Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Calon suamimu


__ADS_3

Dav melajukan kendaraannya dengan sangat cepat, ia tidak memperdulikan Elena yang terlihat begitu ketakutan. Dav sangat marah, cemburu dan juga kesal karena Elenanya terang_terangan mengkhawatirkan laki_laki lain.


"Uncle, aku tidak mau mati."Teriak Elena ketika Dav semkain menambah kecepatannya. Dav sama sekali tidak memperdulikan teriakan Elena, Dav semakin melajukan kendaraannya dengan sangat cepat, ia ingin segera tiba di mansionnya dan memberikan hukuman untuk gadis pembangkang itu.


"Aku masih ingin hidup, kalau uncle mau mati, mati sendiri aja, jangan bawa_bawa aku."Elena kembali berteriak ketika Dav sama sekali tidak memeprdulikan teriakannya.


Dav seketika menginjak pedal remnya. Jantung Elena serasa ingin pisah dari tubuhnya, Elena begitu terkejut, ia langsung menatap tajam Dav yang masih menatap lurus ke depan tanpa expresi. "Uncle sudah gila, ya? Kenapa uncle ngerem mendadak sih? Bagaimana kalau jantungku copot? Apa uncle mau tanggung jawab hah?" Oceh Elena seketika membuat Dav menatap ke arahnya dengan expresi yang sulit di artikan. "Uncle, jangan becanda dengan nyawa orang, apalagi nyawaku. Itu gak lucu tau, gak."Geram Elena marah, namun terlihat begitu menggemaskan di mata si mafia bucin itu.


Dav mencubit hidung mancung Elena gemas, ntah mengapa amarah dalam dirinya sedikit reda ketika mendengan ocehan gadis cantik yang ada di sampingnya itu.


"Jangan cubit_cubit deh. Aku kesel sama uncle, uncle sudah menggagalkan semuanya, bahkan uncle sudah mengambil ciuman pertamaku. Uncle jahat, uncle nyebelin, uncle ngeselin. Uncle selalu mengekangku, uncle selalu menghalangi setiap laki_laki yang ingin mendekatiku, uncle....."

__ADS_1


Dav langsung mengecup singkat bibir cerewet itu, ia sudah sangat gemas melihat bibir itu terus menerus mengoceh hal yang menurutnya sangatlah tidak penting "Sudah selesai mengocehnya?"Tanya Dav lembut tanpa rasa bersalah.


"Apa yang uncle lakukan...."Teriak Elena seketika mengusap bibirnya. Elena sangat terkejut, ia menatap Dav yang terkekeh pelan mendengar teriakan dirinya. "Uncle! Jangan seperti ini, ya. Uncle adalah uncle ku, uncle juga kekasih kak Alisha, aku tidak ingin membuat kak Alisha salah paham. "Elena berusaha untuk meredam amarahnya, ia mencoba untuk berbicara lembut kepada Dav yang sudah ia claim sebagai unclenya sendiri.


Dav mengusap pucuk kepala Elena, lalu tersenyum."Elen, kamu selalu saja melupakan panggilanmu hmm." Ucap Dav masih dengan nada lembutnya meskipun hatinya sangat kesal karena Elenanya selalu saja memanggil dirinya dengan sebutan Uncle. "Satu lagi, aku bukan unclemu, Elen. Aku ini calon suamimu. Dan aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Alisha. Mengerti."Tegas Dav membuat Elena terkejut setengah mati.


Tentu saja Elena terkejut bukan karena Dav mengatakan bahwa dirinya sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan Alisha, tetapi melainkan Dav mengatakan dengan PDnya bahwa dirinya adalah calon suami Elena.


"Aku tidak sedang becanda Elen, aku serius dengan ucapanku." Tegas Dav membuat Elena menghela nafasnya kasar.


"Apa uncle gila? Aku tidak mau jadi istri uncle, usia kita beda jauh, uncle tidak cocok untuk jadi suamiku. Uncle hanya pantas untuk jadi suami kak Alisha."Elena menatap Dav, sungguh ini bukanlah hal yang Elena inginkan. "Uncle, aku tidak mencintai...."

__ADS_1


"Sebaiknya kita bahas di rumah."Dav langsung mengubah expresinya dingin. Ucapan Elena benar_benar membuat amarah dalam dirinya bangkit kembali. "Elen, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kau hanya milikku, selamanya kan menjadi milikku."Batin Dav sambil kembali melajukan kendaraannya.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?"Batin Elena sambil menatap lurus ke depan. "Uncle...."


"DIAM..."Bentak Dav seketika membuat Elena terdiam. "Aku sudah katakkan. Janga memanggilku dengan sebutan UNCLE, lagi. Apa kamu tidak mengerti?"Tegas Dav dengan menekankan kata UNCLE membuat Elena seketika meneguk salivanya kasar.


"Maaf.."lirih Elena seketika membuat Dav merasa bersalah karena sudah membentaknya.


"Jangan di ulangi, ya. Maaf aku sudah membentakmu."Ucap Dav lembut sambil mengusap pucuk kepala Elena.


"Dasar bunglon, cepet sekali berubahnya. Benar_benar menyebalkan."Gerutu Elena sambil mengercutkan bibirnya kesal.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2