baik-baik." Dav kembali berpamitan kepada Elena, ia juga kembali mendaratkan kecupan hangatnya di kening sang istri. Elena hanya mengangguk pelan seraya memperlihatkan senyumannya yang manis, setelah itu Dav pun langsung bergegas melangkahkan kedua kakinya meninggalkan sang istri yang kini kembali menyantap sarapan paginya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2